Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Hilangnya Kampung Pacekan Situs Sejarah Kota Surabaya

Hilangnya Kampung Pacekan Situs Sejarah Kota Surabaya
Pintu Air Jagir, situs cagar budaya yang dianggap sebagai lokasi bersauhnya tentara Mongol di Jawa pada 1293 (IDN Times/Thoriq Achmad D A)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti asal-usul Surabaya dari pulau-pulau kecil seperti Pulau Domas, yang dahulu menjadi tempat pembuangan narapidana Mataram Kuno dan berkembang jadi permukiman di bantaran Kalimas.
  • Sungai Kalimas berperan penting dalam sejarah Surabaya, menjadi jalur masuk pasukan Mongol tahun 1293 serta lokasi berbagai situs bersejarah seperti Delta Peneleh dan Pintu Air Jagir.
  • Kampung Pacekan, saksi pertempuran Raden Wijaya melawan Mongol, kini hilang dari peta modern; para sejarawan masih menelusuri jejaknya di kawasan Ngagel sebagai bagian penting sejarah kota.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Surabaya, IDN Times - Dalam serial sebelumnya di momentum Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS), ID N Times telah membahas awal mula berdirinya kota Surabaya yang ditandai keberhasilan tetara Raden Wijaya memukul mudur tentara Mongol sampai di kawasan Hujunggaluh.

Lalu, dalam serial selanjutnya, pembahasan lebih pada beberapa situs sejarah, yang barangkali sudah ratusan tahun tidak ditradisikan menjadi tempat peringatan HJKS. Salah satunya, hilangnya Kampung Pacekan, sebuah kampung di bantara Kalimas yang menjadi saksi pertempuran sengit pasukan Raden Wijaya mengusir tentara Mongol pada tahun 1293 silam.

Hampir semua warga Surabaya mengetahui, bahwa setiap memasuki bulan Mei, Kota Surabaya selalu disibukkan oleh berbagai perhelatan acara untuk memeriahkan HJKS. Salah satu rangkaian pergelaran HJKS yang selalu ramai dan ditunggu-tunggu oleh warga Surabaya adalah parade kostum dan mobil hias dalam acara Surabaya Vaganza. Selain itu, ada juga Festival Rujak Uleg yang menjadi panggung meriah dalam memamerkan kekayaan kuliner khas Surabaya dan Jawa Timuran. Perhelatan meriah dan besar ini dilaksanakan di wilayah Surabaya Pusat seperti Jalan Tunjungan, Tugu Pahlawan, atau Alun-alun Kota Surabaya.

Namun, peringatan HJKS itu hampir tidak menyentuh nilai-nilai sejarah lokal atau penghormatan terhadap situs-situs bersejarah di Surabaya. Padahal, tanggal 31 Mei, yang menjadi landasan historis memperingati kelahiran Kota Pahlawan, menyimpan banyak cerita bersejarah yang menarik. Di samping itu, tempat-tempat terjadinya peristiwa bersejarah sejak zaman Kerajaan Hindu-Budha masih eksis hingga saat ini, meski perlahan-lahan terlupakan.

Lalu, di mana saja situs-situs bersejarah yang mendedahkan perjalanan perabadan Kota Surabaya itu? Simak liputan IDN Times berikut ini.

Çurabhaya: Perkampungan di Bantaran Sungai dan Pulau Pembuangan Narapidana Mataram Kuno

Peta Pulau Domas dan Pulau Dadungan berdasarkan hipotesis oleh von Faber di dalam bukunya Er Werd Een stad Geboren
Peta Pulau Domas dan Pulau Dadungan berdasarkan hipotesis oleh von Faber di dalam bukunya Er Werd Een stad Geboren (IDN Times/Dok. Purnawan Basundoro)

Sebelum menjadi kawasan metropolitan seperti sekarang, Surabaya zaman dahulu merupakan wilayah yang penuh hutan dan rawa-rawa. Bahkan, jauh sebelumnya, wilayah yang sekarang dikenal sebagai Surabaya ini merupakan Kumpulan dari pulau-pulau kecil yang berada di selatan Pulau Madura. Hal ini seperti dijelaskan oleh Purnawan Basundoro, Guru Besar Sejarah Perkotaan di Universitas Airlangga sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya Kota Surabaya.

