Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Melemah, Mahasiswa Cipayung Plus Bakar Ban di Depan BI Jatim
Aksi bakar ban di depan BI Jatim. (Dok. Istimewa)
  • Mahasiswa Cipayung Plus Jatim menggelar aksi di depan BI Surabaya memprotes melemahnya rupiah dan menilai kebijakan moneter gagal menjaga stabilitas ekonomi nasional.
  • Aksi sempat memanas saat mahasiswa membakar ban karena tuntutan bertemu Gubernur BI tidak dipenuhi, namun polisi cepat memadamkan api dan mengamankan situasi.
  • Massa membawa tujuh tuntutan utama, termasuk transparansi peta jalan penyelamatan rupiah, evaluasi kinerja BI oleh DPR, hingga desakan pencopotan Gubernur BI beserta jajarannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus Jawa Timur menggelar aksi di depan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur Jalan Pahlawan, Surabaya, Rabu (10/6/2026). Gelombang demonstrasi ini dipicu atas melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dalam aksi tersebut mahasiswa memprotes BI atas kebijakan moneter yang dinilai gagal menjaga stabilitas rupiah. Apalagi, nilai rupiah belakangan ini menjadi yang paling rendah dalam sejarah.

Aksi yang semula tertib ini sempat memanas. Mahasiswa membakar ban lantaran tuntutan mereka untuk ditemui Gubernur BI tak kunjung dipenuhi.

Beruntung, petugas kepolisian bergerak cepat memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR).

Koordinator Lapangan aksi, Muhammad Ivan Akiedozawa, menyatakan bahwa Indonesia saat ini menghadapi bayang-bayang krisis moneter. Hal ini dipicu dari adanya kebijakan yang mengandalkan anggaran besar berpotensi menimbulkan efek domino terhadap stabilitas ekonomi.

Menurutnya, rupiah bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol kedaulatan bangsa, sehingga BI wajib menjadi benteng utama pertahanan ekonomi nasional. "Bank Indonesia harus menjadi benteng utama pertahanan ekonomi nasional, bukan sekadar menjadi penonton ketika rupiah terus melemah," ujarnya saat orasi.

Dalam aksi ini, mahasiswa membawa tujuh tuntutan utama. Pertama mendesak BI membuka peta jalan penyelamatan rupiah secara transparan, kedua meminta DPR melakukan evaluasi total terhadap kinerja BI.

Ketiga memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter, keempat mendorong reformasi kelembagaan BI, kelima meminta seluruh pejabat BI bekerja lebih serius menjaga martabat rupiah.

Keenam mendesak pencopotan Gubernur BI beserta jajarannya dan ketujuh meminta Kepala Perwakilan BI Jatim melakukan sumpah mubahalah.

Pada aksi tersebut , massa menantang Kepala Perwakilan BI Jatim untuk melakukan sumpah mubahalah guna membuktikan integritasnya. Meski sempat ada perwakilan BI yang menemui dan bersedia mengucapkan sumpah tersebut, situasi kembali tegang saat perwakilan BI meminta mahasiswa melakukan hal serupa.

Menolak permintaan itu, massa kembali menuntut kehadiran Gubernur BI dan mengancam akan menggelar aksi lanjutan dengan massa yang lebih besar jika tuntutan mereka diabaikan.

Editorial Team

Related Article