Surabaya, IDN Times - Perusahaan Operator KM Mutiara Sentosa II, PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) mengaku armadanya memiliki kelengkapan alat keselamatan penumpang seperti sekoci maupun Inflatable Liferaft (IRL). Alat-alat tersebut tak bisa digunakan karena terbakar saat kejadian, Minggu (2/8/2026).
Kepala Cabang PT ALP Surabaya, Ferdinan Pondang mengatakan, meski armadanya memiliki alat keselamatan, ia tak bisa menjelaskan detail seperti apa alat tersebut digunakan. Sebab, yang tahu pasti adalah narhkoda kapal. Sementara dirinya belum bertemu dengan nahkoda karena masih menjalani pemeriksaan.
"Alat keselamatan ada di kapal, cuma kalau untuk penanganannya mungkin Nahkoda yang bisa menjelaskan," ungkap dia.
Berdasarkan keterangan anak buah kapal (ABK) yang selamat, api melahap bagian belakang kapal. Nahkoda mengarahkan seluruh penumpang ke bagian depan.
"Jalur evakuasinya yang dialokasikan sama Nahkoda itu ke haluan, karena api ini dari buritan," ungkap dia.
Sementara itu, alat penyemalat seperti sekoci dan ILR berada di bagian belakang. Sehingga, alat tersebut tak bisa digunakan karena terbakar.
"Ya, tadi disampaikan sama teman-teman kru, itu api berasal dari belakang. Sedangkan alat penyelamat itu semua di belakang posisinya. Sekoci, ILR, semuanya di belakang," jelas dia.
Nahkoda meminta seluruh penumpang agar segera mengenakan pelampung. Satu persatu dari mereka kemudian diminta melompat ke laut untuk menghindari kobaran api.
"Jadi nakhoda katanya menyampaikan itu penumpang dialokasikan ke haluan semua untuk lompat pada saat kapal semua mulai terbakar," jelasnya. Terkait alarm kebakaran yang diduga tak berfungsi saat kebakaran, pihaknya masih belum bisa memastikan. Hal ini menunggu keterangan nahkoda.
"Kalau itu alarm fungsi, cuma saya belum tahu kan info dari Nahkoda kan apa itu diaktifkan atau tidak kan saya belum dapat info," ucapnya
Ferdinan juga memastikan bahwa kapal tersebut laik layar. Kapal terakhir melakukan ram chek pada Juni 2026 lalu. "(Ram chek terkahir) Juni 2026," pungkas dia.
KM Mutiara Sentosa II yang melayani rute Surabaya–Makassar terbakar di perairan utara Kabupaten Sumenep pada Ahad (2/8/2026). Berdasarkan data terbaru Basarnas, sebanyak 238 penumpang berhasil dievakuasi, dengan lima orang dinyatakan meninggal dunia.
