Profesor UIN Malang Berpendapat Pesantren Indonesia Harus Naik Level

- Penurunan jumlah santri di Indonesia disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, termasuk perubahan makna identitas pesantren dan perkembangan teknologi.
- Image pesantren tradisional terdampak oleh pesantren liar, namun solusi dapat ditemukan melalui prestasi santri, kualitas guru, dan sistem seleksi yang lebih baik.
- Pondok pesantren harus terbuka memperkenalkan kehidupan santri lewat media sosial untuk mengubah persepsi masyarakat dan menunjukkan kemajuan pendidikan formal di pesantren.
Malang, IDN Times - Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI) merilis data tren penurunan jumlah santri sejak 4 tahun terakhir. Ini jadi kekhawatiran karena pondok pesantren adalah lembaga pendidikan asli Indonesia yang tidak ada di negara-negara lain, sehingga eksistensinya harus dipertahankan. Profesor Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof Akhmad Nurul Kawakib memberikan pendapatnya terkait fenomena ini.
1. Prof Akhmad Nurul mengungkapkan ada 2 faktor penyebab penurunan jumlah santri di Indonesia

Prof Akhmad Nurul membeberkan jika ada 2 faktor penyebab penurunan jumlah santri di Indonesia, keduanya adalah faktor internal dan faktor eksternal. Untuk faktor internal, ia berpendapat kalau dulu orang-orang belajar di suatu pesantren karena ada figur kiai, atau figur keilmuan, atau figur petunjuk. Menurutnya figur kiai cadi contoh untuk ditiru mulai dari cara berpikir sampai cara memandang persoalan agama. Namun sekarang muncul fenomena baru bahwa ada pesantren yang didirikan oleh orang yang tidak memiliki latar belakang pesantren, tapi dari latar belakang pengusaha. Inilah yang menurutnya jadi penyebab pesantren itu kurang dari segi keilmuannya.
"Mereka mendirikan pesantren ini seperti waralaba, mereka punya uang dan membangun fasilitas dan gedung modern yang seperti hotel. Padahal dulu pesantren itu identik dengan kesederhanaan. Pesantren baru ini tidak bisa dijangkau semua kalangan karena biayanya sangat mahal, bisa sampai ratusan juta hanya untuk SPP atau uang gedungnya, padahal dulu cenderung gratis untuk semua orang," terangnya saat ditemui pada Jumat (6/2/2026).
Kalau berdasarkan teori identity, Ia melihat ada pergeseran makna identitas pesantren sehingga kini orang-orang berpikir kalau masuk pesantren itu mahal. Kemudian ia juga melihat munculnya fenomena saat pendiri pesantren yang memiliki keilmuan wafat, ternyata penggantinya tidak memiliki keilmuan yang selevel, sehingga terjadi pergeseran, karena minat orang pada figur kiai sebelumnya.
"Ini adalah rational choice, karena orang tua memilih lembaga pendidikan juga bagaimana pesantren itu mampu mempertahankan identitasnya sebagai lembaga pendidikan asli Indonesia, tidak ada di tempat lain," jelasnya.
Sementara dari faktor eksternal, ia melihat jika kini makin banyak alternatif untuk belajar agama sejak perkembangan teknologi. Kini pondok pesantren tidak jadi pilihan satu-satunya untuk belajar agama Islam, ia mencontohkan fenomena Rumah Tahfidz di Kota Malang. Rumah Tahfidz secara tradisi sebenarnya mirip pesantren, tapi mereka tidak menyebut dirinya sebagai pesantren.
"Sejarah pesantren itu didirikan oleh orang-orang yang yang memiliki keilmuan yang expert di situ. Sehingga orang datang untuk menimba ilmu di situ hingga menjadi pesantren. Setiap pesantren pasti memiliki kiai besar yang terkenal dan diakui keilmuannya, contohnya di Jombang ada KH Muhammad Hasyim Asy'ari yang ahli di bidang hadist, kalau di Kudus belajar ilmu Al-Quran. Kalau mau belajar fiqih di Lirboyo. Kemudian sekarang anak-anak bisa berjalan secara online lewat YouTube, misalnya pembelajaran Tahsin Al-Qur'an bisa secara online dan tidak perlu belajar di sistem berasrama. Sehingga ini jadi alternatif agar anak tidak perlu belajar di pesantren dan meninggalkan keluarganya," jelasnya.
Ia juga menyoroti jika dunia sekarang memasuki era disruption atau kekacauan, karena kinj sulit membedakan mana informasi yang benar dan tidak. Fenomena ini juga yang jadi faktor berkurangnya minat orang tua tidak mau anaknya belajar di pondok pesantren, karena banyak kabar bahwa pesantren tidak ramah pada anak. Karena banyak berita pesantren yang kurang baik seperti terjadinya perundungan sehingga orang tau khawatir memasukkan anaknya ke pesantren.
"Ini yang jadi image pesantren di dunia internet. Padahal setelah diselidiki, itu ternyata bukan pesantren, hanya orang tidak bertanggung jawab memanfaatkan nama pesantren. Era disruption ini memang seperti pisau bermata 2, ada informasi yang benar, ada yang tidak benar, ada yang benar tapi ditambah-tambahin, apalagi yang tidak suka sengan lembaga pendidikan agama Islam," ujarnya.
Ia juga mewanti-wanti agar pondok pesantren tidak lagi terlibat aktif dalam politik praktis 5 tahunan. Menurutnya pondok pesantren memang terlihat seksi bagi politisi yang ingin mengeruk suara, tapi satu sisi keterlibatan pondok pesantren jadi preseden buruk di mata masyarakat. "Kalau semua pesantren terlibat, maka waktunya akan tersita untuk politik praktis 5 tahunan itu. Bahkan kalau pilihannya berbeda, orang tua tidak mengirim ke pondok itu. Sehingga pondok pesantren harus menjaga value dengan tidak mengambil skala politik jangan pendek itu, meskipun memang politik itu menarik untuk mendapatkan kekuasaan," ujar alumni Pondok Pesantren Putra Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang dan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang ini.
2. Image pesantren tradisional terdampak pesantren-pesantren liar yang memiliki banyak masalah

