Surabaya, IDN Times - Lonjakan harga tiket pesawat dalam sepekan terakhir mulai mengubah pilihan moda transportasi masyarakat di Jawa Timur (Jatim). Penumpang yang sebelumnya mengandalkan penerbangan kini beralih ke bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), terutama layanan kelas eksekutif, karena dinilai jauh lebih terjangkau.
Peralihan itu langsung berdampak pada peningkatan jumlah penumpang bus. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organisasi Angkutan Darat (Organda) Jatim mencatat okupansi bus kelas eksekutif melonjak hingga 40 - 50 persen sejak harga tiket pesawat naik.
Ketua DPD Organda Jatim, Firmansyah Mustafa mengatakan, lonjakan penumpang paling terasa pada trayek jarak jauh menuju Jakarta. "Sejak tarif pesawat naik, terjadi pergeseran penumpang ke moda transportasi darat. Untuk kelas eksekutif, kenaikan jumlah penumpang terasa signifikan," ujarnya, Minggu (14/6/2026).
Menurut Firmansyah, peningkatan penumpang terjadi pada sejumlah rute favorit seperti Jember - Jakarta, Malang - Jakarta, hingga Madura - Jakarta. Banyak calon penumpang pesawat memilih bus karena selisih harga dengan tiket pesawat semakin lebar, sementara layanan yang ditawarkan dinilai semakin kompetitif.
Saat ini, tarif bus eksekutif rute Surabaya - Jakarta berkisar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu. Dengan harga tersebut, penumpang sudah mendapatkan berbagai fasilitas seperti kursi yang lebih nyaman, makanan, hingga makanan ringan selama perjalanan.
"Dengan harga segini, penumpang sudah mendapatkan banyak fasilitas, termasuk makan dan snack," katanya.
Selain faktor harga, bus juga menjadi alternatif ketika masyarakat kesulitan mendapatkan tiket kereta api. Kemudahan pemesanan dan banyaknya pilihan jadwal membuat moda transportasi darat semakin diminati.
"Bus menjadi pilihan karena selain murah juga fleksibel dalam pemesanan tiketnya," jelas Firmansyah.
Meski begitu, perusahaan otobus belum sepenuhnya diuntungkan. Firmansyah mengungkapkan operator bus saat ini juga menghadapi tekanan akibat naiknya biaya operasional, terutama harga oli, ban, dan suku cadang yang terdampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Kondisi tersebut memaksa sebagian perusahaan bus eksekutif mulai menyesuaikan tarif sekitar 10 persen untuk menjaga keberlangsungan operasional di tengah meningkatnya biaya perawatan armada.
