Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dari Unair ke Groningen: Dokter Yufi Raih PhD Lewat Riset 12 Tahun

Dari Unair ke Groningen: Dokter Yufi Raih PhD Lewat Riset 12 Tahun
Dokter Yufi Aulia Azmi, SpU, MSi, MKed.Klin resmi menyandang gelar PhD dari University of Groningen melalui Department of Health Sciences, University Medical Center Groningen, Belanda. ( Dok. Pribadi)
Intinya Sih
  • Dokter Yufi Aulia Azmi, lulusan FK Unair, resmi meraih gelar PhD dari University of Groningen setelah meneliti penyakit Fournier’s Gangrene selama 12 tahun dengan melibatkan 185 pasien.
  • Penelitiannya menyoroti pentingnya diagnosis cepat dan penanganan tepat terhadap infeksi serius ini, yang sering diperparah oleh kesalahan diagnosis serta kebiasaan pengobatan mandiri pasien.
  • Yufi menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu 3 tahun 10 bulan dan mendapat apresiasi dari Dekan FK Unair, yang berharap prestasi ini menginspirasi mahasiswa untuk berkiprah di level internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Surabaya, IDN Times - Dokter Yufi Aulia Azmi, SpU, MSi, MKed.Klin resmi menyandang gelar PhD. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) itu meraih gelar PhD dari University of Groningen melalui Department of Health Sciences, University Medical Center Groningen, Belanda.

Yufi berhasil mempertahankan disertasinya yang meneliti tentang Fournier’s Gangrene, penyakit infeksi bakteri yang menyerang jaringan di sekitar organ genital pria. Dalam penelitiannya, ia mengkaji 185 pasien selama 12 tahun, sejak 2012 hingga 2024.

“Saya melakukan studi kasus ini mulai dari diagnosis, tata laksana, tindakan operasi, hingga biaya yang dibutuhkan," ujarnya, Jumat (20/2/2026).

Ia menjelaskan, Fournier’s Gangrene merupakan infeksi serius yang menyebabkan pembengkakan pada area genital, perubahan warna kulit menjadi kehitaman, demam, serta bau tidak sedap. Kondisi tersebut tergolong kegawatdaruratan medis dan memerlukan penanganan cepat.

Menurut Yufi, banyak pasien dirujuk ke rumah sakit dalam kondisi sudah parah. Hal itu kerap disebabkan kesalahan diagnosis di fasilitas kesehatan tingkat pertama, sehingga infeksi berkembang menjadi abses. Tidak sedikit pula pasien yang mencoba pengobatan oles secara mandiri hingga memperburuk kondisi.

Ia menambahkan, mayoritas pasien memiliki riwayat diabetes yang tidak terkontrol. Kondisi tersebut meningkatkan risiko infeksi dan komplikasi. Selain itu, faktor kebersihan area genital yang kurang terjaga juga dapat menjadi pemicu.

“Pasien yang menyepelekan kondisi ini biasanya baru datang ke rumah sakit ketika sudah dalam keadaan berat,” katanya.

Yufi menegaskan, dengan diagnosis yang tepat dan tata laksana yang sesuai, pasien Fournier’s Gangrene memiliki peluang sembuh yang baik. Ia menekankan pentingnya ketelitian tenaga medis, terutama di fasilitas kesehatan tingkat pertama, agar tidak terjadi salah penanganan.

Sementara itu, Dekan FK Unair, Prof Dr dr Eighty Mardiyan Kurniawati, SpOG, SubSp Urogin-RE. mengaku bangga, alumni FK Unair bisa lulus dengan sangat baik di kampus luar negeri.

"Tentu saya bangga ada alumni FK Unair yang berprestasi. Ini bisa menjadi pemicu untuk adik-adik kelasnya agar mengikuti jejak dokter Yufi," tuturnya.

Dokter Yufi berhasil mempertahankan disertasinya di depan para penguji. Pria yang kini mengabdi di RS Anwar Medica itu berhasil lulus dan meraih gelar PhD dalam jangka waktu 3 tahun 10 bulan. Waktu yang cepat menyelesaikan program S3 dibandingkan sejawatnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More