Di dalam dokumen berjudul Tempat-tempat Bersejarah di Kota Surabaya (Dispusip Kota Surabaya, 2024), Purnawan menjelaskan bahwa cikal bakal Surabaya modern adalah Pulau Domas, salah satu pulau kecil yang menjadi tempat pembuangan narapidana Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-9. Pulau Domas merupakan salah satu dari pulau-pulau kecil lainnya yang ada di bagian timur Sungai Kalimas pada saat itu.

Menjelaskan hal tersebut, Purnawan mengutip Godfried Hariowald von Faber, sejarawan keturunan Jerman-Belanda kelahiran Surabaya. Di dalam bukunya, Er Werd Eenstad Geboren, von Faber juga memperkirakan bahwa Pulau Domas dan pulau-pulau kecil lainnya menjadi tempat tinggal bekas narapidana yang enggan kembali ke kampung halamannya. Para narapidana tersebut kemudian membentuk komunitas-komunitas yang tinggal di bantaran sungai, lalu disusul oleh para pendatang lain dari berbagai daerah.

Populasi penduduk di pulau-pulau kecil tersebut semakin bertambah dari hari ke hari, sehingga wilayah tersebut terbentuk menjadi sejumlah perkampungan dengan aktivitas yang signifikan. Sebagai penduduk kampung di bantaran sungai, mereka mengandalkan jalur air dalam beraktivitas sehari-hari. Hal ini kemudian mendorong terbentuknya Pelabuhan Dadungan yang menjadi salah satu pusat perdagangan penting pada masa itu. Berdasarkan perkiraan von Faber, Pelabuhan Dadungan berada di sekitar lokasi Stasiun Wonokromo saat ini.

Salah satu sumber lain yang juga menunjukkan kondisi geografis Surabaya lampau sebagai pulau-pulau kecil adalah Prasasti Canggu. Prasasti yang bertitimangsa pada abad tahun 1358 Masehi ini menyebutkan wilayah Surabaya sebagai “naditira pradesa” atau desa yang terletak di tepi sungai.

Prasasti Canggu juga menjadi bukti tertua munculnya nama Çurabhaya. Nama ini merupakan cikal bakal nama Surabaya hari ini. Perkembangan nama Surabaya ditemukan secara bertahap dari berbagai arsip, mulai dari Sourabaya, Soerabaja, dan Soerabaia pada abad 17 hingga 20, Surabaya pada akhir 1940-an, hingga Surabaya sejak 1970-an hingga kini.

Sungai Kalimas, Pintu Masuk Pasukan Mongol ke Jawa

Palang informasi di Pintu Air Jagir Ngagel sebagai bangunan cagar budaya dan lokasi bersauhnya pasukan Mongol pada 1293
Palang informasi di Pintu Air Jagir Ngagel sebagai bangunan cagar budaya dan lokasi bersauhnya pasukan Mongol pada 1293 (IDN Times/Thoriq Achmad D A)

Sungai Brantas merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo. Sungai yang memiliki hulu di kaki Gunung Arjuno Kota Batu ini mengalir melalui Malang Raya, Blitar, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Surabaya. Sungai Brantas bermuara di Selat Madura melalui dua cabang, yaitu Kali Porong dan Kalimas.

Salah satu anak sungainya, Kalimas, merupakan situs bersejarah penting di dalam peristiwa pengusiran tentara Mongol dari Pulau Jawa. Mengacu kepada catatan sejarah yang diterjemahkan oleh Groeneveldt di dalam Notes on the Malay Archipelago and Malacca, sungai yang disebut “pa-tsieh” oleh orang-orang Tionghoa tersebut merupakan jalur masuk dan keluarnya pasukan Mongol ketika mereka gagal menginvasi Jawa pada 1293.

