TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Masalah Biaya, Keluarga Pasien Positif Covid-19 di RSUA Belum Tes Swab

Mereka belum masuk ODP atau PDP

(IDN Times/Arief Rahmat)

Surabaya, IDN Times - Tracing atau pelacakan terhadap orang-orang yang pernah kontak terhadap pasien positif Covid-19 merupakan kewajiban untuk menghentikan laju penularan. Apalagi keluarga pasien yang tentu berinteraksi dekat dengan pasien. Sayangnya, keluarga dua pasien positif Covid-19 yang sedang dirawat di Rumah Sakit Universitas Airlangga hingga saat ini belum diperiksa. Biaya, menjadi kendala utama mereka belum memeriksakan diri hingga saat ini.

1. Keluarga pasien positif belum tes Covid-19

Ilustrasi virus corona (IDN Times/Arief Rahmat)

Jubir Satgas Corona Rumah Sakit Universitas Airlangga, Alfian Nur Rosyid dr., Sp.P, FAPSR mengatakan, keluarga dua pasien positif Covid-19 di RSUA memang belum memeriksakan diri. Mereka baru datang ke RSUA untuk melakukan pendataan diri dan screening saja pada Kamis (19/3).

"Belum kemarin cuma screening aja, swabnya belum," ujar Alfian saat dihubungi IDN Times, Sabtu (21/3).

Sebagai informasi, dua pasien ini memiliki dua keluarga yang berbeda. Mereka tidak saling keterkaitan dan asal penularan juga berbeda meski sama-sama dari local transmission.

2. Terkendala biaya

Ilustrasi Corona (IDN Times/Arief Rahmat)

Alfian mengatakan, para anggota keluarga tak kunjung melakukan tes virus corona melalui swab PCR lantaran terkendala biaya. Ia pun belum mengetahui kapan mereka hendak memeriksakan diri.

"Karena terkait dengan pembiayaan, karena di RSUA masih berbayar ya. Dari ITD sendiri juga belum dapat bantuan dari pemerintah pusat," tutur Alfian. Namun Alfian tidak menyebutkan berapa biaya yang dikenakan pada keluarga tersebut. 

Baca Juga: Daftar Harga Tes Covid-19 Tersebar, RSUA Menyangkal

3. Belum masuk sebagai ODP maupun PDP

(Ilustrasi virus corona) IDN Times/Arief Rahmat

Saat ini, mereka belum dikategorikan sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) atau pun Orang Dalam Pemantauan (ODP) karena tidak menunjukkan gejala sakit apa pun. Alfian menyebut para anggota keluarga tersebut masih berkategori Orang Dalam Risiko (ODR). Oleh karena itu, meski keluarga tersebut sudah memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Surabaya, mereka belum dibiayai oleh Pemerintah Kota Surabaya.

"Ada satu istilah namanya high risk contact, ODP kan sudah gejala tapi gak ada pneumonia. High risk itu udah kontak tapi gak ada gejala. Mereka itu di bawahnya ODP," jelasnya.

Baca Juga: Atasi Virus Corona, Pemkot Malang Anggarkan Dana Rp2,81 Miliar 

Berita Terkini Lainnya