Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jadi Contoh, Kampung di Surabaya Ini Punya Dana Mandiri untuk Bansos

Jadi Contoh, Kampung di Surabaya Ini Punya Dana Mandiri untuk Bansos
Eri Cahyadi saat berada di RW 9 Lemah Putro, Kelurahan Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng. (IDN Times/Khusnul Hasana)
Intinya Sih
  • RW 9 Lemah Putro di Surabaya berhasil menjalankan sistem Kampung Mandiri dengan dana sosial swadaya untuk membantu warga sakit, anak putus sekolah, hingga santunan kematian.
  • Wali Kota Eri Cahyadi mengapresiasi kemandirian warga yang mampu menyalurkan bantuan secara transparan dan gotong royong, sehingga meringankan beban pemerintah dalam penyaluran bansos.
  • Kampung ini juga menerapkan pengelolaan lingkungan berbasis pemilahan sampah rumah tangga serta pemberdayaan ekonomi seperti budidaya lele dan Kas Kampung Madani untuk memperkuat solidaritas warga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Surabaya, IDN Times - Sebuah kampung di RW 9 Lemah Putro, Kelurahan Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya patut diacungi jempol. Pasalnya kampung tersebut secara mandiri mampu memberikan bantuan sosial kepada warganya, mulai dari bantuan untuk warga sakit hingga anak putus sekolah.

RW 9 Lemah Putro, Kelurahan Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng saat ini sebagai 'Kampung Pancasila'. Berbagai persoalan di kampung itu, diselesaikan secara gotong royong.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengapresiasi sistem kemandirian yang telah berjalan di RW 9 Lemah Putro. Ia mencatat bahwa wilayah ini telah memiliki dana sosial mandiri untuk membantu warga sakit sebesar Rp 250.000 per orang serta bantuan sekolah.

"Pancasila itu tidak lagi hanya dalam lisan, tapi dalam langkah dan perbuatan. Saya bangga dengan RW 9 ini karena sudah menjalankan Kampung Mandiri," ujar Eri.

Lewat sistem kemandirian itu, pemerintah merasa cukup terbantu. Beberapa warga yang belum mendapatkan bantuan dari pemerintah akan dibantu terlebih dahulu oleh warga kampung.

"Data keluarga miskin kita rekap, mana yang dicover pemerintah kota dan mana yang dibantu melalui swadaya mandiri RW, sehingga bantuan tidak menumpuk dan bisa digunakan bersamaan setiap bulan," ungkap dia.

Eri menyebut, pemerintah memiliki keterbatasan anggaran untuk memberikan bantuan secara menyeluruh kepada masyarakat. Bantuan yang diberikan pemerintah memiliki skala prioritas.

"Pemerintah kota transparan. Anggaran kita terbatas, jadi ada skala prioritas. Misalnya untuk bantuan pendidikan, kita fokuskan dua anak per keluarga agar keluarga lain juga bisa mendapatkan bagian secara merata," jelasnya.

Untuk itu, Eri berharap agar masyarakat tak hanya bergantung pada pemerintah. Terutama kelompok masyarakat usia produktif, ia berharap agar meraka mau bekerja.

“Kalau merasa tidak mampu tapi ditawari pekerjaan tidak mau, ya kita akan coret dari daftar bantuan. Kecuali lansia di atas 60 tahun yang tinggal sendiri, itu wajib di-cover penuh oleh pemerintah,” imbuhnya.

Selain aspek sosial, Eri juga mengapresiasi inovasi pengelolaan lingkungan melalui pemilahan sampah dari rumah yang sudah berjalan di RW 9 Lemah Putro. Hasil penjualan sampah tersebut dikembalikan kepada warga sebesar 20 persen, yang merupakan implementasi dari konsep Smart Environment.

"Ini sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan lingkungan yang ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Kalau ada warga yang tidak mau kerja bakti tapi mengeluh banjir, jangan didengarkan. Kita harus bergerak bersama," tegas dia.

Tak lupa, ia juga mengajak warga yang telah sejahtera di lingkungan RW 9 Lemah Putro untuk mau membantu tetangganya yang masih kekurangan. Ia menekankan agar zakat, infak, dan sedekah dari warga Surabaya diprioritaskan untuk masyarakat sekitar yang membutuhkan.

"Saya ingin RW 9 Lemah Putro ini menjadi contoh bagi RW-RW lainnya di Surabaya. Jika RW-nya gerak, PKK-nya gerak, KSH-nya gerak, dan warganya kompak, maka kesejahteraan itu pasti tercapai," tandasnya.

Sementara itu, Ketua RW 9 Lemah Putro, Agung Diponegoro, memaparkan bahwa RW 9 telah berhasil menerapkan konsep Kampung Mandiri, salah satunya melalui pemberdayaan ekonomi seperti budidaya lele dan Kas Kampung Madani yang dikelola secara swadaya.

“Kami memiliki sistem perlindungan sosial mandiri. Di antaranya bantuan kesehatan sebesar Rp250.000 untuk warga yang sedang sakit (dirawat di Rumah Sakit) dan santunan kematian Rp400.000. Inilah lini ekonomi yang terus kami jalankan di Lemah Putro dengan solidaritas dan gotong royong,” pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More