Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Santri Temboro Asal Madiun Jalani Rapid Test, Dua Reaktif
Ilustrasi virus corona. IDN Times/Mia Amalia

Madiun,IDN Times – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun mengantisipasi penyebaran virus corona atau COVID-19 dari klaster Pondok Pesantren Al-Fatah, Temboro. Kabupaten Magetan dengan menggelar rapid test di tujuh Puskesmas. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun dr. Soelistyo Widyantono tes cepat itu diberlakukan bagi para santri asal Madiun yang menempuh studi di sana.

Apalagi, pemerintah Malaysia juga telah menyebut Temboro sebagai klaster baru usai 43 santri asal negeri Jiran itu positif COVID-19. “Tapi, kami belum menerima data jumlah santri Temboro yang  warga sini,” ujar Soelis, Kamis (23/4).

1.Terdata mengikuti tes cepat, seorang santri tak hadir

Ilustrasi. Sejumlah santri Pondok Al-Fatah, Temboro, Magetan sedang mengisi data sebelum mengikuti rapid test COVID-19 di Puskesmas Mejayan, Kabupaten Madiun, Kamis (23/4). IDN Times/Nofika Dian Nugroho

Secara umum, data santri pesantren Temboro belum dikantongi Dinas Kesehatan. Namun demikian, rapid test sudah dijalankan di Puskesmas Mejayan. Sebanyak 13 santri yang baru pulang dari pesantren terdaftar untuk diuji cepat. Namun, seorang di antaranya tidak hadir.

Kepala Puskesmas Mejayan dr. Lilik Puji Restini, mengatakan seorang santri absen lantaran masih berada di pesantren. “Berdasarkan informasi yang kami terima, bagi santri yang tingkatan (pendidikannya) tinggi diminta tetap tinggal di pondok,” kata Lilik.

2. Dua dinyatakan reaktif dan dirujuk ke RSUD Caruban

Ilustrasi rapid test (IDN Times/Nofika Dian Nugroho)

Hasil dari tes cepat itu menyebutkan dua santri diketahui reaktif COVID-19. Keduanya bakal dirujuk ke RSUD Caruban, Kabupaten Madiun untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Mereka tidak mengeluh apa-apa. Tapi, tetap harus dicek lagi, baik rapid test maupun tes swab,” jelas Lilik.

Ia menegaskan, hasil rapid test tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan seseorang positif atau negatif COVID-19. Sebab, tingkat akurasinya hanya sekitar 30 persen lantaran dipengaruhi antibodi seseorang yang diuji.

4. Rapid test perlu diulang

Seorang santriwati Pondok Al-Fatah, Temboro, Magetan sedang menjalani rapid test di Puskesmas Mejayan, Kabupaten Madiun. Kamis (23/4). IDN Times/Nofika Dian Nugroho

Sedangkan bagi sepuluh santri yang mengikuti tes cepat di Puskesmas Mejayan, dinyatakan non reaktif COVID-19. Tetapi, mereka tetap diwajibkan mengisolasi diri secara mandiri. Jika ada keluahan sesak nafas maupun gangguan pencernaan, maka rapid test perlu diulang.

Sementara itu, untuk melakukan tes cepat, pihak Puskesmas Mejayan menerima 20 buah alat dari Dinas Kesehatan. Alat dengan jumlah yang sama juga diterima di enam puskesmas lain, seperti di wilayah Kecamatan Geger dan Kebonsari.

Editorial Team

Related Article