Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Puluhan Sekolah di Surabaya Direhab, Toilet Duduk Diperbanyak
Revitalisasi sekolah oleh Pemkot Surabaya. Dok. Dispendik Surabaya.
  • Dinas Pendidikan Surabaya mempercepat rehabilitasi puluhan sekolah negeri pada 2026, termasuk pembangunan enam gedung baru dan perbaikan atap bocor akibat cuaca ekstrem.
  • Pembenahan toilet menjadi prioritas dengan penambahan toilet duduk secara bertahap, sambil tetap menyediakan toilet jongkok agar siswa bisa beradaptasi nyaman.
  • Dispendik juga mendorong sekolah memanfaatkan hingga 20 persen dana BOS untuk perawatan ringan seperti perbaikan pintu, paving, dan fasilitas kecil tanpa menunggu bantuan dinas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya menggenjot perbaikan puluhan sekolah negeri pada 2026. Selain membangun enam gedung sekolah baru, Pemkot juga memprioritaskan rehabilitasi atap yang bocor hingga pembenahan toilet sekolah agar lebih bersih, sehat, dan ramah bagi siswa.

Kepala Bidang (Kabid) Sarana Prasarana Pendidikan Dispendik Surabaya, Awang Wirawan mengatakan, rehabilitasi difokuskan pada kerusakan yang muncul akibat cuaca ekstrem atau kemarau basah yang menyebabkan sejumlah bangunan sekolah mengalami kebocoran.

"Tahun ini selain pembangunan enam gedung sekolah baru, kami juga melaksanakan rehabilitasi puluhan sekolah. Fokus utama kami adalah memperbaiki atap-atap yang bocor dan talang air yang mengalami kerusakan," ujarnya, Kamis (25/6/2026).

Tak hanya memperbaiki bangunan, Dispendik juga menjadikan pembenahan toilet sebagai salah satu prioritas. Program ini bertujuan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih bersih dan nyaman, termasuk mulai mengganti sebagian toilet jongkok menjadi toilet duduk.

Namun, perubahan tersebut dilakukan secara bertahap. Awang bilang, hasil evaluasi bersama sekolah menunjukkan banyak siswa yang masih terbiasa menggunakan toilet jongkok sehingga seluruh fasilitas tidak bisa langsung diubah menjadi toilet duduk.

"Hasil komunikasi dengan sekolah, mereka mengusulkan tetap ada toilet jongkok karena sebagian siswa belum terbiasa menggunakan toilet duduk. Bahkan ada yang tetap jongkok di atas toilet duduk karena faktor kebiasaan," katanya.

Dispendik, lanjut Awang, memilih menyediakan dua jenis toilet sekaligus agar proses adaptasi berjalan tanpa mengurangi kenyamanan siswa. "Yang penting toiletnya bersih dan kering. Untuk mengubah kebiasaan memang tidak bisa instan, jadi kami tetap menyediakan toilet jongkok dan toilet duduk," katanya.

Selain rehabilitasi sedang yang dikerjakan melalui proyek fisik, Dispendik juga menangani kerusakan ringan secara swakelola melalui satuan tugas (satgas). Di saat yang sama, sekolah didorong memanfaatkan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk memperbaiki kerusakan kecil.

Awang menjelaskan, sekitar 20 persen dana BOS dapat digunakan untuk pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, seperti mengganti engsel pintu, memperbaiki paving yang rusak, atau kerusakan ringan lainnya tanpa harus menunggu penanganan dari dinas.

"Kami ingin sekolah juga berkolaborasi. Perbaikan-perbaikan kecil bisa memanfaatkan dana BOS sehingga tidak semuanya harus menunggu dari dinas," pungkasnya.

Editorial Team

Related Article