Surabaya, IDN Times - Tiga Calon Gubernur Jawa Timur (Cagub Jatim) punya cara masing-masing untuk mengatasi perubahan iklim. Ada yang membangun tanggul, penyemaian pohon massal, hingga membuat kebijakan tepat untuk memitigasi perubahan iklim.
Cagub nomor urut 3, Tri Rismaharini ingin membangun tanggul untuk mengatasi banjir rob dan penanaman hutan untuk mencegah erosi. Cagub nomor urut 2, Khofifah Indar Parawansa akan melakukan penyemaian massal di wilayah-wilayah pegunungan yang memiliki kemiringan terjal. Kemudian, cagub nomor urut 1. Luluk Nur Hamidah akan membuat kibijakan tepat.
Risma mengatakan, perubahan iklim mengakibatkan terjadinya beberapa bencana alam. Untuk itu, ia akan melakukan antisipasi agar saat bencana hidrometeorologi terjadi, suatu kawasan tak kena dampaknya.
"Saat hidrometrologi yang cukup besar maka kita bisa menjamin bahwa kawasan-kawasan tersebut bisa aman dari longsor dan banjir," ujar Risma.
"Yang kedua adalah di mana kawasan rentan itu kita bisa mengelolah, kita bisa menanam kembali pohon-pohon itu untuk mencegah longsor," imbuh Risma.
Lalu untuk mencegah banjir rob akibat pemanasan bumi, Risma akan membangun tanggul-tanggul yang akan direalisasikan dari Kawasan Bangkalan hingga Sumenep. Tanggul juga bisa dimanfaatkan untuk infrastruktur ramah lingkungan, seperti membangun kerera api.
"Ketika jalan tersebut sudah bisa diakses maka kita bangun rel tersebut untuk infrastruktur yang lebih maksimal, untuk kereta api, karena dengan angkutan kereta api itu bisa lebih mudah dan lebih murah," terangnya.
Selain itu, Risma juga menyebut masyarakat beralih menggunakan transportasi yang ramah lingkungan. Yakni menggunakan kendaraan listrik.
"Berikutnya adalah bagaimana kita bisa menekan kendaraan yang lebih ramah lingkungan," sebut dia.
Sementara itu, Khofifah mengatakan, saat ini yang menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Provinsi Jawa Timur adalah soal kebakaran hutan dan erosi dataran tinggi. Oleh karena itu, pihaknya telah melakukan semai massal terutama di kawasan pegunungan dengan lereng terjal yang bekerjasama dengan TNI AU untuk penyemaian di udara.
"Kita mencari format memastikan hutan-hutan di gunung ini bisa kita semai, bisa menjadi bagian dari penyimpan air, bagaimana melakukan modifikasinya, maka semua elemen yang terkait dengan erosiding akan kita libatkan bersama dan kita sudah lakukan itu selama 3 tahun berturut-turut, harapannya kita bisa menjaga hutan secara bersama-sama," ungkap dia.
Kemudian, Cagub Luluk mengatakan, perubahan iklim diakibatkan oleh kebijakan yang keliru dan sebuah sikap terhadap lingkungan yang tidak tepat. Karena menurutnya, kerusakan yang ada dikarena oleh kebijakan yanh tidak tapat.
"Aa yang perlu Kita renungkan bahwa kerusakan di darat dan di laut itu disebabkan kerusakan tangan-tangan manusia oleh karena itu tidak ada takdir terkait perubahan iklim, kecuali ada orang yang serakah dan kebijakan yang tidak tepat," jelasnya.
Menurutnya, Gubernur harus memastikan untik membuat kebijakan yang bisa memitigasi perubahan iklim. Hal ini sesuai dengan peraturan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KekemenKLHK) nomor 12 tahun 2024 nomot 33.
"Sesuai dengan KemenKLH nomor 12 2024 pasal 33 bahwa gubernur wajid menyusun terget mitigasi perubahan iklim," sebut Lukuk.
Luluk akan menjadi mitigasi perubahan iklim sebagai program prioritasnya. Sehingga perubahan iklim tidak menjadi ancaman bagi pertanian dan perikanan di Jawa Timur.
"Mbak Luluk dan Mas Lukman akan menjadikan program prioritas kita, memastikan bahwa perubahan iklim ini harus dimitigasi secara baik, sehingga kita bisa menyelamatkan agrikultur kita, petani kita nelayan kita sehingga bisa mencegah banjir dan lain sebagainya," pungkas dia.
