Surabaya, IDN Times - Penanganan anak berkebutuhan khusus (ABK) membutuhkan pemahaman yang tepat sejak dini. Karena itu, sebanyak 127 guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kabupaten Tulungagung mendapat pembekalan mengenai strategi intervensi dini agar pendampingan terhadap peserta didik dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing anak.
Pelatihan tersebut digelar Program Studi Pendidikan Khusus (PKh), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Aula Dinas Pendidikan Tulungagung, Jumat (11/9/2026).
Mengusung tema “Pelatihan Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus bagi Kelompok Kerja Guru (KKG) SLB Kabupaten Tulungagung”, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya PKh FIP UNESA memperkuat kompetensi guru dalam memberikan layanan pendidikan dan pendampingan kepada anak berkebutuhan khusus.
Intervensi dini dinilai penting karena setiap anak memiliki karakteristik, kebutuhan, serta tahapan perkembangan yang berbeda. Dengan pemahaman yang memadai, guru diharapkan mampu menentukan bentuk pendampingan yang lebih tepat, terarah, dan sistematis.
Pelatihan tersebut tidak hanya berisi penguatan pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang bagi para guru untuk berbagi pengalaman mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi ketika mendampingi peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Para guru aktif mengikuti materi dan diskusi, termasuk menyampaikan pengalaman serta kebutuhan mereka dalam memberikan pendampingan kepada anak.
Salah seorang peserta mengaku mendapatkan tambahan wawasan sekaligus motivasi untuk meningkatkan kualitas pendampingan terhadap anak berkebutuhan khusus.
“Masya Allah tabarakallah, ingin ibu terima kasih untuk solusinya. Insya Allah saya akan mulai pendampingan putra putri saya yang ABK ini dengan penuh sabar dan ikhlas,” ungkapnya.
Ketua Tim PKM Program Studi PKh FIP UNESA, Khofidotur Rofiah mengatakan, peningkatan kompetensi guru menjadi salah satu kunci untuk menghadirkan layanan pendidikan yang semakin responsif terhadap kebutuhan setiap anak.
“Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan dalam praktik pembelajaran dan pendampingan di sekolah, sehingga kebutuhan perkembangan setiap anak dapat direspons secara lebih tepat dan berkelanjutan,” terangnya.
PKh FIP UNESA, lanjut Khofidotur, berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh para guru dapat diterapkan dalam aktivitas pembelajaran maupun pendampingan di sekolah. "Dengan begitu, layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dapat terus berkembang sesuai kebutuhan dan potensi masing-masing peserta didik," pungkasnya.
