Sejarah Kampung Kedurus Surabaya, Jejak Peradaban dari Bantaran Kalimas

- Punden Buyut Canting di Kedurus diyakini berkaitan dengan Desa Kudadu yang disebut dalam Prasasti Kudadu, tempat Raden Wijaya bersembunyi sebelum mendirikan Kerajaan Majapahit.
- Situs Punden Buyut Canting menjadi lokasi sakral bagi warga setempat, menyimpan kisah legenda Buyut Canting dan peran spiritual juru kunci Suprapto yang menjaga punden hingga akhir hayatnya.
- Meskipun memiliki nilai sejarah penting terkait Hari Jadi Kota Surabaya, situs seperti Punden Buyut Canting dan Pacekan jarang mendapat perhatian dalam perayaan resmi HJKS.
Sungai menyimpan sejarah peradaban manusia. Begitu juga di dalam sejarah Kota Surabaya, jejak-jejak peradaban dari zaman ke zaman tersebar di sepanjang kawasan bantaran Sungai Kalimas yang membelah kota pahlawan ini.
Tidak banyak dikenali, tetapi Punden Buyut Canting yang terletak di Kelurahan Kedurus Karangpilang merupakan salah satu situs bersejarah yang diduga masih berkaitan erat dengan histori Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS). Namun, apa dan siapakah tokoh dan peristiwa yang ada di balik situs Punden Buyut Canting tersebut? Serial liputan khusus IDN Times untuk HJKS ke-733 kali ini masih membahas heroisme Raden Wijaya memukul mundur tentara Mongol di wilayah Surabaya.
Kedurus: Legenda Desa "Swatantra" Kudadu pada Masa Kerajaan Majapahit

Seperti yang masih diyakini banyak orang, nama Kelurahan Kedurus yang terletak di Kecamatan Karangpilang Kota Surabaya memiliki hubungan dengan Desa Kudadu. Desa ini adalah salah satu legenda bersejarah yang kisahnya diabadikan di Prasasti Kudadu. Bertitimangsa pada 1216 Çaka atau 1294 Masehi, Prasasti Kudadu mengabadikan kisah kejayaan Raden Wijaya pada masa invasi Mongol ke Jawa, sekaligus menegaskan peran signifikan warga Desa Kudadu yang membantu persembunyian Raden Wijaya dari kejaran musuh.
Sekitar tahun 1292, terjadi geger-geden antara Kerajaan Singasari di bawah pimpinan Kertanegara yang menghadapi pemberontakan Jayakatwang dari Kerajaan Glang-glang. Merespons hal itu, Kertanegara yang merupakan menantu dari Raden Wijaya, memerintahkan Nararya Sanggramawijaya—nama Raden Wijaya sebelum menjadi pemimpin Kerajaan Majapahit—untuk memburu Jayakatwang.
Alih-alih berhasil menghalau upaya pemberontakan Jayakatwang tersebut, Raden Wijaya malah menjadi target balik yang akan disingkirkan Jayakatwang karena menjadi penghalang upaya suksesinya tersebut. Alkisah, Jayakatwang berhasil menggulingkan Kertanegara dan memindah pusat pemerintahan dari Singasari ke Kediri atau Daha. Sementara, Raden Wijaya masih berada di dalam pelariannya dari satu tempat ke tempat yang lain.
Kisah pelarian Raden Wijaya disebutkan di dalam Prasasti Kudadu yang ditemukan di Gunung Butak. Berdasarkan prasasti tersebut, Nararya Sanggramawijaya berusaha melarikan diri dari Tumapel, ibukota Singasari, menuju wilayah kekuasaan Arya Wiraraja di Sumenep, Madura. Namun, di dalam pelariannya, ia menghadapi berbagai tantangan.
Prasasti Kudadu juga menyebutkan rute pelarian Nararya Sanggramawijaya menuju Madura tersebut. Lokasi-lokasi pelarian menantu Kertanegara tersebut antara lain Jasun Wangkul, Kedung Peluk, hutan Lembah dan Batang, Kapulungan, Rabut Carat, Pamwaten Apajeg, Terung, Kembangsri, lalu menyeberangi Sungai Brantas menuju Gilang, Krembangan, Bambe, dan bersembunyi di Kudadu sebelum menuju Rembang sebelum lantas menyeberang ke Songenep (Sumenep) untuk bertemu Arja Wiraraja.
