Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Tari Ikan Kutuk, Warisan Budaya dari Petirtaan Dewi Sri Magetqn
Susana ritual budaya tari kutuk di prosesi Bersih Desa di Petirtaan Dewi Sri, Desa Simbatan. IDN Times/Istimewa.
  • Tari Ikan Kutuk digelar setiap bulan Suro di Petirtaan Dewi Sri, Magetan, sebagai bagian dari ritual Bersih Desa yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Simbatan.
  • Petirtaan Dewi Sri diyakini peninggalan Mataram Kuno abad ke-10 dengan sumber mata air abadi dan ikan gabus sakral yang hanya boleh ditangkap saat prosesi adat berlangsung.
  • Pemerintah Kabupaten Magetan mengusulkan Tari Ikan Kutuk sebagai Warisan Budaya Takbenda nasional untuk menjaga kelestarian tradisi dan memperkuat identitas budaya lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Magetan, IDN Times – Di balik sejuknya lereng Gunung Lawu, tersimpan sebuah tradisi unik yang masih bertahan hingga kini. Tradisi tersebut adalah Tari Ikan Kutuk atau ikan gabus, ritual budaya yang menjadi bagian dari prosesi Bersih Desa di Petirtaan Dewi Sri, Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan.

Tradisi yang digelar setiap bulan Suro atau Muharam itu tak hanya menjadi daya tarik wisata budaya, tetapi juga menjadi bukti kuat bagaimana masyarakat menjaga warisan leluhur yang telah hidup selama berabad-abad.

1. Tari Ikan Kutuk hanya digelar saat bulan Suro

Susana ritual budaya tari kutuk di prosesi Bersih Desa di Petirtaan Dewi Sri, Desa Simbatan. IDN Times/Istimewa.

Tari Ikan Kutuk merupakan tradisi yang hanya bisa disaksikan setahun sekali, tepatnya saat pelaksanaan Bersih Desa Petirtaan Dewi Sri pada Jumat Pahing bulan Suro.

Prosesi diawali dengan menangkap ikan gabus atau ikan kutuk yang hidup di dalam petirtaan. Ikan tersebut kemudian diarak dan ditarikan dengan iringan gamelan serta waranggana sebagai bagian dari ritual adat masyarakat Simbatan.

Juru pelihara Petirtaan Dewi Sri, Sumiran, mengatakan tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur dan terus dijaga hingga sekarang.

"Walaupun dulu ada pandemi dan masyarakat tidak bisa berkumpul seperti biasanya, kegiatan bersih desa tetap dilaksanakan. Warga tidak berani meninggalkan tradisi ini karena sudah menjadi warisan leluhur," ujarnya usai acara, Jumat petang (19/6/2026).

2. Berasal dari situs peninggalan Mataram Kuno

Petirtaan Dewi Sri, Desa Simbatan. IDN Times/Istimewa.

Keunikan Tari Ikan Kutuk tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Petirtaan Dewi Sri yang menjadi lokasi pelaksanaannya. Situs ini diyakini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang dibangun sekitar abad ke-10 Masehi.

Petirtaan berdiri di atas sumber mata air alami yang hingga kini tidak pernah surut meski musim kemarau panjang. Bagi masyarakat setempat, keberadaan mata air tersebut menjadi sumber kehidupan sekaligus bagian penting dari sejarah desa.

Selain menyimpan nilai sejarah, masyarakat juga meyakini ikan gabus yang hidup di petirtaan memiliki nilai sakral sehingga tidak boleh ditangkap sembarangan di luar prosesi adat.

3. Diusulkan menjadi Warisan Budaya Takbenda nasional

Petirtaan Dewi Sri, Desa Simbatan. IDN Times/Istimewa.

Keunikan dan nilai budaya yang dimiliki tradisi Tari Ikan Kutuk kini mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Magetan. Tradisi Bersih Desa Petirtaan Dewi Sri tengah diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) tingkat nasional.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Magetan, Suwito, mengatakan pengakuan tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi agar tidak hilang tergerus zaman.

"Jangan sampai tradisi ini terputus. Nilai dan makna yang terkandung dalam kegiatan bersih desa harus terus disampaikan kepada generasi penerus," katanya.

Menurut Suwito, Petirtaan Dewi Sri juga menjadi simbol harmonisasi budaya di Magetan. Meski merupakan situs peninggalan Hindu, tradisi yang berkembang di dalamnya tetap dirawat bersama oleh masyarakat yang mayoritas beragama Islam.

Melalui Tari Ikan Kutuk, warga Simbatan bukan hanya melestarikan sebuah ritual adat, tetapi juga menjaga identitas budaya dan sejarah yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Editorial Team

Related Article