Calon Jemaah Resah, Sudah Antre Lama Malah Ada Wacana War Tiket

- Wacana sistem 'war tiket haji' dari Kementerian Haji memicu keresahan calon jemaah yang sudah lama antre melalui mekanisme resmi karena dianggap bisa mengganggu keadilan antrean.
- Calon jemaah seperti Anik Mukholatin menilai sistem baru berpotensi menimbulkan ketidakpastian jadwal keberangkatan dan berharap pemerintah tetap menjunjung prinsip keadilan serta prioritas bagi yang belum berhaji.
- Gen-Z Surabaya, Novia Herawati, khawatir sistem digital ini membuka peluang calo dan menyulitkan jemaah lansia, sehingga meminta pemerintah menyelesaikan antrean lama sebelum menerapkan kebijakan baru.
Surabaya, IDN Times - Wacana penerapan sistem “war tiket haji” yang digulirkan Kementerian Haji (Kemehaj) menuai respons beragam dari masyarakat, khususnya calon jemaah yang telah lama mengantre melalui mekanisme resmi.
Sejumlah calon jemaah mengaku khawatir kebijakan tersebut justru mengganggu sistem antrean yang selama ini berjalan. Salah satunya Anik Mukholatin Hasanah (41), warga Sidoarjo, yang telah mendaftar haji sejak 2017 dan diperkirakan baru berangkat pada 2042.
Menurut Anik, sistem “war tiket” berpotensi mengabaikan komitmen dan kesabaran jemaah yang sudah menunggu bertahun-tahun. Ia menilai, kebijakan tersebut dapat menimbulkan ketidakpastian baru dalam jadwal keberangkatan.
"Kami sudah menabung dan menunggu lama untuk mendapatkan nomor porsi. Kalau ada sistem war tiket, rasanya jadi tidak adil dan tidak menghargai proses yang sudah kami jalani,” ujarnya kepada IDN Times, Senin (13/4/2026).
Ia juga berharap pemerintah tetap mengedepankan prinsip keadilan dalam penyusunan kebijakan, termasuk dengan memprioritaskan calon jemaah yang belum pernah menunaikan ibadah haji. Bahkan, menurutnya, perlu ada pembatasan sementara bagi mereka yang sudah pernah berhaji agar kesempatan lebih merata.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Gen-Z di Surabaya, Novia Herawati (25). Dia menilai skema “war tiket” berisiko membuka celah praktik percaloan seperti yang kerap terjadi dalam penjualan tiket konser.
"Kalau lihat pengalaman war tiket konser, banyak celahnya. Bisa saja nanti muncul calo yang bekerja sama dengan pihak tertentu lalu menjual tiket dengan harga lebih mahal,” katanya.
Ia juga menyoroti potensi kesulitan bagi calon jemaah lanjut usia yang tidak terbiasa dengan sistem digital. Menurutnya, kondisi tersebut justru bisa dimanfaatkan pihak ketiga untuk mengambil keuntungan.
"Kasihan juga calon haji lansia, yang tidak paham teknologi. Mereka pasti akan bergantung pada orang lain, dan di situ potensi penyalahgunaan bisa terjadi,” tambahnya.
Novia menilai, sebelum menerapkan sistem baru, pemerintah sebaiknya menuntaskan terlebih dahulu antrean panjang yang sudah ada, terutama bagi calon jemaah dengan masa tunggu di atas lima tahun.
"Yang sudah lama antre seharusnya diprioritaskan dulu. Baru kemudian dipikirkan sistem baru yang lebih adil,” pungkasnya.


















