Riset dan Inovasi, Jalan Panjang ITS Tembus Kampus Kelas Dunia

- Prof Riyanarto Sarno dari ITS menciptakan inovasi alat bedah otak berbasis AI bernama BrainRY dan BrainNAV yang mempercepat operasi serta meningkatkan presisi, dan kini digunakan di rumah sakit besar.
- ITS memperkuat riset berdampak global dengan 4.950 publikasi internasional, kolaborasi lintas negara, serta fokus pada bidang unggulan seperti energi terbarukan, kendaraan listrik, dan kecerdasan artifisial.
- Demi menembus Top 300 World Class University, ITS mengalokasikan Rp83 miliar untuk riset, mendorong hilirisasi inovasi agar bermanfaat bagi masyarakat, serta menjaga transparansi dan kolaborasi internasional.
Surabaya, IDN Times- Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sunyi siang itu, Kamis (19/2/2026). Mahasiswa masih menikmati masa libur tengah semester. Tapi di dalam laboratorium kecil di sudut gedung, Prof Riyanarto Sarno tak ikut libur. Ia berjibaku di dalam laboratorium bersama segelintir mahasiswa, beberapa perangkat komputer, mesin printing 3D, angka-angka, grafis, hingga prototipe hasil inovasinya.
Tangannya mengutak-atik beberapa replika tengkorak manusia. Diamatinya dari berbagai sudut replika itu. Ini adalah hasil inovasi Prof Riyanarto yang diberi nama BrainRY dan BrainNAV. BrainRY dan BrainNAV merupakan inovasi alat kesehatan yang disertai teknologi akal imitasi (AI) untuk mendukung operasi bedah saraf otak berupa sistem stereotaktik.
Menggunakan BrainRY dan BrainNAV, dokter tak perlu lama-lama menjalankan operasi otak. Lewat sistem stereotaktik itu, selain memotong waktu operasi, dokter akan lebih presisi menentukan target anatomi. “Dulu itu (operasi bedah saraf otak) dibuka dulu (bagian kepala), 10 jam operasinya, kalau begini kan direncanakan dulu (operasinya), disiapkan materialnya baru operasi, lima sampai enam jam selesai, karena sudah di-planning,” ujarnya.
Karya Prof Riyanarto tersebut menjadi stereotaktik nomor tiga di dunia. Kini, karyanya itu telah digunakan di RSUD dr Soetomo dan National Hospital.

