Kisah Zahira, Difabel Daksa yang Menembus Unesa

- Zahira Dewi Kirana Lestari, penyandang disabilitas daksa asal Kediri, berhasil diterima di Program Studi Sastra Inggris Unesa melalui beasiswa KIP Kuliah.
- Sejak SMA, Zahira aktif belajar dan berprestasi meski memiliki keterbatasan fisik, serta menumbuhkan minat besar terhadap bahasa dan budaya asing.
- Unesa menyeleksi penerima KIP Kuliah secara ketat dan memberikan pendampingan akademik serta kesempatan pengembangan diri bagi mahasiswa berprestasi seperti Zahira.
Surabaya, IDN Times - Di sudut sebuah toko kelontong sederhana di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Zahira Dewi Kirana Lestari terbiasa menyambut pembeli dengan senyum. Tangannya sigap membantu sang ibu menghitung belanjaan, membungkus kebutuhan pelanggan, hingga merapikan barang dagangan. Rutinitas itu dijalaninya hampir setiap hari sepulang sekolah.
Tak banyak yang tahu, di balik kesederhanaan toko kecil tersebut, tersimpan mimpi besar seorang gadis penyandang disabilitas daksa. Mimpi yang selama bertahun-tahun ia rawat dalam diam: menjadi mahasiswa. Kini, mimpi itu tak lagi sekadar angan.
Zahira resmi diterima di Program Studi S-1 Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Bagi sebagian orang, diterima di perguruan tinggi mungkin hanya menjadi awal perjalanan baru. Namun bagi Zahira, momen itu adalah bukti bahwa keterbatasan fisik tak pernah mampu membatasi cita-cita.
Sejak kecil, Surabaya bukanlah kota yang asing baginya. Ia beberapa kali datang untuk menjalani kontrol kesehatan. Dari perjalanan-perjalanan itulah tumbuh rasa akrab terhadap Kota Pahlawan. Ketika mulai memikirkan masa depan selepas SMA, pilihannya jatuh pada Surabaya.
"Dari SMA memang sudah ingin kuliah. Saya ingin kuliah di Surabaya karena sejak kecil pernah kontrol di sana, jadi sudah merasa lebih familiar dengan Surabaya," ujarnya.
Keinginan kuliah itu bukan muncul tiba-tiba. Sejak duduk di bangku MAN 3 Kediri, Zahira telah mempersiapkan diri. Ia aktif belajar, mengikuti Olimpiade Sains Madrasah, dan terus meningkatkan kemampuan akademiknya. Di mata guru dan teman-temannya, Zahira dikenal sebagai pribadi yang ceria. Bukan sosok yang larut dalam keterbatasan, melainkan gadis yang mudah bergaul, aktif berdiskusi, dan tak pernah kehilangan semangat.
Bahasa Inggris menjadi dunia yang sejak lama menarik perhatian Zahira. Film, musik, hingga bacaan berbahasa Inggris membuatnya penasaran terhadap kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia. Karena itulah ia memilih Sastra Inggris.
Bukan hanya ingin fasih berbahasa asing, tetapi juga ingin memahami budaya, cara berpikir, hingga kehidupan masyarakat negara lain. Bahkan, sejak sebelum resmi menjadi mahasiswa, ia telah menyimpan satu impian lain. Suatu hari nanti, ia ingin mengikuti program pertukaran mahasiswa ke luar negeri.
"Saya ingin belajar bahasa dan budaya lain. Kalau ada kesempatan, ingin mencoba exchange ke luar negeri," ujarnya penuh harap.
Perjalanan Zahira menuju bangku kuliah tidak hanya diwarnai perjuangan belajar, tetapi juga perjuangan melawan stigma bahwa penyandang disabilitas memiliki ruang yang lebih sempit untuk bermimpi. Melalui KIP Kuliah, jalan itu perlahan terbuka. Bukan sekadar bantuan biaya pendidikan, tetapi kesempatan untuk membuktikan bahwa potensi seseorang tidak pernah ditentukan oleh kondisi fisiknya.
Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi mengatakan, setiap penerima KIP Kuliah memiliki kisah perjuangan yang berbeda. Seleksi dilakukan secara menyeluruh agar beasiswa benar-benar diterima mahasiswa yang membutuhkan sekaligus memiliki motivasi kuat untuk berkembang.
"Kami melakukan seleksi secara ketat karena kuota penerima KIP Kuliah terbatas. Kami melihat berbagai aspek, mulai dari kondisi ekonomi, prestasi, hingga motivasi mahasiswa untuk berkembang. Itu dilakukan untuk memastikan beasiswa tepat sasaran," katanya.
Menurut Martadi, pendampingan kepada mahasiswa penerima KIP Kuliah tidak berhenti setelah mereka dinyatakan lolos. Unesa juga menyiapkan pendampingan akademik, organisasi kemahasiswaan, pengembangan prestasi, hingga kesempatan mengikuti program mobilitas mahasiswa di dalam maupun luar negeri.



















