Harga Bahan Melejit, Industri Kulit Magetan Kian Terjepit

- Industri penyamakan kulit Magetan terpukul akibat lonjakan harga bahan baku impor seperti krom, pewarna, dan plastik yang naik hingga dua kali lipat.
- Biaya produksi meningkat tajam, namun pelaku usaha belum menaikkan harga jual karena pasar sedang lesu dan daya beli konsumen menurun.
- Meski tertekan, pengusaha kulit tetap bertahan dengan keyakinan bahwa produk kulit memiliki karakter khas dan masih dibutuhkan pasar.
1. Harga bahan pembantu naik drastis

Kenaikan harga bahan pembantu menjadi pukulan utama. Material seperti krom, pewarna, dan pelembut kulit mengalami kenaikan antara 20 hingga 50 persen. Kondisi ini diperparah dengan harga plastik yang melonjak hingga 100 persen atau dua kali lipat.
Ketua APKI Magetan, Basuki, menyebut ketergantungan pada impor membuat industri sulit menghindari dampak tersebut. “Dampak yang langsung kita rasakan itu kenaikan bahan pembantu. Hampir 100 persen kita masih bergantung pada bahan impor,” ujarnya saat ditemui di pabriknya, Selasa (21/4/2026).
2. Biaya produksi naik, harga jual tidak sebanding

Meski biaya produksi melonjak, pelaku usaha belum berani menaikkan harga jual meski tak sebanding. Lesunya pasar membuat mereka harus menahan harga demi menjaga daya beli konsumen.
“Sebenarnya idealnya harga jual ikut naik. Tapi pasar lagi lesu, jadi kami belum berani. Kalau dipaksakan, kasihan pembeli juga,” jelas Basuki.
3. Pelaku usaha bertahan di tengah tekanan

Di tengah kondisi sulit, pelaku industri tetap berupaya bertahan. Mereka optimistis produk kulit masih memiliki pasar karena karakteristiknya yang khas dan tidak mudah tergantikan. “Produk kulit itu material yang spesial, tidak mudah digantikan. Jadi insya Allah tetap dibutuhkan,” tambahnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa dampak yang lebih besar bisa terasa jika kondisi ini terus berlanjut dalam waktu dekat.

