Inovasi antarkan dosen masuk daftar ilmuwan top dunia
Salah satu inovasi Prof Riyanarto ini mengantarkannya masuk dalam daftar ilmuwan top dunia. Di ITS, ia mencatat rekor dengan 677 sitasi sepanjang tahun 2024 di Bidang Artificial Intelligance (AI) dan Image Progrecing.
Penelitian dan berbagai inovasi Prof Riyanarto bukan hanya di bidang kesehatan, tetapi juga di bidang ekonomi seperti aplikasi saham, teknologi drone hingga inovasi di bidang pertanian. Beberapa di antaranya telah diaplikasikan pada bidang masing-masing.
Rambutnya memutih, tapi kepalanya tak pernah berhenti bekerja untuk menemukan berbagai macam inovasi. Ia mencari celah-celah inovasi yang telah ada kemudian dikembangkan agar mendapatkan pembaruan. Terkadang, untuk bisa mendapatkan ide inovasi, ia harus menjelajah hasil penelitian dunia.
Kolaborasi kunci meyukseskan riset dan inovasi
Bekerjasama dengan mahasiswa, Prof Riyanarto tak pernah kehabisan ide penelitian dan inovasi. Keluaran risetnya ada yang berbentuk publikasi artikel ilmiah, ada juga yang berbentuk prototipe.
“Nah, kemudian setelah TKT (tingkat kesiapterapan) teknologi 1,2,3 itu itu bisa untuk tesis mahasiswa, bisa untuk disertasi mahasiswa, maka output-nya bisa publikasi. Tentunya di jurnal yang terkenal. Nah, kemudian nanti dari TKT 3 itu bisa kembangkan lagi, yang namanya riset terapan, itu adalah 4, 5, 6. Hasilnya adalah prototipe,” ungkapnya.
Tidak hanya berkolaborasi dengan mahasiswa, untuk mendapatkan hasil riset terbaik, Prof Riyanarto juga bekerjasama dengan dosen di satu fakultas, dosen di fakultas lain, dosen di universitas lain, hingga peneliti di universitas lain di dunia. “Kemarin saya juga kolaborasi dengan peneliti dari Jepang, ada yang dari Austria, ada yang dari Kanada, begitu. Ada dari Stanford University,” terang dia.
Upaya dan prestasi Prof Riyanarto ini adalah setitik cahaya terang mengantarkan ITS menuju top 300 kampus kelas dunia. Berdasarkan data Quacquarelli Symonds World University (QS WUR), posisi ITS saat ini berada di peringkat 509 dunia.
Riset ITS bukan hanya soal kuantitas tapi juga berdampak
ITS tengah berjuang untuk menggapai Top 300 World Class University. Salah satu upaya yang dilakukan ITS untuk menggapai mimpi itu adalah penguatan riset yang berdampak. Sepanjang tahun 2020 hingga 2025, ITS telah mempublikasi 4.950 jurnal internasional bereputasi.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Fadlilatul Taufany riset ITS diarahkan pada peningkatan kualitas, dampak, dan reputasi global. Bukan hanya peningkatan jumlah publikasi, tetapi juga peningkatan publikasi di jurnal bereputasi tinggi, yakni top-tier, Q1, dan Q2, peningkatan sitasi per dosen, penguatan kolaborasi internasional strategis, serta hilirisasi riset yang berdampak nyata bagi industri dan masyarakat.
"ITS juga menargetkan penguatan bidang-bidang unggulan berbasis teknologi dan rekayasa yang menjadi diferensiasi ITS di level global," ujarnya kepada IDN Times.
Upaya ITS mencapai target riset berdampak
Upaya yang dilakukan ITS agar bisa mencapai target tersebut dilakukan dengan penguatan ekosistem riset, mulai dari pendanaan internal bagi semua dosen, insentif publikasi top-tier, Q1, Q2, pembiayaan Article Processing Charge (APC), hingga dukungan proofreading internasional. ITS juga melakukan kolaborasi global, melalui joint research, joint publication, post-doctoral fellow, visiting professor, dan kolaborasi dengan universitas top dunia.
"Kami juga fokus pada flagship research area, seperti energi terbarukan, teknologi maritim, kendaraan listrik dan otonom, kecerdasan artifisial, material maju, pangan, dan kesehatan berbasis teknologi," terang dia.
Tak hanya itu, hilirisasi dan kemitraan industri menjadi perhatian ITS untuk mencapai target tersebut. Hal ini agar riset tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi menghasilkan paten, prototipe, dan startup teknologi.
"Integrasi riset mahasiswa, sehingga mahasiswa S1–S3 terlibat aktif dalam roadmap riset dosen dan pusat unggulan. Selain itu, jumlah sitasi dan kolaborasi internasional juga mengalami pertumbuhan konsisten, yang menjadi indikator penting dalam pemeringkatan global seperti QS dan THE," jelasnya.
Tantangan riset dan inovasi ITS
Fadlilatul mengaku ada banyak tantangan yang dihadapi untuk menghasilkan riset berdampak dan berkualitas. Seperti, Kompetisi global yang sangat ketat, terutama dengan universitas yang memiliki dana riset jauh lebih besar dan jaringan lebih luas. Lalu, kebutuhan peningkatan jumlah publikasi bereputasi internasional sitasi, dan reputasi internasional. "Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga kontinuitas regenerasi tim riset dosen dan mahasiswa," sebutnya.
Tantangan lainnya adalah pendanaan riset skala besar dan berkelanjutan, yang berorientasi deep-tech dan hilirisasi. Kuantitas dan kualitas kolaborasi internasional strategis, hingga transformasi budaya riset menuju riset berdampak tinggi juga menjadi tantangan ITS.
"Namun demikian, ITS optimistis karena memiliki SDM unggul, roadmap riset yang jelas, serta dukungan ekosistem inovasi yang semakin matang. Dengan konsistensi strategi dan kolaborasi global, target Top 300 World Class University merupakan milestone yang realistis dan terukur," tutur dia.

Upaya ITS gapai Top 300 World Class University
Rektor ITS, Prof Bambang Pramujati mengatakan, ITS menggelontorkan dana hingga Rp83 miliar untuk riset dan inovasi. “Harapannya dengan ini semua gak ada lagi (kendala riset), semua dosen akan memiliki publikasi. Meskipun ada yang dapat kecil, tapi kita mengizinkan dosen untuk kolaborasi,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Prof BP Ini menyebut, fokus riset bukan cuma melahirkan inovasi berkelanjutan, tetapi juga bisa menjawab kebutuhan masyarakat. “ITS tidak hanya mendorong hasil penelitian agar tidak berhenti di laboratorium saja, tetapi dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” terang dia.
Mencapai Top 300 World Class University, ITS tengah menata citra di mata dunia. Upaya yang dilakukan adalah menjaga transparansi dan akuntabilitas sebagai kepercayaan publik. Komitmen terhadap keterbukaan menjadi fondasi dalam membawa nama ITS di kancah international. “ITS juga terus mendorong berbagai kolaborasi internasional lain untuk memperkuat reputasi kampus,” tuturnya.
Prof BP menyebut, ITS tidak hanya fokus pada pencapaian peringkat saja, tetapi juga mengajak seluruh sivitas untuk menyukseskan program berkelanjutan. Keberhasilan program keberlanjutan berpeluang untuk mengantarkan ITS dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak di tingkat global. “Ketika dampak kerja kita semakin meluas, peningkatan peringkat akan datang secara alami,” pungkas dia.



















