Sosok Umi Ida, atau Farida, teman masa kecil Na Willa (IDN Times/Thoriq Achmad D A)
Ketika IDN Times tiba di Jalan Krembangan Bhakti XI, Ketua RT, Nanang menyambut hangat dan mengantar bertemu nara sumber kunci yakni Umi Ida (66 tahun) sapaan akrab Farida. Tidak jauh dari rumah Nanang, kediaman Umi Ida berjarak sekitar 100 meter dari pintu masuk gang. Rumahnya juga unik, karena cukup besar dengan bangunan dan sofa yang serba merah muda.
Mengenakan pakaian yang juga serba merah muda, Umi Ida menceritakan momen ketika ia bertemu kembali dengan Reda pada 2023 silam. Cerita tersebut dipenuhi gelagat tawa, karena Umi Ida dan Reda tidak pernah bertemu lagi selama puluhan tahun. Perpisahan yang lumayan lama juga membuat Umi Ida sempat lupa dengan wajah Reda.
"Waktu Linda (nama kecil Reda Gaudiamo) datang ke sini, dia kaget, kok rumah ini masih ada, kok segede ini. Apa Farida masih ada apa nggak?" ujar Umi Ida menceritakan.
Umi Ida juga menjelaskan bahwa cerita-cerita yang ada di film Na Willa itu benar-benar ada. Salah satunya momen ketika Na Willa ikut Farida mengaji dan diam-diam mengambil kain yang dijemur Mbok untuk ikut Salat. Namun, rumah tersebut kini sudah berpindah pemilik, sebagaimana rumah Reda sendiri yang telah dihuni oleh pemilik kesekian sejak ia pindah.
Geng Krembangan yang terdiri dari Na Willa, Dul, Farida, dan Bud, juga sering bermain di halaman rumah Farida yang kini menjadi pelataran tempat kami berbincang dengan Umi Ida. Sebagaimana yang dijelaskan Umi Ida dan Nanang, dulu area ini adalah halaman yang luas, sebelum kemudian dibangun oleh paman dari Umi Ida yang merupakan pemuka agama di Tropodo Sidoarjo.
"Dulu aslinya ini rumah lama, di depannya ada pohon mangga, dan nggak seperti ini. Nah, ini dibangun oleh pamannya dia, namanya Gus Ali,” jelas Nanang.
Adegan ketika Dul yang tertabrak kereta ketika bermain di rel juga dikonfirmasi oleh Umi Ida. Karena kejadian itu, salah satu kaki Dul terpaksa untuk diamputasi. Dul sendiri memiliki nama lengkap Abdul Rasyid dan merupakan teman dekat Nanang sejak kecil.
"Rumahnya di situ,” ujar Nanang menunjukkan lokasinya tidak jauh dari kediamannya sekarang. "Kakinya (yang diamputasi) juga dikuburkan di gang kecil situ."
Ketika menceritakan tentang Dul, Nanang dan Umi Ida menjelaskan bahwa kaki Dul yang harus diamputasi tidak hanya hingga lutut, tetapi juga termasuk bagian paha. Mereka menjelaskan bahwa apa yang diceritakan di film berbeda dengan kisah asli kaki Dul tersebut.
Namun, Umi Ida mengaku ia lupa dengan sosok Bud yang juga turut mewarnai cerita-cerita Geng Krembangan yang jenaka. Meskipun demikian, ia juga menyampaikan barangkali ia akan bisa mengingat sosok Bud ketika melihat secara langsung, sebagaimana ia pertama kali bertemu Reda.
Setelah berbincang-bincang, kami dipandu Nanang untuk melihat-lihat lokasi yang menjadi latar cerita di film Na Willa. Nanang menunjukkan tangga di dekat gang yang langsung terhubung dengan rel kereta api. Ia juga mengajak kami mengunjungi TK Juwita, tempat sekolah Na Willa, dan bekas sekolah Farida di Jalan Krembangan Masigit.