Lokasi-lokasi pelarian Raden Wijaya tersebut diperkirakan oleh para sejarawan masih berada di beberapa wilayah di Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan, hingga Surabaya. Nama Kudadu dan Rembang, dua desa terakhir yang menjadi lokasi pelarian Raden Wijaya sebelum berlayar ke Madura, diperkirakan adalah wilayah Krembangan dan Kedurus di Surabaya saat ini. Hipotesis ini didasarkan pada beberapa tanda, seperti lokasinya yang berada di dekat jalur air hingga kisah legenda serupa yang diyakini warga setempat.
Setelah Raden Wijaya berhasil menyusun strategi untuk menyerang Jayakatwang dengan bantuan pasukan Mongol pada 1293, saat itu pula Raden Wijaya melakukan tipu daya terhadap pasukan Kubilai Khan tersebut yang sejak awal memang berniat menundukkan kerajaan di Jawa. Tahun 1293 kemudian juga diperingati sebagai masa kemenangan Raden Wijaya atas pasukan Mongol, sekaligus menandai berawalnya kekuasaan Majapahit.
Warga Desa Kudadu menjadi salah satu pihak yang turut berjasa dalam membantu perlawanan Sri Kertarajasa Jayawardhana—gelar Raden Wijaya sebagai penguasa Kerajaan Majapahit. Sehingga, pada 1294, Prasasti Kudadu dikeluarkan untuk mengabadikan kisah perjuangan tersebut.
Sebagai imbalannya, Sri Kertarajasa Jayawardhana menetapkan Desa Kudadu sebagai desa swatantra atau perdikan, yang terbebas dari kewajiban membayar pajak hingga waktu yang tidak ditentukan. Penganugerahan tanda jasa ini merupakan bentuk rasa terima kasih Raden Wijaya kepada warga Desa Kudadu yang membantu Raden Wijaya selama persembunyiannya di desa tersebut.
Kisah-kisah di Sekitar Punden Buyut Canting yang Sakral

Desa Kudadu kini diperkirakan berada di wilayah Kelurahan Kedurus, dengan ditemukannya punden berupa sumur tua yang konon batu-batanya berusia sejak masa klasik kerajaan Hindu-Budha di Jawa. Sumur tua ini berada di Punden Buyut Canting, di Jalan Kedurus II Buyut, dan masih menjadi tujuan banyak orang berziarah.
Meskipun terdapat cerita yang simpang siur dan belum adanya kepastian bahwa Kedurus adalah Kudadu pada masa lampau, namun terdapat legenda yang hampir serupa, antara perkiraan sejarah ataupun penuturan cerita lisan yang turun temurun oleh warga setempat. Hal ini seperti yang dituturkan oleh Agus Sugiharto (65), salah seorang warga Kelurahan Kedurus yang ditemui oleh IDN Times.
Menurut Agus, memang benar bahwa cerita terkait Punden Buyut Canting masih simpang siur hingga kini. Salah satu perbedaan dari kisah terkait Buyut Canting yang beredar adalah bahwa Buyut Canting tersebut merupakan ibu dari Sawunggaling, salah satu tokoh legendaris di Surabaya, yang bernama Raden Ayu Dewi Sangkrah. Sedangkan, cerita lainnya adalah bahwa Buyut Canting turut membantu menyembunyikan Raden Wijaya berserta patih-patih dan pasukannya dari kejaran Jayakatwang, sekaligus memberikan segala kebutuhan seperti air minum dari sumur di situs punden yang masih ada hingga kini.
"Jadi, yang bisa saya ceritakan hanya cerita turun-temurun dari mbah-mbah sejak dulu, bahwa Buyut Canting adalah ibu dari Sawunggaling yang bernama Dewi Sangkrah, atau yang menolong Raden Wijaya dari kejaran pasukan musuh," tutur Agus pada Sabtu (23/5/2026).
Sumur tua yang berada di Punden Buyut Canting juga memiliki keserupaan dengan Sumur Jobong. Sumur tua yang ditemukan di daerah Peneleh tersebut merupakan bukti adanya peradaban sejak masa Kerajaan Majapahit di kawasan tepi Sungai Kalimas di Surabaya.
