Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Banjir Rendam 6 Kecamatan di Probolinggo, Pemprov Tanggap Darurat
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat tinjau banjir di Probolinggo. Dok. Pemprov Jatim.
  • Hujan deras pada 21–22 Februari 2026 menyebabkan enam kecamatan di Probolinggo terendam banjir, berdampak pada lebih dari seribu kepala keluarga.
  • Pemprov Jatim bersama Pemkab Probolinggo menerapkan status tanggap darurat, mengerahkan BPBD, Dinas PU, dan TNI-Polri untuk asesmen serta penanganan cepat di lokasi terdampak.
  • Langkah jangka pendek difokuskan pada bantuan dan perbaikan akses, sementara jangka panjang diarahkan ke normalisasi sungai serta penguatan infrastruktur agar risiko banjir berulang bisa ditekan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Probolinggo, IDN Times - Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Probolinggo pada 21–22 Februari 2026 menyebabkan sejumlah sungai meluap dan merendam permukiman warga. Sedikitnya enam kecamatan terdampak serius, yakni Kraksaan, Besuk, Krejengan, Gading, Kotaanyar, dan Pakuniran.

Berdasarkan data sementara, jumlah warga terdampak tercatat sebanyak 1.222 kepala keluarga (KK). Rinciannya, Kecamatan Kraksaan 810 KK, Krejengan 264 KK, Gading 11 KK, Besuk 23 KK, Kotaanyar 14 KK, dan Pakuniran 100 KK.

Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, mengatakan Pemprov Jatim bergerak cepat bersama jajaran Pemkab Probolinggo untuk memastikan keselamatan warga dan percepatan penanganan pascabanjir.

Sebagai langkah tanggap darurat, Pemprov Jatim telah menerjunkan BPBD, Dinas PU Bina Marga, serta Dinas PU Sumber Daya Air (SDA) bersinergi dengan TNI-Polri dan jajaran Pemkab Probolinggo untuk melakukan asesmen lapangan.

Pendataan dilakukan terhadap kerusakan rumah, fasilitas umum, tempat ibadah, hingga sarana pendidikan yang terdampak arus dan genangan. “Kami bersama-sama Bupati Probolinggo memetakan kerusakan, baik ringan, sedang, maupun berat, sebagai dasar penentuan skala prioritas intervensi,” ujar Khofifah.

Ia menegaskan, Pemprov Jatim membawa tim lengkap yang biasa menangani pembangunan jembatan, persoalan sungai, hingga rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana. Penanganan tidak hanya difokuskan pada respons jangka pendek, tetapi juga solusi jangka menengah dan panjang.

Untuk jangka pendek, prioritas diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak, percepatan pembersihan material, serta perbaikan akses jalan dan jembatan. Khofifah menekankan pentingnya percepatan pembersihan hunian mengingat masyarakat tengah menjalankan ibadah puasa dan bersiap menyambut Hari Raya Idulfitri.

Sementara untuk jangka menengah dan panjang, Pemprov Jatim akan mendorong normalisasi sungai, penguatan pondasi di sisi kanan-kiri sungai, serta penataan titik percabangan sungai yang berpotensi menjadi titik rawan luapan. Dukungan alat berat seperti long arm excavator disiapkan untuk mempercepat pengerukan dan normalisasi alur sungai sesuai hasil asesmen.

“Normalisasi sungai memang membutuhkan anggaran yang tidak kecil dan hasilnya tidak selalu terlihat secara kasat mata seperti membangun sekolah atau pasar. Namun ini investasi penting untuk mengurangi risiko banjir berulang,” tegasnya.

Selain itu, perbaikan dan penyesuaian konstruksi jembatan milik Pemprov juga akan dilakukan dengan mempertimbangkan kontur tanah dan debit air guna meningkatkan ketahanan infrastruktur terhadap potensi banjir di masa mendatang.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyoroti pentingnya mitigasi bencana hidrometeorologi. Ia menyebut Jawa Timur termasuk wilayah rawan bencana karena berada di kawasan Ring of Fire. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah dilaksanakan pada 5 Desember 2025 hingga 10 Februari 2026 dan dinilai berhasil meminimalkan risiko bencana.

“Pada Bulan Desember hidrometeorologi sekitar 20 persen, Bulan Januari 58 persen dan Februari sekitar 22 persen. Terbukti pada Bulan Desember–Januari di Jatim bisa terhindar dari bencana hidrometeorologi dan menekan banjir di sejumlah daerah,” ungkapnya.

Pemprov Jatim, lanjutnya, akan berkoordinasi kembali untuk kemungkinan reaktivasi OMC melihat tingginya intensitas hujan.

Sebagai bentuk dukungan langsung, Khofifah menyalurkan bantuan berupa 300 paket sembako, 10 meja lipat, 20 kursi lipat, 20 paket siap saji, 20 paket lauk pauk, 30 paket tambahan gizi, serta 285 paket perlengkapan makan. Selain itu, disalurkan pula 100 paket perlengkapan anak, 90 paket kebersihan, 70 terpal, 4.000 lembar glangsing, 5 set pompa air, 48 jas hujan, 20 pasang sepatu boot, dan 100 bronjong.

Editorial Team