Meskipun menjadi salah satu dari dua anak sungai terlebar dari Brantas, pecahan aliran sungai lainnya juga muncul dari aliran utama Kalimas. Di Kota Surabaya, terdapat dua delta atau pecahan sungai Kalimas, yaitu Delta Peneleh dan Delta Jagir. Di salah satu delta tersebut, yaitu Delta Jagir, terdapat Pintu Air Jagir yang tidak hanya berfungsi sebagai pintu pengendalian debit Sungai Kalimas, tetapi juga menjadi situs bersejarah tersendiri.

Pintu Air Jagir merupakan bangunan cagar budaya yang dibangun pada masa era colonial Hindia Belanda sekitar tahun 1922. Aliran Sungai Kalimas yang sering meluap hingga menyebabkan banjir membuat pemerintah kolonial saat itu memikirkan cara agar bisa mengurangi luapan debit sungai utama. Sehingga, sekitar tahun 1865, Delta Jagir dibangun untuk membantu mengurangi aliran Kalimas dan meneruskannya menuju ke timur.

Melihat sejarah pembangunan jalur air tersebut, bisa dipastikan bahwa Delta Jagir dan pintu airnya merupakan proyek buatan yang baru dibentuk jauh setelah peristiwa invasi Mongol ke Jawa pada 1293. Namun, di area Pintu Air Jagir, terdapat palang penanda yang menyebutkan bahwa dam ini merupakan lokasi bersauhnya tentara Tar-tar yang akan menyerang Kediri pada akhir abad ke-13 tersebut.

Hal ini kemudian mendapat pertentangan dari banyak pegiat sejarah bahwa pernyataan tersebut kurang tepat. Pasalnya, melihat dari jejak sejarah antara dua delta Kalimas tersebut, Delta Peneleh ternyata merupakan pecahan sungai alami yang sudah ada sejak era Majapahit. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya Sumur Jobong di Kampung Peneleh yang dibangun sekitar tahun 1430-an. Sumur Jobong ini menandai adanya peradaban tertua yang tersentuh pengaruh Majapahit di dekat Delta Peneleh tersebut.

Kampung Pacekan yang Hilang

Ilustrasi kawasan perairan Surabaya pada masa kolonial Hindia Belanda, sektiar abad 17 hingga 18
Ilustrasi kawasan perairan Surabaya pada masa kolonial Hindia Belanda, sektiar abad 17 hingga 18 (picryl.com)

Meskipun pelacakan sejarah menyimpulkan bahwa Delta Peneleh lebih tua dari Delta Jagir, bukan berarti kawasan aliran air di daerah Wonokromo absen dari peristiwa historis sejak masa klasik kerajaan Hindu-Budha di Jawa. Salah satu situs sejarah lain yang penting untuk dilihat adalah nama Kampung Pacekan yang kini sudah tidak ditemukan lagi.

Kampung Pacekan merupakan salah satu kampung yang berada di bantaran Kalimas. Berdasarkan perkiraan Groeneveldt, nama sungai “pa-tsieh-kan” yang berarti sungai kecil tersebut berkaitan dengan Kampung Patjekan yang masih eksis pada peta Surabaya tahun 1800-an. Merujuk pada peta Kaart van de Hoofdplaats Soerabaja en omstreken - Top. Bur. v.d. Gen. Staf, Batavia, lokasi Patjekan tersebut berada di daerah Ngagel, tepatnya di sisi timur Kalimas dan sisi utara Delta Jagir.

Nama sungai “pa-tsieh-kan” atau Kampung Patjekan kini sudah tidak digunakan lagi. Bila merujuk pada peta Kota Surabaya hari ini, lokasi Kampung Patjekan tersebut kini ditempati oleh PDAM Surya Sembada di Ngagel Tirto. Perusahaan air ini yang kini mengontrol instalasi pengelolaan air minum (IPAM) dan juga Pintu Air Jagir.

Hilangnya nama Patjekan yang dianggap sebagai situs penting di balik peringatan HJKS tersebut masih mendapatakan perhatian dari banyak kalangan, mulai dari individu pegiat sejarah hingga institusi pendidikan tinggi. Gusti Oka Mahendra atau Hendra (36 tahun), pegiat sejarah di Kota Surabaya, juga turut aktif menelusuri berbagai situs bersejarah yang menunjukkan awal mula Kota Surabaya saat ini, seperti eks-wilayah Patjekan.

