Surabaya, IDN Times - Di sebuah sudut gang di kawasan Dukuh Kupang, Kecamatan Sawahan, Surabaya, suara denting mangkuk dan kepulan uap kuah bakso masih setia menemani sore. Di balik etalase sederhana, Firmansyah meracik pesanan satu per satu. Tangannya cekatan, namun pikirannya tak lagi setenang dulu.
Beberapa bulan terakhir, ada satu hal kecil yang diam-diam mengubah ritme usahanya. Plastik. Benda yang selama ini dianggap sepele itu kini menjadi sumber kegelisahan. Sejak usai Lebaran 2026, harga plastik melonjak. Tidak dramatis dalam satu waktu, tapi cukup untuk membuat biaya operasional merayap naik tanpa terasa. “Lebaran itu sudah naik. Tergantung jenisnya, ada yang naik Rp2 ribu sampai Rp3 ribu. Plastik bening ukuran satu kilogram ini terakhir saya beli naik Rp3 ribu,” ujar Firmansyah.
Bagi pedagang seperti dirinya, plastik bukan sekadar pelengkap. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari usaha. Plastik bening ukuran besar digunakan untuk membungkus mie ayam dan bakso yang dibawa pulang. Ukuran kecil dipakai untuk sambal, kecap, hingga minuman.
Tanpa plastik, transaksi tak akan berjalan mulus. Ironisnya, kenaikan biaya itu tak diikuti kenaikan harga jual. Semangkuk bakso masih dibanderol Rp15 ribu, mie ayam Rp11 ribu. Harga tetap, porsi pun tak berubah. “Harganya tetap. Gak ada arahan buat naikkan harga. Kita juga takut kalau dinaikkan, pembeli berkurang,” kata Firmansyah.
Beberapa kilometer dari sana, di kawasan Mojo, Kecamatan Gubeng, kisah serupa terulang dalam versi berbeda. Di pinggir jalan yang ramai, Sumiati berdiri di balik wajan panas, menggoreng tempe, tahu, dan ote-ote. Aromanya menggoda, pembelinya tetap ada, tapi keuntungannya kian menipis.
“Keberatan sudah pasti. Tapi mau gimana lagi. Kalau dinaikkan, takut sepi,” ucap perempuan 40 tahun itu.
Harga gorengan masih seribuan. Tidak berubah. Namun di balik itu, ada penyesuaian yang tak terlihat mata, adonan dibuat lebih encer. Bukan untuk menipu, tapi bertahan. “Kita bingung. Naikkan harga takut sepi, kurangi ukuran nanti pembeli protes. Jadi diakali saja, yang penting masih bisa jualan,” lanjutnya.
Harga plastik yang melambung menjadi bukti bahwa rantai pasok dunia memiliki dampak langsung pada keseharian masyarakat. Bagi usaha kecil, plastik tetap menjadi pilihan utama. Murah, praktis, dan mudah didapat. Kini, pilihan itu berubah menjadi beban.
Sementara pemerintah daerah belum memberikan solusi konkret. Pemerintah provinsi melalui pernyataan Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim), Emil Elestianto Dardak bilang masih akan melakukan pengecekan dan pendataan. Sedangkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya hanya mengimbau agar mengurangi bahkan tidak memakai plastik.
