Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Karhutla dan Ujian Kredibilitas Komunikasi Politik Pemerintah
Ilustrasi karhutla (magnific.com/magnific)
  • Pakar komunikasi politik Gatut Priyowidodo menilai komunikasi krisis karhutla harus membangun kepercayaan lewat informasi yang sesuai kondisi lapangan dan langkah penanganan nyata.

  • Pemerintah perlu menyampaikan risiko, wilayah terdampak, perlindungan warga, serta perkembangan penanganan secara proporsional, konsisten antarinstansi, dan terbuka terhadap perubahan data.

  • Gatut mendorong komunikasi risiko dua arah berbasis komunitas, melibatkan kanal lokal, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, serta forum multipihak untuk menyalurkan bantuan dan kebutuhan lapangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Prof Gatut Priyowidodo menilai komunikasi pemerintah dalam krisis kebakaran hutan dan lahan harus terbuka, konsisten, sesuai kondisi lapangan, serta memuat langkah perlindungan masyarakat.
  • Who?
    Prof Gatut Priyowidodo, Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra, menyampaikan penilaian terkait komunikasi pemerintah, warga terdampak asap, tenaga kesehatan, perangkat desa, tokoh komunitas, dan instansi terkait.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan di Surabaya. Pembahasan mencakup wilayah-wilayah yang terdampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan, yang per saat ini tidak dirinci.
  • When?
    Gatut menyampaikan pandangannya pada Kamis, 22 Oktober 2026, di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan.
  • Why?
    Masyarakat membutuhkan informasi mengenai risiko, kualitas udara, dampak kesehatan, wilayah terdampak, layanan bantuan, dan perkembangan penanganan agar dapat mengambil langkah perlindungan yang tepat.
  • How?
    Komunikasi risiko didorong berlangsung dua arah, cepat, dan konsisten melalui koordinasi antarinstansi serta saluran lokal yang dipercaya, termasuk tenaga kesehatan, perangkat desa, tokoh komunitas, dan media sosial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kebakaran hutan dan lahan membuat banyak orang bisa terkena asap. Prof Gatut bilang pemerintah harus memberi kabar yang jujur, jelas, dan sama. Warga perlu tahu udara di mana yang bahaya dan cara melindungi diri. Pemerintah juga perlu mendengar keluhan warga dan bekerja bersama banyak pihak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sorotan terhadap komunikasi karhutla membuka ruang bagi pemerintah untuk memperkuat perlindungan warga melalui informasi yang jujur, konsisten, dan mudah dipahami. Dengan melibatkan tenaga kesehatan, tokoh komunitas, serta berbagai pihak dalam pertukaran data dan kebutuhan lapangan, respons krisis dapat semakin dekat dengan pengalaman masyarakat terdampak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Di tengah ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), komunikasi pemerintah menjadi bagian penting dalam melindungi masyarakat. Informasi mengenai kondisi terkini, risiko kesehatan, hingga langkah penanganan perlu disampaikan secara terbuka, konsisten, dan mudah dipahami agar masyarakat dapat mengambil tindakan yang tepat.

Pakar Komunikasi Politik sekaligus Guru Besar Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen (UK) Petra, Prof Gatut Priyowidodo menilai, keberhasilan komunikasi krisis tidak cukup diukur dari seberapa cepat pemerintah menyampaikan pernyataan. Hal yang lebih mendasar ialah kemampuan membangun kepercayaan melalui informasi yang sesuai dengan kondisi di lapangan dan disertai langkah nyata.

“Dalam komunikasi krisis, kunci utamanya bukan kecepatan menyampaikan pesan, melainkan kemampuan membangun kepercayaan,” ujar Gatut, Kamis (22/10/2026).

Menurut dia, komunikasi pemerintah saat krisis karhutla perlu dievaluasi melalui empat indikator utama, yakni framing atau pembingkaian pesan, orientasi narasi, konsistensi antarakun resmi, serta responsivitas terhadap kritik publik, terutama di media sosial.