Hal serupa juga bisa dilihat dari Punden Buyut Canting yang berada di kawasan perkampungan di tepi Kalimas. Kalimas, yang disebut “pa-tsieh” di dalam catatan sejarah masyarakat Tionghoa yang diterjemahkan oleh Groeneveldt, menjadi jalur penting untuk kegiatan perdagangan maupun militer sejak zaman kerajaan Hindu-Budha hingga kolonial Hindia-Belanda.
Terlepas dari kebenaran cerita yang beredar, Punden Buyut Canting masih menjadi situs bersejarah yang sakral bagi banyak orang. Terkait hal tersebut, Agus menuturkan cerita tentang Suprapto (almarhum), juru kunci Punden Buyut Canting yang telah meninggal sekitar lima tahun yang lalu.
Suprapto, yang berasal dari Jawa Tengah, merupakan suami dari Siswati yang tinggal di Kedurus. Sebelum menjadi juru kunci Punden Mboto—sebutan lain untuk Punden Buyut Canting, Suprapto sempat ditangkap pada saat pembersihan anggota dan simpatisan PKI sekitar tahun 1965-1966. Pasalnya, sebuah surat bercap CC (Comite Central) PKI ditemukan di dalam rumah Suprapto pada saat penggeledahan, sehingga ia dibawa ke Pulau Buru bersama tahanan yang lainnya.
Penangkapan Suprapto atas tuduhan tersebut dinilai tidak tepat oleh Siswati. Sebabnya, Suprapto bukan anggota partai atau organisasi apa pun yang berkaitan dengan PKI. Konon, Siswati kemudian rutin membersihkan Punden Buyut Canting dan berdoa untuk suaminya agar dibebaskan dari penangkapan tersebut.
"Setiap hari Budhe Wati—panggilan Agus kepada Siswati—nyambat di Mbah Buyut sejak suaminya dibawa ke Buru,” kenang Agus.
Sekitar tahun 1974, Suprapto tiba-tiba kembali ke Kedurus dengan membawa ambung, sejenis keranjang dari rotan. Siswati kemudian menceritakan tirakat yang dilakukannya selama ini. Hal itu lantas membuat Suprapto memutuskan untuk menjaga dan merawat Punden Buyut Canting seumur hidup.
Kisah Suprapto ini merupakan satu dari sekian cerita mistis yang pernah terjadi berkaitan dengan situs punden bersejarah ini. Melanjutkan ceritanya, Agus menyebutkan bahwa banyak orang yang perjalanan karirnya cukup lancar sejak berziarah ke Punden Buyut Canting.
Agus kemudian menjelaskan tata cara untuk berziarah ke Punden Buyut Canting sebagaimana yang diajarkan oleh leluhurnya sejak dahulu. Salah satu pesan yang ditegaskan adalah jangan meminta sesuatu ketika sedang berdoa atau nyekar, tetapi cukup menceritakan saja situasi yang sedang dialami saat ini.
Hingga kini, Punden Buyut Canting selalu dikunjungi oleh banyak orang. Tidak hanya warga Kedurus saja, tetapi juga peziarah dari berbagai daerah. Maksud kunjungannya ke Punden Buyut Canting juga bermacam-macam, mulai dari nyekar atau berziarah, mengadakan syukuran, hingga doa bersama warga sekitar agar setiap urusan bisa dipermudah.
"Jadi, memang Punden Buyut Canting itu tempat sakral. Mau percaya atau tidak, tapi banyak kisah-kisah mistis yang terjadi di punden,” ujarnya.
Di mana Sejarah Kota saat Perayaan Hari Jadi Kota Surabaya?

Punden Buyut Canting di Kedurus merupakan salah satu dari sekian situs penting yang berkaitan dengan sejarah di balik Hari Jadi Kota Surabaya. Prasasti Kudadu yang diperkirakan berkaitan dengan nama Kudadu pernah menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam menetapkan HJKS. Selain tanggal 31 Mei, tanggal 11 September 1294 juga turut dilirik tim penelitian HJKS karena merujuk pada momen penganugerahan gelar sima atau desa perdikan kepada Desa Kudadu karena berjasa kepada Majapahit.
Namun, hingga kini, Punden Buyut Canting jarang menjadi salah satu titik utama dalam perayaan HJKS. Begitu pun sama yang terjadi dengan kawasan Pintu Air Jagir atau eks-lokasi Kampung Pacekan yang merupakan salah satu situs sejarah penting pada peristiwa pengusiran tantara Mongol.
