Jatim Bidik Investor, 6 Sektor Siap Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Jawa Timur menyiapkan enam sektor strategis untuk menarik investasi: manufaktur, agroindustri, pariwisata, infrastruktur, kawasan industri, serta industri berkelanjutan bernilai tambah.
BI Jatim menilai pasar domestik besar, basis manufaktur beragam, sumber daya alam, infrastruktur, dan konektivitas menjadi modal daerah menangkap peluang investasi global.
EJIF 2026 mempertemukan investor dengan proyek siap ditawarkan melalui presentasi, business matching, pertemuan pemilik proyek, dan kunjungan lokasi untuk mendorong realisasi investasi.
Surabaya, IDN Times - Jawa Timur (Jatim) tak ingin sekadar menjadi pasar di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Enam sektor strategis disiapkan untuk menarik investasi sekaligus memperkuat struktur ekonomi daerah, mulai dari manufaktur hingga industri berkelanjutan.
Enam sektor tersebut meliputi manufaktur, agroindustri, pariwisata, infrastruktur, kawasan industri, serta industri berkelanjutan dan bernilai tambah.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim, Rifki Ismal mengatakan, Jatim memiliki sejumlah modal ekonomi untuk menangkap peluang investasi di tengah perubahan peta ekonomi global.
Jatim ditopang pasar domestik yang besar, basis manufaktur yang beragam, sumber daya alam, infrastruktur, serta konektivitas yang menghubungkan daerah tersebut dengan berbagai pasar.
“Enam sektor yang menjadi sorotan yakni manufaktur, agroindustri, pariwisata, infrastruktur, kawasan industri, serta industri berkelanjutan dan bernilai tambah lainnya,” ujarnya, Kamis (1/10/2026).
Rifki menambahkan, manufaktur menjadi salah satu sektor penting karena Jatim telah memiliki basis industri yang relatif beragam. Penguatan sektor ini diarahkan tidak hanya pada penambahan kapasitas produksi, tetapi juga peningkatan nilai tambah.
Peluang serupa terdapat pada agroindustri. Komoditas pertanian yang selama ini menjadi bahan mentah memiliki ruang untuk dikembangkan melalui proses pengolahan sehingga menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Dengan pendekatan tersebut, investasi tidak berhenti pada masuknya modal, tetapi dapat memperkuat rantai pasok dan struktur ekonomi daerah.
Sementara itu, sektor pariwisata menjadi salah satu ruang investasi yang dapat dikembangkan melalui destinasi sekaligus infrastruktur pendukung. Investasi pada sektor tersebut diharapkan memperkuat aktivitas ekonomi yang muncul di sekitar kawasan wisata.
Adapun infrastruktur dan kawasan industri menjadi bagian penting untuk menciptakan ekosistem investasi. Infrastruktur yang memadai dapat memperkuat konektivitas, sementara kawasan industri memberikan ruang bagi kegiatan produksi dan rantai pasok untuk berkembang.
“Investasi berkelanjutan menjadi bagian penting seiring meningkatnya kebutuhan terhadap industri yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan efisiensi sumber daya,” katanya.
Rifki menilai peluang investasi di Jatim semakin relevan dengan kondisi ekonomi nasional yang masih ditopang permintaan domestik, investasi, hilirisasi industri, dan pembangunan infrastruktur.
Jatim, kata dia, memiliki posisi strategis untuk menangkap peluang tersebut karena ditopang pasar domestik yang besar serta konektivitas yang mendukung perdagangan dan aktivitas industri.
“Jatim memiliki posisi strategis untuk menangkap peluang tersebut karena mempunyai pasar domestik besar dan konektivitas yang mendukung aktivitas perdagangan serta industri,” katanya.
Peluang tersebut kemudian dikonkretkan melalui East Java Investment Forum (EJIF) 2026. Forum ini tidak hanya menjadi ruang promosi investasi, tetapi juga mempertemukan calon investor dengan proyek yang telah disiapkan.
Sejumlah Investment Projects Ready to Offer (IPRO) ditampilkan sebagai proyek yang siap ditawarkan kepada investor. Dengan demikian, calon investor tidak hanya mendapatkan gambaran mengenai potensi ekonomi Jatim, tetapi juga dapat melihat proyek yang telah dipersiapkan untuk ditindaklanjuti.
Agenda EJIF 2026 mencakup presentasi proyek, diskusi strategis, business matching, pertemuan langsung investor dengan pemilik proyek, hingga kunjungan ke lokasi proyek.
Pola tersebut diarahkan untuk mempertemukan investor dengan kamar dagang, lembaga pemerintah, serta pemilik proyek. Harapannya, promosi investasi tidak berhenti pada forum dan presentasi, tetapi berlanjut menjadi pembicaraan bisnis dan realisasi proyek.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)
















![[OPINI] Makna di Balik Pertemuan Prabowo dan Megawati](https://image.idntimes.com/post/20250603/img-20250603-wa0033-copy-3053x2239-31cec6e8cf59367b783d262865bca253.jpg)


