Puncak Belanja Lebaran di Jatim Naik di Atas 20 Persen

Puncak belanja Lebaran 2026 di Jawa Timur terjadi pada akhir pekan minggu ketiga dan keempat Ramadan, dengan peningkatan transaksi lebih dari 20 persen, terutama di Surabaya.
Penjualan ritel dan fesyen melonjak tajam; omzet harian gerai fesyen naik dari sekitar Rp700 juta menjadi hingga Rp3 miliar per hari selama empat hari puncak.
APPBI Jatim mencatat lonjakan ini menyumbang sekitar 20 persen dari total omzet tahunan Rp15 triliun, namun tren belanja diperkirakan menurun setelah periode puncak.
Surabaya, IDN Times - Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jawa Timur (Jatim), Sutandi Purnomo membeberkan bahwa saat ini masih menjadi periode puncak belanja Lebaran 2026. Ia menambahkan, periode puncak tersebut terjadi pada akhir pekan di minggu ketiga dan keempat Ramadan.
“Selama bulan puasa, puncak penjualan itu hanya terjadi empat hari. Tapi peningkatannya bisa di atas 20 persen, khususnya di Surabaya,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Sutandi menjelaskan, lonjakan transaksi dalam waktu singkat itu bahkan mampu menutup target peningkatan omzet selama satu bulan penuh. Sejumlah gerai mencatat kenaikan signifikan, terutama di sektor ritel dan fesyen.
Salah satu contohnya, penjualan di supermarket bisa naik hingga 25 persen. Sementara di gerai fesyen, peningkatan jauh lebih drastis. Rata-rata penjualan harian yang biasanya sekitar Rp700 juta melonjak menjadi Rp2,5 miliar hingga Rp3 miliar per hari selama periode puncak.
“Artinya bisa empat kali lipat, tapi memang hanya terjadi dalam empat hari itu,” jelasnya.
Secara keseluruhan, APPBI Jatim memperkirakan lonjakan tersebut berkontribusi sekitar 20 persen terhadap total omzet tahunan pusat perbelanjaan di Jawa Timur yang mencapai sekitar Rp15 triliun.
Tingginya aktivitas belanja juga berdampak pada kepadatan di sejumlah pusat perbelanjaan. Hampir seluruh mal di Surabaya dipadati pengunjung, mulai dari kawasan pusat kota hingga wilayah barat dan timur.
“Semua mal ramai dan merata. Ini menunjukkan daya beli masyarakat masih cukup kuat di momentum Lebaran,” katanya.
Meski demikian, Sutandi memperkirakan tren belanja akan mulai melandai setelah puncak tersebut. Pada periode mendekati dan setelah Lebaran, peningkatan transaksi diprediksi hanya berkisar sekitar 10 persen.
Di Jatim, lanjutnya, terdapat sekitar 47 pusat perbelanjaan yang tergabung dalam APPBI, dengan 17 di antaranya berada di Surabaya sebagai episentrum aktivitas ritel.
Sutandi menegaskan, pelaku usaha ritel tetap harus mengantisipasi potensi penurunan pasca-Lebaran tanpa terlalu bergantung pada intervensi pemerintah. “Kita sebagai pengusaha harus bisa survive sendiri. Tidak bisa berharap pada sesuatu yang di luar kendali,” pungkasnya.


















