Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kurangi Ngafe hingga Berburu Ceperan, Perjuangan Milennial untuk Mudik

Kurangi Ngafe hingga Berburu Ceperan, Perjuangan Milennial untuk Mudik
Suasana Bandar Juanda, Kamis (20/4/2023). IDN Times/Ardiansyah Fajar.
Share Article

Sidoarjo, IDN Times - Mudik lebaran Idul Fitri tahun ini lebih semarak dari dua tahun sebelumnya. Pasalnya, pemerintah sudah mengizinkan masyarakat untuk mudik setelah badai pandemik COVID-19. Meski sebenarnya saat ini COVID-19 masih mengintai.

Dua anak muda yang kerja di Surabaya Ade Resty Ramadhani (25) dan Ndaru Wijayanto (31) tak mau ketinggalan ikut mudik tahun ini. Ade mengaku mudik ke Berau, Kalimantan Timur. Sedangkan Ndaru ke Bone, Sulawesi Selatan.

Ade memilih untuk mudik memakai pesawat sendirian. Dia rela merogoh kocek dalam-dalam demi bisa menemui keluarganya di pulau seberang. "Lumayan ya, butuh biaya sekitar Rp4 jutaan untuk PP, belum lagi uang sangu buat oleh-oleh dan THR buat ponakan," ujarnya saat di Bandara Juanda, Kamis (20/4/2033).

Biaya sekitar Rp4 juta itu, kata Ade, diakuinya hanya untuk berangkat dan balik saja. "Karena kan  cuma transit dari Bandara Sepinggan Balikpapan, terus langsung ke Bandara Kalimarau Berau, jarak rumah dari bandara dari kota tidak terlalu jauh," bebernya.

"Cuman biaya ke bandara naik grab agak mahal ya tadi Rp60 ribu, terus pulang naik mobil bandara juga gak tahu juga harganya berapa. Mungkin habis Rp100 ribu lebih," Ade menambahkan.

Bagi Ade tak masalah jika harus mengeluarkan uang banyak demi bertemu keluarga. Karena dia sudah dua tahun ini tidak bisa pulang, lantaran terkendala corona. "Aku udah lupa ya semenjak pandemik kali ya sekitar 2 tahun lebih (belum pulang)," ungkapnya.

Ade sendiri mengumpulkan biaya mudik sudah jauh-jauh hari. Bahkan, sebelum Ramadan dia sudah harus menabung untuk bisa melepas rindu bersama keluarga di Kalimantan. Dia juga rela mengirit dengan membeli pakaian lebaran lebih sederhana.

"Sebelum Ramadan sudah ngumpulin buat nabung itu untuk pesan pulang dulu, pesan tiket sudah jauh jauh hari awal ramadan sudah pesan, biar gak keburu mahal dan habis tiket," katanya.

"Gaya hidup, seperti baju lebaran. Tahun ini gak beli jadi lebaran ya pakai baju lebaran tahun tahun lalu. Kurangi nongkrong di kafe itu juga aku kurangi. Kerja sambil ngumpulin ceperan juga," imbuh Ade.

Nantinya ketika sampai di Kalimantan, Ade langsung mengajak orangtuanya liburan bareng. Karena orangtuanya pengin menikmati liburan. "Rasanya sekarang senang campur aduk juga. Sekian lama bisa mudik kembali," kata dia.

Sementara Ndaru mengaku menghabiskan uang lebih banyak. Dia menyiapkan Rp10 juta untuk bisa mudik ke Bone. Uang itu bukan cuma ongkos perjalanan tapi juga untuk oleh-oleh dan lain sebagainya. "Harapnnya mentok habis Rp6 juta aja. Habis banyak tentu buat tiket. Rinciannya tiket berangkat Rp900-an ribu (per orang)," kata dia.

"Bikin habis banyak tentu tiket pesawat PP,  lainnya paling sekadar buat bensin untuk kendaraan di lokasi mudik, makan, dan kebutuhan tak terduga seperti kebutuhan keluarga," Ndaru melanjutkan.

Ndaru mengaku mengumpulkan dana mudik selama dua bulan sebelum Ramadan. Dia menghemat pengeluaran. "Alhamdulillah bisa terkumpul. Karena gaji dan THR juga cair tepat waktu serta utuh," kata dia. "Proses berhemat di bulan awal kurangi keluar rumah, kurangi nongki di cafe," imbuh dia.

Pada mudik kali ini, Ndaru memberi kesan kalau perjalanan udara via pesawat tak ada kendala. Hanya saja ketika sampai di Makassar menuju kampung halaman di Bone, akses jalannya macet parah. Karena jalannya sempit dengan kondisi infrarstruktur yang kurang memadai.

"Butuh waktu 5 jam perjalanan naik motor karena ada perbaikan jalan di banyak titik. hujan juga. Mungkin naik mobil bisa lebih dari itu. Padahal normalnya naik mobil carter bisa 4 jam aja. pilih dijemput motor karena males terjebak macet," beber dia.

"Terlepas itu saya seneng meski keluar duit banyak karena terbayarkan dengan bisa ketemu anak istri. apalagi dah lama gak ketemu sejak Idul Adha lalu. Uang bisa dicari, kesempatan bertemu lagi belum tentu," pungkas Ndaru.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ardiansyah Fajar Syahlillah
Faiz Nashrillah
Ardiansyah Fajar Syahlillah
EditorArdiansyah Fajar Syahlillah

Latest News Jawa Timur

See More

Polisi Buru Pelaku Pembunuhan Perempuan di Putat Jaya Surabaya

27 Jun 2026, 19:55 WIBNews