Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dosen Unair Beberkan Strategi dan Mitigasi Hadapi El Nino
Ilustrasi kekeringan ekstrem (unsplash.com/Oleksandr Sushko)
  • Dosen Unair menilai mitigasi El Nino belum optimal karena penanganan masih reaktif serta tata kelola dan sinergi antarlembaga terhambat tumpang tindih dan ego sektoral.
  • Untuk menghadapi krisis air, masyarakat disarankan membangun cadangan mandiri melalui pemanenan air hujan dari talang ke tandon, dengan penyaringan sebelum digunakan.
  • Kekeringan menurunkan akses air bersih dan higienitas, sehingga pemerintah serta masyarakat perlu bersinergi menjaga lingkungan, mematuhi baku mutu, dan menerapkan konsumsi ramah lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Dosen Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universotas Airlangga (Unair), Dr Aditya Prana Iswara ST MSc PhD, menyoroti soal mitigasi fenomena El Nino di Indonesia. Miitihasi tidak akan berjalan optimal apabila penanganan bencana di lapangan masih cenderung reaktif. Upaya mitigasi kerap terhambat oleh tata kelola bencana yang tumpang tindih di Indonesia.

“Mitigasi bencana sangat penting dilakukan terutama untuk bencana tahunan. Baik itu banjir maupun kekeringan. Namun, sampai saat ini tata kelola dan sinergi antarlembaga di Indonesia masih tumpang tindih sebab ego sektoralnya masih sangat besar,” ungkapnya.  

Menghadapi krisis air misalnya, mitigasi yang bisa dilakukan adalah dengan taktik rain harvesting. Penting untuk memiliki cadangan air mandiri sebagai solusi individu dalam meminimalisir risiko krisis air ketika kekeringan melanda. Reservoir atau cadangan air dapat diupayakan dengan melakukan pemanenan air hujan (rain harvesting).

“Kita harus punya reservoir sendiri. Dari mana kita ambil airnya? Kita bisa mengambil air ketika posisi sumber air masih banyak, contohnya ketika sedang hujan. Kita bisa melakukan rain harvesting,” ujarnya. 

Aliran air hujan dari talang rumah akan diarahkan ke satu sudut. Sedangkan sudut lainnya mengarah ke tandon dengan melewati proses sterilisasi sebelum digunakan. Meski volume air yang berasal dari proses tersebut tidak sebanyak kebutuhan harian, Aditya menilai langkah tersebut efektif dalam menghasilkan cadangan air mandiri.

“Talang kita arahkan ke satu sudut, satu sisi ke arah tandon di bawah dengan melewati proses filter lebih dulu sehingga nanti airnya bisa digunakan. Meskipun mungkin sangat minim ya, karena penggunaan air kita sehari-hari cukup besar,” lanjutnya.

Saat kekeringan melanda, masyarakat menghadapi kesulitan terhadap akses air bersih. Sumber air yang semula kedalamannya hanya berjarak 1 meter bisa merosot hingga 10 meter. Sehingga, terjadi penurunan tingkat higienitas masyarakat yang memicu potensi penyakit baru. 

Di sisi lain, durasi kekeringan berkepanjangan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Seperti perubahan iklim hingga pola konsumsi masyarakat yang belum ramah lingkungan (green consumption). Dengan demikian, sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama guna menekan dampak bencana. 

Menjaga kelestarian lingkungan turut menjadi langkah awal dalam mitigasi El Nino. Meskipun, pemerintah telah memetakan dan mengamankan sumber-sumber air potensial, masyarakat harus memiliki kesadaran untuk mematuhi aturan baku mutu lingkungan.

“Kita harus mulai berbicara terkait dengan green consumption, jangan terlalu over consumption. Kita harus menata kebutuhan sesuai dengan apa yang benar-benar kita butuhkan,” pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article