Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

ITS Gandeng BTI Defence dan Iridium UEA, Bidik Pasar Alutsista Global

Kota Surabaya
3 min read
ITS Gandeng BTI Defence dan Iridium UEA, Bidik Pasar Alutsista Global
Pertemuan PT BTI, ITS dan Iridium UEA. (Dok. Istimewa)

  • ITS, PT BTI Defence, dan Iridium UEA menandatangani MoU strategis untuk mengembangkan teknologi kelautan, riset terapan, inovasi produk, serta industrialisasi sektor pertahanan dan maritim.

  • Kolaborasi menargetkan pasar alutsista dan layanan MRO di UEA; BTI Defence menyebut telah memperoleh komitmen pekerjaan awal dan akan menindaklanjutinya langsung di sana.

  • ITS menyumbang SDM serta riset teknologi kelautan, termasuk rencana pengembangan hovercraft, sementara kerja sama juga membuka peluang teknisi lulusan D3 di industri pertahanan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Perusahaan penyedia alat pertahanan, PT BTI Defence dan IRIDIUM Services & Logistic Consultancy LLC (Iridium) dari Uni Emirat Arab (UEA) bekerjasama dengan Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk memperkuat pengembangan teknologi kelautan, inovasi produk, riset terapan, hingga industrialisasi di sektor pertahanan dan kemaritiman.

Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan l memorandum of understanding (MOU) kerja sama strategis, Senin (19/10/2026) lalu. Kehadiran Iridium yang berbasis di UEA dinilai membuka pintu masuk bagi produk riset dan kompetensi teknologi Indonesia ke pasar international.

Direktur BTI Defence Peter Tjahjono menjelaskan, kerja sama dengan Iridium tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan alutsista tetapi melayani MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul), (pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul). Pasar tersebut telah besar dan BTI Defence telah memperoleh komitmen pekerjaan awal di sana.

“Kita bekerja sama dengan Iridium untuk memasuki pasar di UEA, di mana pasar untuk maintenance dan overhaul sangat besar dan kita telah mendapatkan komitmen pekerjaan di sana. Langkah berikutnya adalah kita follow up langsung di UEA,” ujar Peter.

Ia belum dapat merinci cakupan kerja sama secara teknis karena masih memerlukan pertemuan lanjutan di UEA. Namun, arah besarnya jelas, posisi Iridium sebagai mitra lokal di UEA untuk menembus kebutuhan industri pertahanan.

Peter menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak hanya menjadi pasar bagi produk luar negeri, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan tenaga ahli.

Dalam kerja sama ini, BTI Defence berencana memenuhi kebutuhan tenaga ahli atau expertise yang memiliki latar belakang lulusan dari ITS dan juga tenaga ahli yang berpengalaman di Angkatan Laut.

Peter berharap lulusan D3 dapat memperoleh peluang kerja di sektor industri pertahanan, khususnya pada bidang perbaikan sarana dan prasarana.

“Harapannya kita bisa mensuplai tenaga teknisi yang memiliki skill set dari ITS. Lulusan D3 bisa mendapatkan peluang bekerja di sektor industri pertahanan,” kata dia.

Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati menyebut kerja sama ini mempertemukan dua kekuatan, kemampuan industri BTI Defence di bidang alutsista dan persenjataan, serta kekuatan sumber daya manusia dan riset ITS di teknologi kelautan.

“ITS punya kekuatan SDM di teknologi kelautan, termasuk perkapalan dan desain kapal. Ini ada kesempatan besar,” kata Bambang.

Ia menjelaskan ITS juga memiliki Pusat Studi Pertahanan yang telah bekerja sama dengan BTI Defence dan Kementerian Pertahanan dalam pengembangan persenjataan. Kapasitas riset itu, menurutnya, berpotensi dikembangkan bersama BTI Defence.

“Mereka dari industri, kami dari sisi penelitian. Apa yang kami wujudkan bisa dimasuki oleh BTI Defence karena mereka dari industri,” ujar Bambang.

Salah satu rencana konkret yang dibahas adalah pengembangan kapal hovercraft bersama BTI Defence dan Iridium. ITS mengklaim memiliki pengalaman mendesain dan mewujudkan hovercraft pada 2015 bersama Kementerian Pertahanan.

“BTI Defence berkolaborasi dengan Iridium membangun hovercraft. Kami punya pengalaman membangun hovercraft pada 2015, sudah mendesain dan diwujudkan oleh Kemenhan,” kata Bambang.

Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi tahapan awal kolaborasi tiga pihak. Basis Iridium di UEA juga dinilai strategis karena pasar perusahaan tersebut cukup besar.

“Ini kesempatan besar karena Iridium basisnya ada di UEA. Di sana banyak hal yang bisa kita lakukan bersama,” tambahnya.

Dalam ketentuan kerja sama, ketiga pihak berupaya membangun kesinambungan antara kebutuhan pasar dan perkembangan industri dengan kompetensi penelitian serta pengembangan teknologi ITS. Tujuannya menghasilkan produk dan solusi yang relevan, aplikatif, serta berpotensi dikembangkan secara komersial.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More