Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
KPU Jatim Sebut Sudah ada 8 Petugas KPPS yang Meninggal
Foto Sigit Widodo, Ketua KPPS di TPS 20 Kelurahan Polehan yang meninggal dunia . (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Malang, IDN Times - Penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) serentak kembali memakan korban. Sejauh ini sudah ada 2 orang anggota KPPS yang meninggal dunia di Malang Raya.

Satu korban di Kabupaten Malang adalah Salmiati Ningsih (56) yang merupakan petugas KPPS di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 7 Desa Ngadirojo, Kecamatan Kromengan. Sementara satu lagi adalah Sigit Widodo (54) yang merupakan Ketua KPPS di TPS 20 Kelurahan Polehan, Kecamatan Kedungkandang.

1. KPU Jatim mengungkapkan sudah ada 8 petugas pemungutan suara yang meninggal di Jawa Timur

Komisioner Divisi SDM dan Litbang KPU Jawa Timur, Rochani. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Komisioner Divisi SDM dan Litbang KPU Jawa Timur, Rochani menuturkan jika sampai H+2 Pemilu 2024 ini sudah ada 8 petugas pemungutan suara yang meninggal dunia. Mereka yang meninggal dunia akan mendapatkan santunan dari KPU RI.

"KPU hanya boleh memberikan bentuk santunan, bukan premi asuransi, nominal untuk santunan kematian besarnya Rp36 juta. Sementara santunan sakit, rawat inap, atau cacat itu ada kategori sendiri," terangnya saat bertakziah ke rumah Ketua KPPS yang meninggal di Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang pada Jumat (16/2/2024).

Ia menuturkan jika jumlah kematian pada pemilu tahun ini sangat jauh menurun dibandingkan saat Pemilu 2019. Pada Pemilu 2019 tercatat ada 87 orang meninggal dari Linmas, KPPS, saksi, bahkan pemilih saat di bilik suara.

"Alhamdulillah penurunan kecelakaan kerja sangat menurun jauh, sangat signifikan. Tapi kami tetap memantau mereka sampai masa akhir kerja mereka pada 25 Februari 2024," jelasnya.

2. KPU Jatim menyebut Ketua KPPS di Kelurahan Polehan memiliki diabetes sejak 10 tahun lalu

Suasan rumah duka Ketua KPPS yang meninggal di Malang. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Rochani juga mengatakan sempat berkomunikasi dengan keluarga dari Ketua KPPS di TPS 20 Kelurahan Polehan yang meninggal. Ia mengatakan jika korban memang memiliki riwayat penyakit diabetes sejak lama.

"Sekilas tadi kami diceritakan jika beliau punya riwayat penyakit bawaan yaitu diabetes yang sudah 10 tahun. Tapi pada saat melaksanakan tugas dan check up mandiri itu masih dalam kondisi normal diabetesnya. Tapi kita akan mendalami lagi," ujarnya.

Ia juga menyampaikan jika KPU Provinsi Jawa Timur dan KPU Kota Malang memiliki mekanisme terkait kecelakaan kerja. Oleh karena itu anggota KPPS sudah terjadi baik sakit maupun sampai meninggal dunia.

"Kami akan memverifikasi apakah yang bersangkutan kepesertaannya di dalam jaminan kecelakaan kerja atau BPJS Ketenagakerjaan. Ini perlu kita komunikasikan dengan pemerintah daerah, karena tidak boleh ada duplikasi dalam penyaluran santunan maupun bantuan yang bersumber dari APBN," jelasnya.

3. KPU Jatim menyebut jika korban meninggal dengan kebanggaan karena membantu negara

Suasana rumah duka Ketua KPPS yang meninggal di Malang. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Lebih lanjut, Rochani menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya karena Sigit Widodo yang sudah merampungkan tugas-tugasnya di KPPS sebelum meninggal. setelah Sigit menyampaikan kotak suara ke Kantor Kelurahan Polehan, ia dengan anggota KPPS kain sudah membersihkan TPS. Setelah itu ia pulang untuk mandi dan istirahat, lalu sempat tidur sampai pukul 14.30 WIB. Kemudian Sigit diminta mengantarkan keponakan yang sedang sakit.

"Kita tahu tugas-tugasnya di KPPS sangat butuh kesukarelaan, mulai dari seleksi terbuka yang artinya ada keinginan warga sebagai penyelenggara. Kemudian tugas beliau untuk menyampaikan C kepada warga sudah dilakukan bahkan sampai Hari H saat plano kurang, beliau juga menunggu untuk memastikan plano terkirim dan melanjutkan tugas-tugasnya," ucapnya.

Rochani menyampaikan jika Sigit adalah kebanggaan keluarga karena melaksanakan tugas-tugasnya dengan sangat baik. Ia juga meninggal setelah melaksanakan tugas negara, sehingga jasanya sangat dihargai.

"Kehadiran kami di sini sebagai bentuk empati dan memberi penguatan. Memberi dukungan pada keluarga agar setidaknya mereka bisa sabar dan diberikan kekuatan untuk menerima ini, di samping kebanggaan bagi keluarga karena beliau dimuliakan dengan di hari-hari akhir membantunya negara dan punya niatan baik untuk menyelamatkan keponakannya yang butuh bantuan dan perhatian," pungkasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article