Malang, IDN Times - Musim kemarau yang diikuti dengan fenomena El Nino mulai berdampak kepada beberapa wilayah di Indonesia. Dua kecamatan di Kabupaten Malang juga dilaporkan mulai mengalami kekeringan dan kesulitan air.
Dua Kecamatan di Kabupaten Malang Mulai Terdampak Kekeringan

1. Kekeringan mulai melanda sejak bulan Agustus
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang, Purwoto mengungkapkan jika dua kecamatan yang mulai terdampak kekeringan adalah wilayah Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Kecamatan Gedangan. Dari dua kecamatan ini sebanyak tiga desa mengalami kesulitan mendapat air bersih, ada dua desa di Kecamatan Sumbermanjing Wetan yaitu Desa Sumberagung dan Desa Sitiarjo, sementara di Kecamatan Gedangan adalah Desa Tumpakrejo.
"Sejak memasuki bulan Agustus ini memang ketiga desa ini mulai mengalami kesulitan air atau kekeringan. Sejak tanggal 8-16 Agustus kita telah menyalurkan 80 ribu liter air ke Desa Sumberagung, sementara di Sitiarjo kita saluran 15 ribu liter air sejak 9 Agustus 2026. Sementara di Desa Tumpakrejo sudah kita saluran 60 ribu liter air sejak 12-17 Agustus 2026," terangnya pada Selasa (18/8/2026).
BPBD Kabupaten Malang total telah menyalurkan 155 ribu liter air bersih untuk 3 desa di 2 kecamatan Kabupaten Malang. Pasalnya setidaknya ada 2.224 kepala keluarga atau sekitar 7.606 jiwa yang terdampak kekeringan di ketiga desa tersebut.
2. Akademisi UB berpendapat pemerintah harusnya mulai bersiap dengan dampak kekeringan sejak dini
Dosen prodi Teknik Pengairan Universitas Brawijaya, Dr Ery Suhartanto mengatakan jika saat ini yang lebih penting adalah pemerintah menyiapkan mitigasi menghadapi dampak kekeringan karena fenomena El Nino sedini mungkin. Menurutnya, mitigasi tidak bisa dilakukan saat krisis sudah terjadi, tapi harus dilakukan sejak awal, bahkan sebelum tanda-tanda kekeringan muncul.
Ia menjelaskan jika sebenarnya bencana kekeringan bisa dilihat secara bertahap mulai dari kekeringan meteorologis akibat penurunan curah hujan, kemudian berkembang menjadi kekeringan hidrologis ketika ketersediaan air di sungai, waduk, danau dan sumur mulai berkurang. Jadi harusnya langkah mitigasi mulai dilakukan sejak musim hujan, bukan ketika kekeringan sudah terjadi.
"Jadi yang harus dicegah itu jangan sampai masuk ke kekeringan hidrologis, ketika air di sungai, waduk, danau dan sumur mulai habis. Penggunaan air tanah secara berlebihan juga dapat menimbulkan dampak jangka panjang. Karena air tanah membutuhkan waktu lama untuk pulih, sehingga eksploitasi yang tidak terkendali dapat menyebabkan penurunan muka tanah," jelasnya.
3. Ini langkah yang bisa dilakukan untuk menghadapi kekeringan
Lebih lanjut, Ery berpendapat kalau salah satu langkah konkret yang dapat dilakukan adalah menerapkan konsep Gerakan Menabung Air (GEMAR), yaitu gerakan menyimpan air saat musim hujan untuk digunakan pada musim kemarau. Upaya ini dapat dilakukan melalui pembangunan sumur injeksi (Injection Well) dengan tujuan pengisian kembali akuifer (Aquifer Recharge) untuk menyimpan air di akuifer (Aquifer Storage and Recovery).
Ia menceritakan kalau penerapan sumur injeksi yang diinisiasi ini merupakan Hak Paten Prof Bisri yang merupakan guru besar Teknik Pengairan sekaligus mantan Rektor UB. Salah satu kawasan yang telah menerapkan teknologi ini adalah Kampung Glintung, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Program GEMAR tersebut dikembangkan sejak 2014 hingga sekarang, dan terbukti mampu menjaga ketersediaan air saat musim kemarau panjang, bahkan mengurangi banjir di musim hujan.
"Kadi konsepnya air hujan dimasukkan ke dalam tanah untuk menjaga cadangan air. Ini cara sederhana tapi efektif, karena di sana (Kampung Glintung) sampai sekarang sumber airnya tidak pernah kering," pungkasnya.