Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Loyo, Kedelai Mahal, UMKM Sule Kena Getahnya
Proses pembuatan susu kedelai rumahan di salah satu UMKM Gresik. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Pelemahan rupiah hingga Rp17.800 per dolar AS bikin harga bahan baku impor seperti kedelai dan plastik naik tajam, menekan pelaku UMKM di Jawa Timur.
  • Udin, produsen susu kedelai rumahan di Gresik, terpaksa menaikkan harga jual produknya karena biaya produksi melonjak akibat kenaikan harga kedelai dan kemasan plastik.
  • Daya beli masyarakat yang menurun membuat penjualan susu kedelai Udin ikut turun, sehingga ia berharap pemerintah bisa menstabilkan harga bahan baku agar usaha kecil tetap bertahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gresik, IDN Times - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha kecil di Jawa Timur (Jatim). Kenaikan harga bahan baku impor seperti kedelai dan kemasan plastik membuat biaya produksi membengkak, sementara daya beli masyarakat justru melemah.

Salah satu yang terdampak adalah Udin, produsen susu kedelai (Sule) rumahan di Desa Mojosarirejo, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik. Di tengah kurs dolar yang menembus kisaran Rp17.800 per dolar AS, Udin mengaku harus memutar otak agar usahanya tetap bertahan.

Harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama produksinya kini melonjak hingga Rp11 ribu-Rp12 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya harga kedelai masih berada di bawah Rp9 ribu per kilogram, normalnya kisaran Rp8.400-Rp8.600.

"Untuk harga kedelai biasanya di bawah Rp9.000, sekarang naik jadi Rp11.000 sampai Rp12.000 per kilogram. Untuk mengakali produksi ya kami mengurangi takaran dan menaikkan harga sedikit supaya usaha tetap jalan," ujar Udin kepada IDN Times, Selasa (2/6/2026).

Kenaikan harga bahan baku itu sejalan dengan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim. Per 2 Juni 2026, harga rata-rata kedelai impor di Jatim mencapai Rp12.591 per kilogram. Harga tertinggi tercatat di Kabupaten Mojokerto sebesar Rp16.562 per kilogram, sementara terendah di Kabupaten Bondowoso Rp9.725 per kilogram.

Tak hanya kedelai, lonjakan harga juga terjadi pada bahan kemasan plastik yang sebagian besar bergantung pada bahan baku impor dan pergerakan nilai tukar dolar. Udin menyebut harga plastik kemasan yang sebelumnya sekitar Rp12 ribu per ikat kini melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp23 ribu.

"Itu sangat berpengaruh. Harga plastik biasanya satu ikat Rp12.000, sekarang tembus Rp23.000," ungkapnya.

Kondisi tersebut memaksa Udin menaikkan harga jual produknya. Susu kedelai kemasan plastik yang sebelumnya dijual Rp3.000 per bungkus kini naik menjadi Rp3.500. Sementara susu kedelai dalam kemasan botol naik dari Rp5.000 menjadi Rp7.000 per botol.

Namun kenaikan harga tidak otomatis menutup biaya produksi yang membengkak. Sebab, di saat yang sama daya beli masyarakat ikut menurun. Menurut Udin, penjualan susu kedelainya kini tidak lagi sebaik beberapa bulan lalu. Jika sebelumnya 180 bungkus dan botol yang dibawa selalu habis terjual dalam sehari, kini masih sering menyisakan stok.

"Dulu bawa 180 bungkus dan botol habis. Sekarang ada sisa. Bisa laku 160 sampai 170 saja sudah bersyukur," katanya.

Penurunan penjualan itu menjadi pukulan ganda bagi pelaku usaha mikro. Di satu sisi biaya produksi naik akibat mahalnya bahan baku, di sisi lain konsumen mulai mengurangi pengeluaran karena tekanan ekonomi.

Udin berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan baku agar pelaku usaha kecil tidak semakin tertekan. "Harapan saya sebagai pengusaha kecil, kalau bisa harga diturunkan supaya kami tetap bisa produksi dan ekonomi tetap berputar," pungkasnya.

Editorial Team

Related Article