Di Balik Sunyinya Kritikan 2 Tahun Prabowo-Gibran di Kota Pahlawan

Pada 20 Oktober 2026, Surabaya tidak menggelar aksi terkait dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, berbeda dengan Jakarta dan sejumlah wilayah lain.
Meski poster konsolidasi aksi sempat beredar dan pertemuan direncanakan pada 18 Oktober, tidak ada pengumuman lanjutan maupun pergerakan hingga sore hari.
Perwakilan BEM se-Jawa Timur bertemu Kapolda Jatim untuk dialog mengenai persoalan sosial, ketertiban masyarakat, narkotika, miras, dan penyampaian aspirasi konstruktif.
Surabaya, IDN Times - Pada 20 Oktober 2026, masyarakat Surabaya ramai mengeluh, keluhan itu bukan soal peringatan 2 Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakilnya Gibran Rakabuming Raka, tetapi karena udara Surabaya yang menyentuh 37 derajat Celcius. Saat Ibu Kota negara dan beberapa wilayah lain di Indonesia sibuk aksi, tak ada pergerakan apapun di Kota Pahlawan.
20 Oktober 2026, Kota Surabaya lenggang -lenggang saja. Jalanan Kota ini seperti biasa, hanya ramai karena kendaraan.
Muncul pertanyaan, apa mahasiswa di Surabaya juga bakal bergerak sama seperti di Jakarta dan kota-kota lain. Jawabannya, hingga senja tiba dan matahari tenggelam di peraduan, tak ada suara untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran di Kota ini.
Poster konsolidasi aksi sudah tersebar beberapa hari sebelumnya. Rencana konsolidasi juga digelar. Tetapi, hasilnya tak pernah keluar. Tak pernah ada pengumuman lanjutan soal rencana aksi.
IDN Times mengkonfirmasi salah satu Badan Eksekutif Mahasiswa kampus di Surabaya dari Universitas Airlangga, M Risqi Senja Wirawan. Sayangnya, ia tak kunjung memberi jawaban.
Pertanyaan soal ke mana suara mahasiswa Surabaya saat peringatan 2 Tahun Prabowo-Gibran terjawab. Mereka, ternyata sedang melakukan pertemuan dengan Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Dekananto Eko Purwono.
Pertemuan tersebut berlangsung di Selasar Gedung Patuh Lantai 2 Mapolda Jatim pada Selasa (20/10/2026). Dalam keterangan yang diterima IDN Times, pertemuan tersebut disebut sebagai ruang dialog interaktif untuk bertukar pandangan mengenai dinamika sosial dan situasi keamanan di wilayah Jawa Timur.
Kapolda Jatim, Iren Pol Dekananto Eko Purwono menyebut, komunikasi terbuka antara kepolisian dengan mahasiswa adalah untuk memperkuat sinergi demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
"Pemeliharaan kamtibmas tidak bisa berdiri sendiri, melainkan membutuhkan peran aktif dari seluruh elemen masyarakat. Kami berharap mahasiswa dapat terus memberikan aspirasi yang konstruktif serta terlibat nyata dalam mengurai persoalan sosial di tengah masyarakat," ujar Irjen Pol Dekananto.
Ia bahkan mengajak mahasiswa untuk mengkaji berbagai isu strategis regional secara objektif. Melalui kajian yang valid, gagasan dan aspirasi yang disampaikan mahasiswa dapat menjadi masukan solutif bagi pengambil kebijakan.
Di akhir acara, Irjen Pol Dekananto mengingatkan mahasiswa untuk tetap bersikap kritis sekaligus bijak dalam menyaring informasi di era digital. Mahasiswa diimbau memastikan kebenaran berita sebelum membagikannya ke ruang publik.
"Sikap objektif dan bertanggung jawab adalah kunci agar ruang publik kita tetap kondusif, sehingga diskusi-diskusi yang terbangun di dalamnya selalu berjalan produktif," pungkasnya.




