Keempat indikator tersebut penting karena masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi bahwa penanganan sedang dilakukan. Mereka juga perlu mengetahui tingkat risiko yang dihadapi, wilayah yang terdampak, langkah perlindungan yang dapat dilakukan, serta perkembangan penanganan secara berkala.

Gatut mengingatkan, ketika narasi pemerintah menyatakan situasi terkendali, sementara masyarakat di sejumlah wilayah masih menghadapi asap dan gangguan aktivitas, perbedaan persepsi dapat memengaruhi kepercayaan publik. Maka, informasi resmi harus menggambarkan kondisi secara proporsional, termasuk kendala yang masih dihadapi dan upaya yang sedang ditempuh.

Ia juga menyoroti respons pemerintah terhadap kritik masyarakat. Dalam situasi krisis, kritik tidak semestinya langsung diperlakukan sebagai serangan terhadap institusi. Keluhan warga dapat menjadi sumber informasi penting untuk mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi dan memperbaiki penanganan di lapangan.

“Pemerintah perlu memahami bahwa kritik publik saat krisis asap bukan semata-mata serangan terhadap legitimasi kekuasaan, melainkan ekspresi kecemasan dan tuntutan perlindungan,” katanya.

Gatut menjelaskan, komunikasi krisis berisiko kehilangan fungsi pelayanan publik apabila respons terhadap kritik lebih banyak berisi pembelaan atas kinerja dibandingkan penjelasan mengenai solusi, perkembangan penanganan, dan langkah perlindungan bagi warga.

Untuk membangun komunikasi krisis yang efektif, Gatut mendorong pemerintah menerapkan komunikasi risiko berbasis komunitas yang bersifat dua arah, cepat, konsisten, dan dapat ditindaklanjuti.

Artinya, informasi tidak cukup hanya disebarkan melalui siaran pers atau akun media sosial resmi. Pemerintah juga perlu memastikan pesan menjangkau masyarakat terdampak melalui saluran yang mereka percaya dan mudah diakses.

“Dalam perspektif komunikasi krisis, pesan harus disampaikan melalui sumber yang dipercaya masyarakat, termasuk tenaga kesehatan, perangkat desa, tokoh komunitas/adat, dan kanal komunikasi lokal. Media sosial berfungsi mempercepat distribusi informasi, tetapi komunikasi interpersonal memastikan pesan benar-benar dipahami,” jelasnya.

Pendekatan tersebut dapat diterapkan, misalnya, dengan menyampaikan informasi kualitas udara dan risiko kesehatan menggunakan bahasa sederhana, memberikan panduan perlindungan bagi kelompok rentan, serta memperbarui informasi mengenai kondisi wilayah dan layanan kesehatan yang tersedia. Informasi juga perlu menjelaskan ke mana warga dapat melaporkan dampak asap atau meminta bantuan.

Konsistensi pesan antarlembaga menjadi hal lain yang perlu diperhatikan. Informasi yang berbeda antara satu instansi dan instansi lain dapat membingungkan masyarakat, terutama ketika mereka harus mengambil keputusan cepat untuk melindungi diri dan keluarga.

Koordinasi data dan pesan antarinstansi diperlukan agar informasi yang beredar tidak saling bertentangan. Jika terdapat perubahan kondisi atau data, pemerintah perlu menjelaskan pembaruan tersebut secara terbuka.

Gatut juga menilai penanganan komunikasi karhutla perlu melibatkan berbagai pihak melalui forum komunikasi krisis multipihak. Pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat dapat berbagi data, menyampaikan kebutuhan lapangan, serta memperjelas pembagian peran dalam penanganan bencana.

Menurut dia, pendekatan kolaboratif lebih dibutuhkan daripada komunikasi yang berorientasi pada saling melempar tanggung jawab. Ukuran keberhasilan komunikasi krisis semestinya terletak pada seberapa baik masyarakat memperoleh informasi yang benar dan perlindungan yang dibutuhkan.

“Krisis ini bukan kompetisi tentang siapa yang paling tidak bersalah, melainkan kolaborasi tentang siapa melakukan apa untuk melindungi masyarakat. Di sinilah legitimasi pemerintah diuji,” pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article