Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Abdul Haris, Buruh Cangkul Sawah Asal Pasuruan Akhirnya Berhaji
Abdul Haris (kiri) buruh cangkul naik haji saat berada di Embarkasi Surabaya. (Dok. Humas PPIH Embarkasi Surabaya)

Surabaya, IDN Times - Keinginan Abdul Hari (82) warga Pasuruan untuk berangkat haji ke Baitullah akhirnya terwujud. Meski sehari-sehari bekerja sebagai buruh cangkul dia tak menyangka telah dipanggil menjadi tamu Allah pada pelaksanaan haji tahun 2024 ini.

“Alhamdulillah keinginan saya sejak lama dapat terkabul,” ungkap pria yang akrab disapa Dul ini, Selasa (21/5/2024).

1. Bekerja sebagai buruh cangkul

Jemaah haji yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 32 Embarkasi Surabaya ini mengaku sehari-hari bekerja sebagai buruh cangkul dengan upah kisaran Rp40 ribu. Tetangganya sering meminta bantuan untuk mencangkul sawah. 

“Tetangga-tetangga sering minta bantuan kepada saya untuk mencangkul sawahnya. Alhamdulillah meskipun tidak seberapa, tapi bisa untuk menghidupi sehari-hari,” tutur pria yang hidup sebatang kara di rumahnya ini.

2. Mendaftar haji tahun 2019 hasil jual pohon trembesi

Dul mendaftar haji pada tahun 2019. Saat itu kebetulan dia mendapat rejeki Rp 33 juta dari hasil menjual pohon trembesi yang dimilikinya. 

“Kebetulan waktu itu saya memperoleh rezeki. Pohon slobin (trembesi) yang saya punya laku Rp33 juta. Dari situ saya pergunakan untuk mendaftar haji. Sesuatu yang sudah saya idam-idamkan selama ini,” kenangnya.

Tahun ini Dul mendapat panggilan berangkat haji karena masuk kuota prioritas lansia. “Saya sangat bersyukur karena bisa lebih cepat dari tahun berangkat,” ujarnya penuh rasa haru.

3. Melunasi haji dengan menjual sepetak tanah

Pelunasannya, Dul merelakan sepetak tanah yang ia punyai untuk dijual.  Karena menurutnya, kalau menggantungkan dari hasil kerjanya sebagai buruh cangkul, tidak cukup untuk pelunasan karena penghasilannya tidak seberapa.

Tahun ini Dul tergabung dengan kloter 32 dan saat ini sudah sampai di Madinah. Ia merasa bersyukur karena ia juga satu kloter dengan tetangga dekat rumahnya, Nur Halim yang selama wawancara setia menjadi penerjemah karena Pak Dul tidak lancar berbahasa Indonesia.

Warga asal Rembang, Kabupaten Pasuruan ini mengungkapkan harapannya selama di tanah suci nanti. Ia berharap agar diberi kelancaran selama berhaji. 

“Saya akan memohon agar memperoleh keselamatan baik di dunia maupun akhirat. Semoga perjalanan ibadah haji saya lancar dan mabrur,” harap Dul. 

Editorial Team

Related Article