Prof Akhmad Nurul menyoroti jika di media sosial banyak muncul video-video pesantren bermasalah hingga menyebabkan masyarakat mengeneralisir bahwa semua pondok pesantren itu bermasalah. Padahal setelah ditelusuri, pondok-pondok pesantren yang bermasalah ini ada pondok pesantren liar yang tidak memiliki tradisi kuat seperti pondok-pondok pesantren tradisional.
Menurutnya, ini terjadi karena dulu sangat mudah untuk mendirikan pondok pesantren tanpa proses verifikasi yang ketat. Tapi kini pemerintah mempersulit pendirian pondok pesantren, ijin harus turun langsung dari pusat. Menurutnya ini jadi solusi untuk mengurangi pondok-pondok pesantren liar yang memperburuk image pondok pesantren yang benar-benar mengedepankan ilmu.
"Sekarang mungkin yang bisa dilakukan oleh pesantren untuk memperbaiki citranya yaitu dengan menunjukkan prestasi santri-santrinya. Sehingga orang akan percaya kalau mondok di situ lulusannya bagus-bagus. Bisa ditunjukkan juga bahawa lulusan pesantren tidak hanya dibekali ilmu agama, tapi bisa jadi dokter juga. Sekarang kan ada beasiswa kedokteran bagi hafidz, di UIN Malang itu ada. Ini akan jadi modal sosial agar kepercayaan masyarakat kepada pondok pesantren dengan dibuktikan prestasi santri," tegasnya.
Ia juga menyarankan agar kualitas guru-guru di pesantren itu harus ditingkatkan. Menurutnya ini jadi kunci masalah suksesi suatu pondok pesantren jika pendirinya wafat. Masyarakat jadi tetap percaya menitipkan anaknya meskipun kepemimpinan pondok pesantren berganti.
"Pesantren itu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain. Contohnya sekarang kita lihat ada siswa yang berani sama guru-gurunya, ini kan menujukkan bahwa nilai keluhuran sudah hilangnya nilai keluhuran. Makanya di sinilah pesantren menjadi tempat habbitus atau prinsip tujuan hidup bagaimana etika untik mengagungkan ilmu dan menghormati ahli ilmu," jelas Sekretaris Prodi Magister PAI UIN Malang ini.
Ia juga menyoroti sistem seleksi di pondok pesantren, menurutnya beberapa pondok pesantren tradisional tidak menerapkan sistem seleksi calon santri sama sekali. Menurutnya, saat ini mindset masyarakat Indonesia memandang melihat anak-anak nakal pasti akan dimasukkan pondok pesantren. Ini menjadikan pondok pesantren dilihat sebagai lembaga pendidikan yang isinya anak-anak nakal yang tidak diterima di lembaga pendidikan lain.
"Ini kan sebuah penghinaan untuk pesantren, seharusnya kalau mau berprestasi, maka harus ada sistem seleksi. Minimal bisa tahu apakah dia punya motivasi, minimal kalau secara akademik tidak menonjol tapi memiliki motivasi, dia bisa berprestasi. Sehingga sekarang seharusnya pesantren mulai memberikan pendampingan dengan menyediakan psikolog sendiri. Agar tidak ada lagi kasus-kasus seperti bullying yang menyebabkan anak-anak trauma bertahun-tahun," tuturnya.
3. Pondok pesantren harus mulai terbuka memperkenalkan kehidupan santri lewat media sosial

Lebih lanjut, Prof Akhmad Nurul menyampaikan jika kini pondok pesantren harus mulai terbuka memperkenalkan bagaimana kehidupan santri ke masyarakat baik lewat media sosial atau corong media lainnya. Menurutnya, masyarakat saat ini mulai jauh dari pondok pesantren karena tidak mengenal bagaimana budaya keilmuan di pondok pesantren.
"Justru budaya diskusi di pesantren itu sangat bagus, ada bathsul masail atau membahas fenomena hukum sekarang dengan merujuk pada kitab. Mereka biasa berbeda pendapat, justru pesantren adalah tempatnya khazanah keilmuan yang tidak dimiliki di tempat lain," paparnya.
Ia juga menekankan jika kini di pesantren sudah memiliki sekolah formal sendiri. Sehingga lulusan pesantren tidak hanya bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan agama saja, tapi juga lembaga pendidikan lain yang lebih tinggi.
"Sekarang ada formasi dokter dari pesantren, sehingga orang tua sekarang harus tahu bahwa lulusan pesantren bisa diterima di lembaga pendidikan manapun. Bahkan undang-undang sekarang menyebut secara efektif bahwa pesantren adalah bagian dari sistem pendidikan nasional. Bahkan Ma'had Aly sekarang sudah disetarakan dengan S1," pungkasnya.


















