Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hari Santri, PKB Jatim Serukan Jihad Lawan Karhutla
Apel Hari Santri Nasional di Lapangan Grha Gus Dur, Gayungsari, Surabaya, Kamis (22/10/2026). Dok. PKB Jatim.
  • DPW PKB Jawa Timur menyerukan santri menjadikan pencegahan kebakaran hutan dan lahan sebagai bentuk jihad masa kini pada Hari Santri Nasional 2026.

  • Dalam apel di Surabaya, PKB Jatim membagikan 5.000 bibit pohon secara simbolis untuk mendorong kepedulian lingkungan melalui aksi nyata.

  • Santri didorong meningkatkan kapasitas dan berperan menjawab persoalan masyarakat, dengan mewujudkan nilai keagamaan dalam pendidikan, ekonomi, politik, serta kepemimpinan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Hari Santri Nasional 2026

DPW PKB Jawa Timur menyerukan jihad santri melawan kebakaran hutan dan lahan melalui gerakan menjaga alam.

Kamis (22/10/2026)

Sekretaris DPW PKB Jatim Multazamudz Dzikri menyampaikan seruan tersebut dalam apel di Surabaya. Apel ditutup dengan penyerahan simbolis 5.000 bibit pohon kepada peserta.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    DPW PKB Jawa Timur menyerukan jihad santri melawan kebakaran hutan dan lahan serta mengajak peserta menjaga lingkungan melalui penyerahan 5.000 bibit pohon.
  • Who?
    Sekretaris DPW PKB Jawa Timur Multazamudz Dzikri menyampaikan seruan kepada peserta apel Hari Santri Nasional 2026.
  • Where?
    Apel berlangsung di Lapangan Grha Gus Dur, Gayungsari, Surabaya, Jawa Timur.
  • When?
    Seruan disampaikan pada peringatan Hari Santri Nasional 2026, Kamis, 22 Oktober 2026.
  • Why?
    PKB Jatim menilai semangat jihad santri relevan untuk menghadapi ancaman kerusakan lingkungan, termasuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
  • How?
    Multazamudz Dzikri menyampaikan amanat sebagai pembina apel, lalu kegiatan ditutup dengan penyerahan simbolis 5.000 bibit pohon kepada peserta.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
PKB Jawa Timur mengajak santri melawan kebakaran hutan dan lahan saat Hari Santri di Surabaya. Multazamudz Dzikri bilang menjaga alam adalah perjuangan santri sekarang. Peserta apel mendapat 5.000 bibit pohon. Santri juga diminta belajar lebih baik dan membantu masalah masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Peringatan Hari Santri ini menampilkan upaya menghubungkan semangat pengabdian dengan kepedulian lingkungan secara konkret. Penyerahan 5.000 bibit pohon memberi simbol tindakan bersama, sementara dorongan agar santri meningkatkan kapasitas dan terlibat dalam persoalan masyarakat menegaskan peran nilai keagamaan sebagai manfaat nyata bagi kehidupan bersama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Semangat jihad santri dinilai tak hanya relevan untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga untuk menghadapi ancaman kerusakan lingkungan. Pada peringatan Hari Santri Nasional 2026, DPW PKB Jawa Timur (Jatim) menyerukan gerakan menjaga alam dengan menempatkan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai salah satu bentuk pengabdian santri masa kini.

Seruan itu disampaikan Sekretaris DPW PKB Jatim, Multazamudz Dzikri, saat menjadi pembina apel Hari Santri Nasional di Lapangan Grha Gus Dur, Gayungsari, Surabaya, Kamis (22/10/2026). Apel tersebut ditutup dengan penyerahan secara simbolis 5.000 bibit pohon kepada peserta sebagai ajakan untuk menerjemahkan kepedulian lingkungan ke dalam aksi nyata.

“Berarti, jihad santri hari ini adalah melawan karhutla,” tegas Multazam di hadapan peserta apel.

Ia menyebut, upaya mewujudkan Indonesia Emas membutuhkan fondasi yang kuat, antara lain pendidikan berkualitas, ekonomi berkeadilan, politik bermartabat, dan kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat.

Dalam konteks itu, santri diharapkan terus meningkatkan kapasitas diri sekaligus mengambil peran dalam menjawab persoalan masyarakat. Nilai-nilai keagamaan, menurutnya, perlu diwujudkan melalui tindakan yang membawa manfaat nyata bagi kehidupan bersama.

“Santri tidak boleh hanya menjadi penonton ketika sejarah ditulis. Santri harus tampil sebagai penentu arah zaman,” pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article