Menurut pendapat Hendra, menganggap Patjekan sebagai salah satu lokasi penting yang berkaitan dengan peristiwa mundurnya tentara Mongol oleh Raden Wijaya sah-sah saja. Pasalnya, jika Delta Jagir dianggap sebagai delta buatan yang belum eksis pada masa Majapahit, Patjekan tetap merupakan kampung yang berlokasi di bantaran Kalimas.

“Pacekan itu, kan, melewati Wonokromo yang notabene dahulu itu hutan yang ada di jajaran Pegunungan Kendeng. Daerah Wonokromo itu juga menjadi lokasi benteng yang ikut menaklukkan tentara Mongol,” tutur Hendra kepada IDN Times pada Senin (11/5/2026).

Jika melihat kembali peta von Faber yang mengilustrasikan kawasan Surabaya awal abad ke-9, lokasi Patjekan kira-kira berada di ujung bagian selatan Pulau Domas atau sisi barat Pulau Dadungan yang menjadi salah satu pelabuhan penting di era Mataram Kuno tersebut. Dalam perkembangan zaman, Pelabuhan Dadungan sebagai kawasan maritim yang strategis tidak hanya berfungsi sebagai pusat perdagangan yang vital, tetapi juga menjadi basis angkatan laut kerajaan.

"Daerah Wonokromo, Dinoyo, dan sekitarnya itu dulu adalah tangsi (barak serdadu), jadi tidak jauh-jauh dari sebuah benteng atau tempat yang harus dilindungi,” ujar Hendra.

Hilangnya nama Patjekan hingga saat ini masih menjadi salah satu puzzle yang perlu dicari jawabannya oleh para pegiat sejarah di Surabaya. Menurut Hendra, perubahan nama Kampung Patjekan terjadi pada era kolonial Hindia Belanda. Namun, faktor yang menyebabkan perubahan nama tersebut masih menjadi tanda tanya besar.

"Saat itu pun nggak serta merta langsung berubah. Tetapi mungkin ada suatu wacana tertentu, sehingga Pacekan itu diubah namanya,” sambungnya.

Selain Patjekan, situs sejarah lainnya yang juga masih diperdebatkan adalah lokasi Hujunggaluh. Hujunggaluh ini merupakan lokasi pasukan Mongol membuat pertahanan sesampainya di Pulau Jawa. Menurut sejarawan seperti Slamet Muljana di dalam buku Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit (LKiS Yogyakarta, 2005), Hujunggaluh merupakan muara sungai Brantas yang menjadi pintu masuk pasukan Mongol saat hendak menyerang Kerajaan Kediri.

Keterangan terkait Hujunggaluh sebagai muara Brantas ini kemudian melahirkan dugaan bahwa lokasinya merupakan muara Kalimas yang berada di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak hari ini. Namun, hipotesis ini dibantah oleh beberapa akademisi sejarah, salah satunya J. G. de Casparis.

De Casparis dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Airlangga tahun 1958 berpendapat bahwa Hujunggaluh bukan muara sungai di Surabaya, alih-alih merupakan hulu Sungai Kalimas yang berada di Mojokerto. Pendapat ini didasarkan pada analisisnya terhadap Prasasti Kamalagyan yang bertitimangsa 959 Saka atau 1037 Masehi, yaitu pada masa kekuasaan Raja Airlangga di Kahuripan.

"Karena dalam prasasti Kelagen (Kamalagyan) dikatakan bahwa pengaturan sungai itu sangat menggembirakan para pedagang dari pulau-pulau yang lain yang sekarang dapat belajar terus sampai ke Hujunggaluh, maka Hujunggaluh tersebut tentu letaknya lebih di sebelah hulu sungai dari Kelagen. Tempatnya mungkin tidak jauh dari Mojokerto yang sekarang," jelas de Casparis di dalam pidatonya tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin

Latest News Jawa Timur

See More