Harga Telur di Jatim Malah Boncos usai Lebaran, Ini Faktornya!

- Harga telur ayam ras di Jawa Timur turun menjadi rata-rata Rp26.273 per kilogram akibat kelebihan pasokan dan melemahnya permintaan setelah Lebaran.
- Penurunan permintaan diperparah oleh liburnya program Makan Bergizi Gratis serta tradisi bulan Selo yang membuat hajatan masyarakat berkurang.
- Peternak di sentra produksi seperti Blitar mengalami penumpukan stok hingga ratusan ton, dengan harga jual di kandang turun ke kisaran Rp21.500–Rp22.500 per kilogram.
Surabaya, IDN Times - Harga telur ayam ras di Jawa Timur (Jatim) terpantau mengalami penurunan. Kondisi ini dipicu oleh kelebihan pasokan di tingkat peternak yang tidak diimbangi dengan permintaan pasar, terutama setelah momentum Lebaran.
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim per Selasa (5/5/2026), rata-rata harga telur ayam ras di Jatim berada di angka Rp26.273 per kilogram. Harga tertinggi tercatat di Kabupaten Bangkalan sebesar Rp28.000, sedangkan terendah di Kabupaten Jember Rp24.800 per kilogram.
Ketua Asosiasi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN), Rofi Yasifun mengatakan, penurunan harga tidak lepas dari melemahnya daya serap pasar pasca Lebaran. Produksi telur yang tetap tinggi tidak diimbangi dengan permintaan, sehingga menyebabkan penumpukan stok di kandang peternak.
“Terjadi penumpukan stok sejak libur Lebaran. Apalagi saat itu juga bertepatan dengan liburnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga serapan berkurang drastis,” ujarnya.
Selain itu, faktor musiman juga turut memengaruhi. Saat ini masyarakat Jawa memasuki bulan Selo, yang secara tradisional dianggap kurang baik untuk menggelar hajatan atau acara besar. Kondisi ini berdampak langsung pada konsumsi telur yang biasanya meningkat saat ada kegiatan masyarakat.
“Di bulan Selo, hajatan cenderung sepi. Ini sangat berpengaruh terhadap permintaan telur,” jelasnya.
Kelebihan pasokan terlihat jelas di sejumlah sentra produksi, salah satunya di Blitar. Di wilayah tersebut, peternak skala besar dilaporkan mengalami penumpukan stok hingga ratusan ton. “Di Blitar, peternak besar bisa menumpuk hingga 300 ton telur di kandang masing-masing,” ungkap Rofi.
Di sisi lain, harga di tingkat peternak juga mengalami tekanan. Saat ini harga telur di kandang berkisar antara Rp21.500 hingga Rp22.500 per kilogram. Peternak kecil bahkan terpaksa menjual di harga terendah untuk menjaga perputaran modal usaha.
“Yang melepas di harga Rp21.500 biasanya peternak kecil. Dalam kondisi seperti ini, bisa bertahan saja sudah cukup baik,” katanya.
Rofi menambahkan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama ini berperan penting dalam menjaga stabilitas pasar telur. Program tersebut mampu menyerap produksi dalam jumlah besar sehingga membantu menyeimbangkan pasokan dan permintaan.
“Ketika program MBG libur, dampaknya langsung terasa. Stok menumpuk dan harga turun,” bebernya. Melihat kondisi ini, para peternak berharap adanya intervensi pemerintah untuk menstabilkan harga.


















