Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
127 Guru SLB Dibekali Strategi Intervensi Dini ABK
Pembekalan guru SLB di Tulungagung olehs Tim PKM dari Prodi PKh Unesa. Dok. Unesa.
  • Sebanyak 127 guru SLB di Kabupaten Tulungagung mengikuti pelatihan strategi intervensi dini ABK yang digelar PKh FIP UNESA pada 11 September 2026.
  • Pelatihan memperkuat pemahaman guru untuk menyesuaikan pendampingan dengan karakteristik, kebutuhan, dan tahapan perkembangan tiap anak berkebutuhan khusus.
  • Kegiatan juga menjadi forum berbagi tantangan pendampingan; peserta aktif berdiskusi dan diharapkan menerapkan keterampilan baru dalam pembelajaran serta layanan sekolah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
11 September 2026

Sebanyak 127 guru SLB di Kabupaten Tulungagung mengikuti pelatihan strategi intervensi dini ABK yang digelar PKh FIP UNESA. Pelatihan memperkuat kompetensi guru dalam pendampingan dan layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pelatihan strategi intervensi dini bagi anak berkebutuhan khusus diberikan kepada 127 guru SLB untuk memperkuat kemampuan pendampingan dan layanan pendidikan.
  • Who?
    127 guru SLB yang tergabung dalam KKG SLB Kabupaten Tulungagung mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Khusus FIP Universitas Negeri Surabaya.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung.
  • When?
    Pelatihan digelar pada Jumat, 11 September 2026.
  • Why?
    Pelatihan dilakukan karena pendampingan anak berkebutuhan khusus memerlukan pemahaman sejak dini atas karakteristik, kebutuhan, dan tahapan perkembangan setiap anak.
  • How?
    Program dilaksanakan melalui penguatan materi, diskusi, serta berbagi pengalaman guru mengenai tantangan dan kebutuhan dalam mendampingi peserta didik berkebutuhan khusus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sebanyak 127 guru SLB di Tulungagung ikut pelatihan dari UNESA. Mereka belajar cara membantu anak berkebutuhan khusus lebih awal. Guru juga saling cerita tentang kesulitan di sekolah. Sekarang mereka punya ilmu baru agar bisa mendampingi setiap anak dengan lebih baik dan sabar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pembekalan bagi 127 guru SLB di Tulungagung menunjukkan penguatan kapasitas pendampingan ABK dilakukan secara nyata dan partisipatif. Selain memperoleh strategi intervensi dini, para guru mendapat ruang untuk bertukar pengalaman serta menyampaikan kebutuhan di lapangan. Antusiasme peserta mencerminkan kesiapan untuk menerapkan pendekatan yang lebih sabar, terarah, dan sesuai karakteristik setiap anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Penanganan anak berkebutuhan khusus (ABK) membutuhkan pemahaman yang tepat sejak dini. Karena itu, sebanyak 127 guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kabupaten Tulungagung mendapat pembekalan mengenai strategi intervensi dini agar pendampingan terhadap peserta didik dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing anak.

Pelatihan tersebut digelar Program Studi Pendidikan Khusus (PKh), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Aula Dinas Pendidikan Tulungagung, Jumat (11/9/2026).

Mengusung tema “Pelatihan Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus bagi Kelompok Kerja Guru (KKG) SLB Kabupaten Tulungagung”, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya PKh FIP UNESA memperkuat kompetensi guru dalam memberikan layanan pendidikan dan pendampingan kepada anak berkebutuhan khusus.

Intervensi dini dinilai penting karena setiap anak memiliki karakteristik, kebutuhan, serta tahapan perkembangan yang berbeda. Dengan pemahaman yang memadai, guru diharapkan mampu menentukan bentuk pendampingan yang lebih tepat, terarah, dan sistematis.

Pelatihan tersebut tidak hanya berisi penguatan pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang bagi para guru untuk berbagi pengalaman mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi ketika mendampingi peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Para guru aktif mengikuti materi dan diskusi, termasuk menyampaikan pengalaman serta kebutuhan mereka dalam memberikan pendampingan kepada anak.

Salah seorang peserta mengaku mendapatkan tambahan wawasan sekaligus motivasi untuk meningkatkan kualitas pendampingan terhadap anak berkebutuhan khusus.

“Masya Allah tabarakallah, ingin ibu terima kasih untuk solusinya. Insya Allah saya akan mulai pendampingan putra putri saya yang ABK ini dengan penuh sabar dan ikhlas,” ungkapnya.

Ketua Tim PKM Program Studi PKh FIP UNESA, Khofidotur Rofiah mengatakan, peningkatan kompetensi guru menjadi salah satu kunci untuk menghadirkan layanan pendidikan yang semakin responsif terhadap kebutuhan setiap anak.

“Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan dalam praktik pembelajaran dan pendampingan di sekolah, sehingga kebutuhan perkembangan setiap anak dapat direspons secara lebih tepat dan berkelanjutan,” terangnya.

PKh FIP UNESA, lanjut Khofidotur, berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh para guru dapat diterapkan dalam aktivitas pembelajaran maupun pendampingan di sekolah. "Dengan begitu, layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dapat terus berkembang sesuai kebutuhan dan potensi masing-masing peserta didik," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article