Warga desa Tulung Kecamatan Kawedanan mengambil bantuan pangan beras 30 Kg. IDN Times/Riyanto.
Kenaikan harga beras lokal terjadi ketika masyarakat mulai menghadapi tekanan akibat kondisi kemarau. Produksi pertanian yang terganggu berpotensi memengaruhi pasokan beras di tingkat lokal. Dalam situasi tersebut, pemerintah melalui Bulog menyalurkan bantuan pangan untuk 81.254 penerima di Magetan. Total beras yang dialokasikan mencapai 2.437.620 kilogram atau sekitar 2.437 ton. Bantuan tersebut diberikan untuk tiga alokasi sekaligus, yakni Juli, Agustus, dan September.
Budiwan mengatakan jumlah penerima tahun ini meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun lalu. “Untuk Kabupaten Magetan sendiri tahun ini penerimanya 81.154. Jumlah ini meningkat dari tahun lalu yang sekitar 50 ribuan,” ujarnya, Rabu (2/9/2026).
Hingga 1 September 2026, sebanyak 1.358.310 kilogram atau sekitar 1.358 ton telah disalurkan kepada 45.277 penerima. Bulog menargetkan seluruh bantuan dapat disalurkan sekitar 15-18 September 2026. Bantuan tersebut menjadi salah satu bantalan bagi masyarakat ketika harga beras lokal mulai naik. Dengan menerima beras secara langsung, kebutuhan konsumsi rumah tangga diharapkan tidak sepenuhnya bergantung pada pembelian beras di pasar.
Pimpinan Cabang Bulog Ponorogo, Budiwan Susanto, saat memantau penyaluran bantuan pangan. IDN Times/Riyanto.
Budiwan mengatakan Bulog melihat kondisi stok beras masih mencukupi meski harga beras lokal mulai mengalami kenaikan. Saat ini, stok beras yang dikuasai Bulog disebut mencapai sekitar 102 ribu ton. Persediaan tersebut diperkirakan masih aman hingga akhir tahun dan berpotensi mencukupi sampai awal tahun depan.
“Untuk stok beras, alhamdulillah hari ini ada sekitar 102 ribu ton. Kami perkirakan sampai akhir tahun masih aman,” katanya.
Selain stok yang tersedia, Bulog juga terus melakukan penyerapan gabah dan beras dari petani. Target penyerapan ditetapkan sebesar 79.200 ton. Namun realisasinya telah mencapai sekitar 80 ribu ton.
Menurut Budiwan, kondisi tersebut membuat ketersediaan beras untuk kebutuhan masyarakat masih relatif aman meski terdapat tekanan pada harga beras lokal.
Warga desa Tulung Kecamatan Kawedanan mengambil bantuan pangan beras 30 Kg. IDN Times/Riyanto.
Untuk meredam dampak kenaikan harga beras di tingkat konsumen, Bulog mengaku tidak hanya mengandalkan bantuan pangan. Beras SPHP juga digelontorkan melalui toko dan retail. Selain itu, operasi pasar dilakukan dalam beberapa hari terakhir. “Kami juga sudah menggelontorkan SPHP di toko-toko dan retail. Beberapa hari terakhir juga melakukan operasi pasar,” ungkap Budiwan.
Intervensi tersebut dilakukan untuk menjaga pasokan beras sekaligus memberikan alternatif bagi masyarakat ketika harga beras lokal mengalami kenaikan. Bagi penerima bantuan, beras yang diterima pun langsung digunakan untuk kebutuhan keluarga.
Yunella Rikawati (28), warga penerima bantuan di Desa Tulung, mengatakan beras tersebut tidak dijual. Ia menggunakannya untuk konsumsi keluarga dan mencampurnya dengan beras lain. “Dimasak, tetapi sebagai campuran beras lain agar lebih enak dan tidak keras nasinya,” ujarnya. Sementara Sumarsih (45) mengaku bantuan tersebut sangat dibutuhkan karena dirinya tidak memiliki sawah. “Saya sangat membutuhkan karena tidak punya sawah,” ungkapnya.
Di tengah harga beras lokal yang mulai naik, kombinasi bantuan pangan, stok Bulog, SPHP, dan operasi pasar tampaknya menjadi upaya pemerintah menjaga masyarakat agar tidak terlalu terbebani kenaikan harga. Terlebih, kondisi kemarau dan fenomena El Nino berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap produksi pangan di daerah.