Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pedagang di Magetan Mengeluh Harga Melonjak Daya Beli Lesu

Pedagang di Magetan Mengeluh Harga Melonjak Daya Beli Lesu
Kondisi pasar sayur di Kabupaten Magetan yang sepi dari aktivitas jual beli. IDN Times/ Riyanto.
Share Article

Magetan, IDN Times – Suasana Pasar Sayur Magetan makin lesu dalam beberapa waktu terakhir. Para pedagang mengeluhkan sepinya pembeli yang terus menurun, diperparah oleh kenaikan harga kebutuhan pokok yang signifikan dalam seminggu terakhir. Situasi ini membuat daya beli masyarakat semakin merosot, dan aktivitas jual beli seakan mati suri.

1. Petani beralih ke tanaman lain

Ilustrasi pasar tradisional. IDN Times/ Riyanto.
Ilustrasi pasar tradisional. IDN Times/ Riyanto.

Pantauan di pasar menunjukkan kenaikan tajam pada sejumlah bahan pokok. Harga cabai rawit yang sebelumnya Rp30 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp35 ribu, bawang merah dari Rp15 ribu menjadi Rp35 ribu, dan bawang putih naik dari Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram. Tomat, kentang, dan sayuran lain juga mengalami kenaikan serupa.

Menurut Suti, salah satu pedagang di pasar, kenaikan harga ini disebabkan rendahnya harga komoditas sebelumnya, yang membuat para petani enggan menanam kembali. "Kemarin-kemarin harga murah, jadi petani malas menanam lagi. Permintaan jadi banyak, tapi produksi sedikit," ujarnya, Rabu (13/11/2024).

Suti juga menjelaskan bahwa petani tomat sempat merugi ketika harga anjlok di kisaran Rp1000 per kilogram. Mereka pun memilih mencabut tanaman dan beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan. Setelah itu, harga tomat melonjak hingga Rp15 ribu per kilogram, dan komoditas lain ikutan naik seperti bawang merah juga mengalami lonjakan drastis.

2. Harga naik, daya beli masyarakat turun

Kondisi pasar sayur di Kabupaten Magetan yang sepi dari aktivitas jual beli. IDN Times/ Riyanto.
Kondisi pasar sayur di Kabupaten Magetan yang sepi dari aktivitas jual beli. IDN Times/ Riyanto.

Saat ditanya soal dampak kenaikan harga, Suti mengungkapkan bahwa kondisi pasar semakin parah. Pasar yang sudah sepi menjadi semakin sunyi karena daya beli masyarakat menurun. 

"Dulu harga mahal tetap dicari, sekarang harga mahal malah membuat pembeli makin sepi. Paling hanya satu-dua orang yang beli," jelasnya.

Suti menggambarkan suasana pasar seperti ramalan pujangga Ronggowarsito, "Kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange," yang artinya sungai kehilangan kedalamannya, pasar kehilangan gairahnya. Pasar yang dulu ramai kini tak lagi dipenuhi hiruk-pikuk pembeli.

3. Belum ada solusi dari pemerintah

Kondisi pasar sayur di Kabupaten Magetan yang sepi dari aktivitas jual beli. IDN Times/ Riyanto.
Kondisi pasar sayur di Kabupaten Magetan yang sepi dari aktivitas jual beli. IDN Times/ Riyanto.

Sepinya aktivitas jual beli di pasar-pasar tradisional sebenarnya sudah berlangsung sejak pandemi COVID-19 tiga tahun lalu. Setiap tahun, jumlah pembeli semakin menurun, membuat pasar tak lagi menjadi pusat transaksi kebutuhan pokok.

"Sepi sekali, sampai siang masih banyak pedagang yang belum dapat pemasukan sama sekali," keluh Suti. Ia juga menyebutkan bahwa beberapa calon kepala daerah sudah berkunjung ke pasar, menawarkan program, namun hingga kini belum ada tindakan nyata yang dirasakan para pedagang.

Para pedagang di Pasar Sayur Magetan kini hanya bisa berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk mengembalikan kemeriahan pasar seperti dulu, sehingga mereka bisa kembali berjualan dengan nyaman dan mendapatkan penghasilan yang layak.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Riyanto
EditorRiyanto

Latest News Jawa Timur

See More

5 Jemaah Haji Debarkasi Surabaya Wafat, 12 Lainnya Tertunda Pulang

14 Jun 2026, 23:39 WIBNews