Perayaan HJKS yang disaksikan oleh warga Surabaya seringkali digelar di wilayah Surabaya Pusat, seperti Balai Pemuda atau ruas-ruas jalan besar seperti Jalan Tunjungan, Jalan Embong Malang, Jalan Gubernur Suryo, dan lain sebagainya. Di sisi lain, peringatan yang jarang mengenang situs-situs sejarah penting ini sangat disayangkan oleh beberapa pegiat sejarah di Kota Surabaya seperti Hendra (36).
Bagi Hendra, lokasi Kampung Pacekan masih patut untuk dikenang ketika memperingati hari jadi kota pahlawan. Hal ini karena Pemerintah Kota Surabaya mengacukan perayaan tahunan tersebut pada peristiwa pengusiran Mongol pada tanggal 31 Mei 1293. Sehingga, bekas-bekas lokasi pengusiran tentara Mongol harusnya selalu menjadi atensi utama.
“Mereka kan mengambilnya dari (peristiwa) kekalahannya Mongol. Ada jurnal-jurnal lama yang bilang terjadinya di daerah pa-tsieh-kan atau pacekan. Nah, sekarang kan kita bisa meraba bahwa lokasinya di Ngagel meskipun sudah ganti nama. Kalau memang acuannya di peristiwa itu, seharusnya Patjekan itu ngga bisa dilupakan,” ujar Hendra pada Senin (11/5/2026).
Alasan yang dituturkan Hendra tersebut bukan tanpa sebab. Menurutnya, situs sejarah yang memiliki nilai historis tertentu perlu dirawat dan dilestarikan oleh banyak pihak. Jika luput dari atensi publik, adakalanya situs tersebut akan semakin tidak dikenali lagi, atau bahkan digunakan untuk aktivitas tertentu yang tidak semestinya.
Berbeda dengan eks-Patjekan, Punden Buyut Canting hingga kini masih terawat dengan baik, walaupun terdapat simpang siur atau perdebatan di balik kebenaran sejarahnya. Lebih daripada sekedar situs bersejarah, Punden Buyut Canting merupakan tempat yang sakral bagi warga Kelurahan Kedurus. Hal ini membuat punden bata tersebut selalu dikunjungi banyak orang, termasuk pegiat-pegiat sejarah yang masih penasaran dengan legendra Buyut Canting.
Kurangnya atensi publik terhadap situs-situs sejarah tersebut membuat perayaan HJKS hanya bersifat seremonial semata. Padahal, momen HJKS bisa menjadi kesempatan untuk mengedukasi sekaligus menyebarkan pengetahuan historis akan sejarah Sungai Kalimas yang menghidupi banyak orang dari zaman ke zaman.
Hal ini bisa dilihat dari ditemukannya jejak peradaban tua di kampung-kampung bantaran Kalimas seperti Kedurus dan Peneleh. Menurut beberapa sejarawan, kedua daerah tersebut adalah contoh kampung tua yang memanfaatkan Sungai Kalimas sebagai sumber penghidupan sehari-hari.
Meskipun demikian, peringatan HJKS di situs-situs sejarah tersebut tidak perlu digelar secara mewah dan meriah. Bagi Hendra, upaya mengenang secara simbolik seperti nyekar atau syukuran, sebagaimana yang sering dilakukan oleh warga Kedurus di Punden Buyut Canting, sudah cukup.
“Bukan berarti kita harus menggelar HJKS di Pacekan. Tapi mungkin simbolik, digunakan sebagai pengingat bahwa di sini dulu namanya Pacekan, dan di sini ternyata Mongol kalah. Setelah simbolik itu selesai, lalu dilanjutkan di mana pun bebas. Tapi jangan sampai melupakan Pacekan itu tadi,” tuturnya.
Pacekan, Kedurus, dan banyak kampung-kampung di bantaran Sungai Kalimas lainnya, adalah sekian contoh adanya jejak peninggalan leluhur di Surabaya. Baik Hendra maupun warga Kedurus, mereka memiliki cara tersendiri untuk merayakan HJKS, lebih-lebih untuk mengenang dan menghargai jasa-jasa leluhur mereka yang memulai pembabatan lahan di kawasan naditira pradesa ini.

















