Neraca Dagang Luar Negeri Jatim Defisit Rp1,24 M, Ada Apa?

- Neraca perdagangan luar negeri Jawa Timur triwulan I 2026 defisit US$1,24 miliar karena impor mencapai US$7,32 miliar, melampaui ekspor senilai US$6,07 miliar.
- Ekspor Jatim turun 1 persen akibat penurunan migas dan nonmigas, meski komoditas lemak serta minyak nabati tumbuh 17,64 persen dan menopang kinerja ekspor.
- Impor naik 4,62 persen dengan lonjakan besar pada perhiasan dan permata hingga 232,70 persen; Tiongkok tetap jadi mitra dagang utama untuk ekspor dan impor.
Surabaya, IDN Times - Neraca perdagangan luar negeri Jawa Timur (Jatim) pada triwulan pertama 2026 tercatat mengalami defisit cukup dalam. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukkan, periode Januari - Maret 2026 mencatat defisit sebesar US$1,24 miliar akibat nilai impor yang melampaui ekspor.
Statistisi Ahli Madya BPS Jatim Debora Sulistya Rini, mengatakan sepanjang periode tersebut total impor Jatim mencapai US$7,32 miliar, sementara ekspor hanya sebesar US$6,07 miliar. Kondisi ini membuat neraca perdagangan tertekan di seluruh sektor.
"Defisit terjadi baik di sektor migas maupun nonmigas. Untuk migas defisitnya sebesar US$849,84 juta, sedangkan nonmigas mencapai US$394,30 juta,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Dari sisi ekspor, kinerja Jatim mengalami kontraksi tipis sebesar 1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi melemahnya ekspor nonmigas sebesar 0,75 persen dan penurunan signifikan ekspor migas hingga 10,96 persen.
Meski demikian, beberapa komoditas masih menunjukkan kinerja positif. Ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati tercatat tumbuh 17,64 persen dan menjadi salah satu penopang utama. Sebaliknya, komoditas perhiasan dan permata mengalami penurunan terdalam hingga 11,60 persen, diikuti produk kayu yang juga melemah.
Secara sektoral, ekspor Jatim masih didominasi industri pengolahan dengan kontribusi mencapai 93,96 persen dari total ekspor nonmigas atau senilai US$5,71 miliar. Sementara itu, sektor pertanian dan pertambangan justru mengalami penurunan tajam masing-masing sebesar 33,35 persen dan 24,96 persen.
Di sisi lain, lonjakan impor menjadi faktor utama pelebaran defisit. Nilai impor tercatat tumbuh 4,62 persen dibandingkan tahun lalu, dengan kenaikan signifikan pada impor nonmigas sebesar 12,79 persen. Komoditas perhiasan dan permata menjadi salah satu penyumbang terbesar, dengan lonjakan hingga 232,70 persen.
Debora menjelaskan, struktur perdagangan ini menunjukkan ketergantungan Jatim terhadap bahan baku dan barang modal impor masih cukup tinggi. Hal ini juga diperkuat dengan dominasi Tiongkok sebagai mitra dagang utama.
"Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor sekaligus sumber impor terbesar. Untuk ekspor nonmigas kontribusinya 16,48 persen, sementara impor mencapai 36,27 persen,” jelasnya.
Debora menambahkan, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri di tengah tekanan ekonomi global yang memengaruhi kinerja ekspor. Ke depan, penguatan industri berbasis ekspor serta diversifikasi pasar dinilai menjadi langkah strategis untuk menekan defisit perdagangan.
"Perlu upaya untuk memperkuat daya saing ekspor dan mengurangi ketergantungan pada impor agar neraca perdagangan bisa lebih seimbang,” pungkasnya.


















