Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Siswa Berkebutuhan Khusus Jadi Korban Bullying Berujung Penganiayaan

Siswa Berkebutuhan Khusus Jadi Korban Bullying Berujung Penganiayaan
Ilustrasi pengeroyokan (Dok. Idn times)
Intinya Sih
  • Seorang siswa ABK berinisial AM (16) di Surabaya menjadi korban bullying dan penganiayaan oleh teman sekolahnya di sebuah SMK swasta kawasan Wonokromo.
  • Korban mengalami perundungan sejak awal masuk sekolah, mulai dari ejekan, pemukulan, hingga pemalakan uang, sementara laporan ke guru tidak mendapat tanggapan.
  • Kasus ini telah dilaporkan ke Polrestabes Surabaya dan masih dalam proses penyelidikan oleh Unit PPA setelah korban mengalami luka fisik serta trauma berat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Surabaya, IDN Times - Seorang siswa yang merupakan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menjadi korban bullying yang berujung aksi penganiayaan oleh teman sekolahnya sendiri. Korban adalah AM (16) yang merupakan siswa salah satu SMK swasta di kawasan Wonokromo, Surabaya.

Keluarga korban, D mengatakan, sekolah tersebut bukanlah SLB. Tetapi, sekolah itu menerima siswa inklusi. Selain AM, di sekolah tersebut juga terdapat satu siswa inklusi lainnya. "Bukan sekolah inklusi, cuma ada satu temannya AM itu entah sekelas, entah satu sekolah tapi satu anak inklusi," ujarnya kepada IDN Times, Sabtu (21/2/2026).

D mengatakan, kasus Perundungan sudah terjadi sejak AM baru masuk sekolah. Perundungan yang dialami AM itu mulai dari cacian, pemukulan, hingga pemalakan uang. "Kadang dia disuruh-suruh, dijendul (dipukul) kepalanya, dilempar kain pel, uangnya dimintai," katanya. Bahkan, AM sampai harus berhutang di kantin lantaran kerap dimintai jajan teman-temannya.

Selama ini, AM berusaha melaporkan aksi perundungan kepada gurunya. Tetapi, aduan AM itu tak pernah digubris. "Dia itu sudah berusaha ngomong sama gurunya (telah dirundung) tapi ya enggak direken (dihiraukan). Malah dia yang disalahin. Dia ngerasa salah karena dia dimanfaatkan sama teman-temannya kayak disuruh bikin sandiwara bikin gaduh gitu," kata dia.

Puncak perundungan terhadap AM ini terjadi saat pelajaran agama pada Jumat (12/2/2026). Ketika itu, AM dibangunkan gurunya agar pergi ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa kantuk. Di kamar mandi, AM diadang sejumlah teman yang kemudian melakukan aksi perundungan. "Dia diprovokasi sama teman-teman, diejek, sampai ada yang lepas baju sekolah, bajunya terus dikibas-kibas," ungkap dia.

Aksi perundungan berlanjut, AM ditantang oleh teman-temannya untuk satu lawan satu. AM lantas menuruti temannya.

Sepulang sekolah AM bertemu dengan penantang di sebuah tempat. Tapi, bukannya satu lawan satu, mereka justru datang bergerombol. Setidaknya ada sekitar 11 hingga 13 orang yang datang merundung AM.

Merasa kecewa, AM memutuskan untuk tidak menanggapi mereka. Tetapi, salah satu dari mereka justru menghadang AM dan memukulnya. Pukulan itu diikuti oleh temannya yang lain. "AM ndak sempat mukul sama sekali loh, ndak sempat bales karena apa, dia dipegangi tangannya itu," katanya.

Atas kejadian ini, AM mengalami beberapa luka di wajahnya dan bagian tubuh lainnya. Ia lalu dirawat di RS Menur untuk mendapatkan perawatan intensif. "Kapan itu pas waktu divisum di bawah matanya sebelah kanan itu sebelah hidung ya. Itu lebam biru. Terus lehernya itu ada bekas cakaran. Habis gitu kepalanya benjol semua," ungkap dia.

Selain mengalami luka fisik, D mengaku AM juga trauma. Remaja itu enggan pergi ke sekolah. "Trauma pasti ya," kata dia. Atas hal ini, pihak keluarga kemudian melapor ke Polrestabes Surabaya.

Kasat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) AKBP Melatisari dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polrestabes Surabaya mengatakan, pihaknya sedang mendalami kasus ini. Korban sudah dimintai keterangan.

Pihaknya belum bisa memastikan apakah kasus tersebut masuk dalam kategori-kategori perundungan. Sebab, keterangan baru diperoleh dari pihak keluarga dan sekolah. "Kalau keterangan keluarga, AM ini kalau nggak ada yang mulai, dia nggak akan balas. Sementara perkembangan perkaranya belum terlalu jauh, karena masih proses penyelidikan," tuturnya.

Sementara pihak sekolah membernarkan adanya aksi penganiayaan yang dialami AM. Akan tetapi, pihak sekolah belum mengetahui secara pasti penyebabnya. "(Pihak sekolah) mengetahui dan membenarkan adanya pemukulan itu. Tapi pihak sekolah tidak mengetahui penyebab dari pemukulan itu," pungkas dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More