Surabaya, IDN Times - Pagi itu, Jumat (24/4/2026) menjadi salah satu hari yang membahagiakan bagi Mislicha (85). Perempuan yang sehari-hari bergelut dengan cilok, gerobak dan dandang itu, kini telah berpakaian seragam haji lengkap dengan id card dan kartu nusuk.
Raut wajahnya sumringah kala memasuki area Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Pasalnya, penantian selama 16 tahun untuk menunaikan Rukun Islam kelima sudah di depan mata.
Warga asal Pasuruan ini, dengan sabar menabung sejak tahun 2010. Meski hanya berpenghasilan Rp50 ribu sehari dari menjual cilok, Mislicha punya keinginan yang basar untuk bisa berhaji.
"Jualan cilok di SMP 5 jalan Trunojoyo setiap hari. jam 1 siang pulang, mulai jam 8. Sehari dapat Rp50 ribu jualan cilok, kalau ramai, sekarang sepi," ungkap dia.
Tahun 2017 lalu, keinginannya untuk berhaji semakin besar. Ia pun bertekad mendaftar haji. Pelan-pelan uang hasil menjual cilok ia tabung.
"Saya jualan cilok, sedikit sedikit nabung, arisan seminggu Rp80 ribu. kalau ga nabung ga bisa, karena pengeluarannya banyak, nabung dikir Rp10-15 ribu" ungkap dia.
Setelah 9 tahun menunggu, Mislicha akhirnya berangkat ke Tanah Suci hari ini. Ia tergabung dengan kelompok terbang (kloter) 10 Embarkasi Surabaya.
"Senang perasaannya, menunggu 9 tahun. nabungnya sebulan, kalau ada uang lebih disisihkan," terang dia.
Sesampainya di Tanah Suci nanti, ia ingin berdoa agar dirinya sehat, semua anak-anaknya juga sehat. "Doanya sehat anak, anak saya delapan meninggal dua. Saya berangkat sama anak saya yang terkahir, saya sendirian daftanya," pungkas dia.
