Momen Lebaran, Mojokero Pasuruan, Lamongan Terendam Banjir

- Tiga kabupaten di Jawa Timur, yaitu Mojokerto, Pasuruan, dan Lamongan, mengalami banjir saat Lebaran akibat curah hujan tinggi dan jebolnya tanggul sungai.
- Di Mojokerto, 510 warga Desa Tinggarbuntut harus mengungsi karena rumah mereka terendam hingga 50 cm setelah tanggul Sungai Sadar jebol.
- Lamongan menjadi wilayah terdampak terluas dengan enam kecamatan tergenang sejak Desember 2025; BPBD masih mengoperasikan pompa air dan perahu fiber untuk membantu warga.
Surabaya, IDN Times – Lebaran seharusnya menjadi waktu untuk merayakan kemenangan, tetapi sejumlah Kabupaten di Jawa Timur harus bergelut dengan genangan air dan lumpur, Sabtu (21/3/2026). Setidaknya ada tiga Kabupaten di Jatim yang harus merayakan Idulfitri dengan banjir, yakni Kabupaten Mojokerto, Pasuruan dan Lamongan.
Kabid Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno mengatakan, kondisi banjir terparah terjadi di Kabupaten Mojokerto. Akibat jebolnya tanggul Sungai Sadar pada Jumat (20/3/2026) sore, sebanyak 510 jiwa di Desa Tinggarbuntut, Kecamatan Bangsal, terpaksa mengungsi ke balai desa dan bantaran jalan karena rumah mereka terendam air hingga ketinggian 50 cm.
"Tiga Kecamatan yang terdampak yakni Desa Tinggarbuntut, Kecamatan Bangsal dan Desa Jotangan, Kecamatan Mojosari dan Desa Jumeneng Kecamatan Mojoanyar," ungkap dia.
Kemudian di Kabupaten Pasuruan, banjir terjadi karena hujan dengan intensitas tinggi pada Jumat (20/3/2026) sore memicu peningkatan volume air secara cepat, sementara drainase yang ada belum mampu mengalirkan air secara optimal. Akibatnya, terjadi genangan air di beberapa titik lokasi.
"Wilayah yang terdampak Kecamatan Winongan, Kecamatan Grati, Kecamatan Kraton dan Kecamatan Pohtjentrek, sekarang sudah surut total, kondisi genangan air saat ini diwilayah Kecamatan Rejoso, tapi sudah mengalami penurunan secara perlahan," jelas dia.
Kemudian di Kabupaten Lamongan, setidaknya ada 6 Kecamatan dengan 34 Desa terendam banjir. Enam kecamatan tersebut yakni Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Deket, Glagah, dan Karanggeneng.
"Yang terdampak, 1.447 unit rumah, 12 tempat ibadah, 48 unit sekolah, 2 kantor desa, 2 fasilitas kesehatan dan 20 hektar sawah," tuturnya.
Banjir di Lamongan terjadi sejak Selasa (16/12/2025), atau empat bulan lalu karena curah hujan yang tinggi dan ditambah air kiriman dari Waduk Gondang yang menyebabkan debit air Sungai Bengawan Jero mengalami kenaikan.
Banjir di Lamongan pun ditetapkan sebagai stasiun tanggap bencana hidrometeorologi. Penerapan ini berdasarkan keputusan Bupati Lamongan Nomor 100.3.3.2/123/KPTS/413.013/2026.
BPBD telah berupaya untuk menangani banjir di Lamongan. Personil BPBD Provinsi Jatim dan BPBD Kabupaten Lamongan melanjutkankan pemantauan ketinggian genangan air melalui EWS Banjir dan Peil Blawi di Sungai Bengawan Jero.
"13 unit pompa air di Kuro dan 2 unit pompa air di Melik dengan total volume 378.180 m³ hingga saat ini masih dioperasikan guna mempercepat mengurangi debit air," terang dia.
"BPBD Kabupaten Lamongan menerjunkan 2 unit perahu fiber di Ds. Bojoasri untuk mendukung mobilitas pelajar dan warga terdampak," pungkas Satriyo.

















