Malang, IDN Times - Balai Besar (BB) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup jalur pendakian Gunung Semeru sejak 2 Januari 2025 sampai 19 Januari 2025 karena cuaca ekstrem di Jawa Timur. Tapi, asa pendaki untuk kembali mendaki pada 20 Januari 2025 tampaknya harus pupus usai BB TNBTS memperpanjang masa penutupan Gunung Semeru.
BB TNBTS Perpanjangan Penutupan Gunung Semeru Selama 20 Hari

1. BB TNBTS memperpanjang penutupan Gunung Semeru selama 20 hari
Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraja mengatakan jika mereka akan memperpanjang masa penutupan jalur pendakian Gunung Semeru. Perpanjangan masa penutupan Gunung Semeru ini dikarenakan belum adanya tanda-tanda berakhirnya cuaca ekstrim di Jawa Timur. Oleh karena itu, mereka menerbitkan Surat Pengumuman Nomor: PG.2/T.8/TU/KSA.5.1/B/01/2025.
"Kami mencermati bahwa kondisi cuaca dan dengan mempertimbangkan himbauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait cuaca ekstrem selama bulan Januari tahun 2025. Jadi kami perpanjangan penutupan jalur pendakian Gunung Semeru sampai 8 Februari 2025," terangnya saat dikonfirmasi pada Sabtu (18/1/2025).
2. Penutupan Gunung Semeru sudah dikonsultasikan pada Kementerian Kehutanan
Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni sebenarnya baru membuka kembali jalur pendakian Gunung Semeru pada 23 Desember 2024 setelah 5 tahun ditutup. Tapi jalur ini kembali ditutup seminggu setelah karena faktor cuaca ekstrim. Tapi Rudijanta mengatakan jika penutupan ini sudah melalui konsultasi dengan Kementerian Kehutanan.
"Keputusan ini sudah melalui Menteri Kehutanan Republik Indonesia. Pak Menhut juga menghimbau kepada seluruh calon pengunjung untuk mematuhi keputusan ini dan tidak melakukan aktivitas pendakian secara ilegal," tegasnya.
3. BB TNBTS minta pendaki patuhi keputusan ini demi keselamatan
Lebih lanjut, Rudijanta menegaskan juga kalau keputusan penutupan jalur pendakian Gunung Semeru ini demi keselamatan para pendaki. Pasalnya cuaca masih tidak bisa diprediksi, dan bisa sewaktu-waktu terjadi badai yang membahayakan para pendaki.
"Kami ingin memastikan keselamatan dan kenyamanan pengunjung dari ancaman bencana alam. Karena saat ini cuaca ekstrim masih belum bisa diprediksi kapan akan selesai," pungkasnya.