RPH Surabaya Fokus Jasa Potong, Targetkan Sembelih 200 Sapi Kurban

- RPH Surabaya tahun ini hanya fokus pada jasa pemotongan hewan kurban tanpa menjual hewan, karena sedang dalam masa transisi menuju relokasi ke TUI Tambak Osowilangon pada 2026.
- Terdapat dua paket layanan pemotongan, yaitu Paket Potong Kemas Kirim seharga Rp2,8 juta dan Paket Potong Lepas Tulang Tanpa Kemas seharga Rp2 juta.
- Hingga awal Mei, sudah ada 110 pendaftar dengan target total 200 sapi disembelih; seluruh proses diawasi dokter hewan dan juru sembelih bersertifikat untuk menjaga standar ASUH.
Surabaya, IDN Times - Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Surabaya memastikan tidak menyediakan maupun menjual hewan kurban pada tahun ini. RPH memilih fokus pada layanan jasa pemotongan seiring proses transisi kepindahan operasional ke Tempat Usaha Industri (TUI) di Tambak Osowilangon yang dijadwalkan berlangsung akhir Mei 2026.
Direktur RPH Surabaya, Fajar Arifinto Isnugroho mengatakan, kebijakan tersebut diambil agar pelayanan tetap optimal selama masa persiapan relokasi. “Tahun ini kami fokus di jasa potong saja. Biar tidak terlalu merepotkan, kami juga persiapan pindah,” ujarnya di Surabaya, Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan, skema layanan pemotongan masih sama seperti tahun sebelumnya, dengan dua pilihan paket. Pertama, Paket Potong Kemas Kirim yang dibanderol Rp2,8 juta per ekor, naik dari sebelumnya Rp2,5 juta akibat kenaikan harga plastik. Kedua, Paket Potong Lepas Tulang Tanpa Kemas dengan tarif Rp2 juta, yang umumnya dipilih panitia kurban yang ingin mengolah dan mengemas daging secara mandiri.
"Kalau paket lengkap, setelah dipotong, daging langsung dicacah, dikemas, dan dikirim ke lokasi tujuan,” jelas Fajar.
Hingga awal Mei, tercatat sekitar 110 pengkurban telah mendaftar, berasal dari berbagai kalangan mulai dari masyarakat umum, organisasi masyarakat, masjid, hingga lembaga. RPH menargetkan total 200 ekor sapi dapat disembelih tahun ini, meningkat dari realisasi tahun lalu yang mencapai 190 ekor.
Dalam operasionalnya, RPH memastikan seluruh proses pemotongan diawasi oleh dokter hewan dan juru sembelih bersertifikat. Kapasitas pemotongan mencapai 10 ekor per jam, dengan pemeriksaan ketat pada bagian jeroan untuk memastikan tidak terkontaminasi penyakit.
"Jika ditemukan indikasi cacing atau yang membahayakan, akan kami musnahkan. Tapi seluruh bagian hewan tetap menjadi hak pengkurban, kecuali jika diikhlaskan,” tegasnya.
Fajar menambahkan, RPH berkomitmen menjaga standar pemotongan sesuai prinsip aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH), sehingga daging kurban yang dihasilkan tetap higienis dan layak konsumsi.


















