Surabaya, IDN Times - Karnaval dan parade sound horeg di sejumlah daerah Jawa Timur (Jatim) sepanjang Agustus 2026 tidak hanya menyisakan hiruk-pikuk pesta dan dentuman suara. Rentetan kegiatan tersebut juga diwarnai tiga korban meninggal dunia, dengan korban berasal dari berbagai kalangan, mulai kru sound, peserta parade, hingga warga yang kebetulan berada di lokasi kejadian.
Tiga kematian itu terjadi dalam rentang waktu kurang dari sebulan dengan penyebab insiden yang berbeda. Namun, seluruhnya terjadi dalam rangkaian aktivitas sound horeg yang digelar di tengah masyarakat.
Korban pertama adalah SN (29), kru sound horeg asal Jember. Ia meninggal pada Minggu (2/8/2026) setelah kepalanya terbentur gapura Desa Candijati, Kecamatan Arjasa. Peristiwa itu terjadi ketika truk yang mengangkut perangkat sound melintas di bawah gapura setelah rombongan tersebut pulang dari karnaval di Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji.
SN diduga tertidur di atas tumpukan perangkat sound sehingga tidak menyadari posisi tubuhnya berada di atas batas ketinggian gapura. Ketika truk melintas, kepala korban terbentur bagian gapura hingga mengalami luka fatal dan meninggal dunia di lokasi.
“Karena sound-nya tinggi, saat melintasi gapura desa, korban kesampluk gapura,” ujar Kapolsek Arjasa Ipda Mustaqim Romli.
Nyawa berikutnya melayang pada Minggu (23/8/2026). Bonari (44), warga Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, meninggal saat mengikuti parade sound horeg dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Menurut Camat Pesanggaran Didik Eko Wahyudi, sebelum mengikuti parade, Bonari sempat menggelar pesta minuman keras jenis arak. Setelah itu, korban bergabung dengan rombongan sound horeg.
Parade baru berjalan sekitar satu kilometer dari garis start ketika tubuh Bonari tiba-tiba oleng dan terjatuh di aspal. Korban kemudian dilarikan ke Puskesmas Pesanggaran untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong.
Bonari diduga mengalami serangan jantung. Peristiwa tersebut membuat parade sound horeg dihentikan sekitar pukul 20.00 WIB.
Kasus ketiga terjadi di Kabupaten Jember dan menimpa warga yang tidak terlibat langsung sebagai peserta maupun kru sound horeg. Slamet Timbang (57), petani asal Dusun Pondok Jeruk, Desa Wringinagung, Kecamatan Jombang, Jember, meninggal setelah tertimpa kanopi dan tembok bangunan saat mengantar istrinya membeli obat di sebuah apotek.
Slamet saat itu tengah menunggu istrinya yang masuk ke apotek. Di saat bersamaan, rombongan sound horeg melintas di kawasan tersebut. Tiba-tiba bangunan yang dilengkapi kanopi itu ambruk. Slamet yang berada di sekitar lokasi tertimpa material bangunan dan mengalami luka berat pada bagian kepala. Ia dinyatakan meninggal dunia di tempat. “Korban pas menunggu istrinya beli obat. Tidak selang berapa saat, ada suara keras dan korban sudah tersungkur tertimpa tembok. Kondisinya meninggal di tempat,” kata Ulum, warga setempat yang menjadi saksi mata.
Polisi masih menyelidiki penyebab pasti robohnya bangunan tersebut. Dugaan awal, getaran dari sound horeg menjadi salah satu faktor yang memicu bangunan ambruk. Kapolsek Jombang Iptu Imam Kusuma mengatakan pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap penyebab kejadian. “Benar ada kejadian tertimpa kanopi, namun soal penyebabnya masih dalam lidik daripada petugas,” pungkasnya.
