Surabaya, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur (Jatim) mencatat inflasi pada Maret 2026 masih berada dalam level terkendali, meski tekanan harga tetap terasa di sejumlah komoditas utama.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jatim, Herum Fajarwati, menyebut inflasi secara bulanan (month to month/m-to-m) pada Maret 2026 tercatat 0,39 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 1,13 persen.
Adapun secara tahunan (year on year/y-on-y), inflasi Jawa Timur berada di angka 3,79 persen. “Jika dilihat dari sisi wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumenep dengan angka 5,31 persen,” ujar Fajarwati.
Ia menjelaskan, capaian tersebut melanjutkan tren sebelumnya, di mana Sumenep kerap menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di Jatim. Pada Februari 2026, wilayah tersebut juga mencatat inflasi tahunan paling tinggi dibanding daerah lain.
Secara umum, inflasi di Jatim dipicu kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran, terutama makanan, minuman, dan tembakau, serta komoditas energi dan kebutuhan rumah tangga. Beberapa komoditas yang sebelumnya menjadi penyumbang utama antara lain cabai rawit, beras, daging ayam ras, tarif listrik, hingga emas perhiasan.
Jika dibandingkan bulan sebelumnya, laju inflasi pada Maret 2026 menunjukkan perlambatan. Pada Februari 2026, inflasi bulanan tercatat 0,95 persen dengan inflasi tahunan mencapai 4,88 persen. Penurunan ini mengindikasikan mulai meredanya tekanan harga setelah lonjakan yang dipicu momentum Ramadan.
Meski demikian, BPS Jatim mengingatkan bahwa dinamika inflasi ke depan tetap perlu diwaspadai. Fluktuasi harga pangan dan energi masih berpotensi meningkat, terutama menjelang hari besar keagamaan maupun perubahan kebijakan pemerintah.
