Surabaya, IDN Times - Tingginya angka pernikahan dini di Jawa Timur menjadi salah satu faktor penghambat penurunan stunting. Berdasarkan data Dispensasi Kawin Pengadilan Tinggi Agama Surabaya, jumlah perkara diterima 10.275 Kasus dan dikabulkan 9.863 kasus atau 96 persen.
Pernikahan Dini Jadi Penghambat Penurunan Stunting di Jatim

1. Data pernikahan dini di daerah relevan dengan tingginya stunting
Koordinator Bidang Litbang Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Sukamto mengatakan, data pernikahan dini di sejumlah daerah cukup relevan dengan tingginya angka stunting di daerah tersebut.
"Data pernikahan dini dibandingkan dengan kabupaten yang stuntingnya tinggi kok ada relevan, artinya ada kaitannya, kalau nikah dini otomatis mental belum siap, fisik juga belum siap," ujar Sukamto, Jumat (30/12/2022).
Adapun 10 Kabupaten/Kota yang tertinggi pernikahan dininya adalah Jember 880 perkawinan, Malang 845 perkawinan, Probolinggo 770 perkawinan, Lumajang 566 perkawinan, Banyuwangi 563 perkawinan, .Bondowoso 471 perkawinan, Pasuruan 464 perkawinan, Bojonegoro 369 perkawinan,. Situbondo 346 perkawinan dan. Kediri 346 perkawinan.
Sementara, 10 daerah di Jawa Timur yang angka stuntingnya tertinggi adalah Bangkalan 38,9 persen, Pamekasan 38,7 persen, Bondowoso 37 persen, Lumajang 30,1 persen, Sumenep 29 persen, Kota Surabaya 28,9 persen, Mojokerto 27,4 persen, Malang 25,7 persen, Kota Malang 25,7 persen dan Nganjuk 25,3 persen.
2. BKKBN targetkan stunting turun 16,83 persen
Berdasarkan data Survey Status Gizi Balita Indonesia (SSGI) 2021 bahwa angka stunting Nasional 24,4 persen, sedangkan Jawa Timur 23,5 persen, pihaknya menarget tahun 2023 turun hingga 16,83 persen
“Tahun 2022, datanya belum keluar, hingga 2024 kita targetnya 13,51 persen,” kata dia.
3. Faktor lain penghambat penurunan stunting
Menurut Sukamto, faktor tingginya angka stunting bukan hanya pernikahan dini. Ada faktor lain yang juga menyumbang angka stunting yakni kemiskinan, sanitasi, kesehatan, pendidikan dan air bersih, faktor itu menyumbang sekitar 70 persen.
"30 persennya spesifik apa yang ada langsung pada keluarga, satu karena calon pengantin yang usianya di bawah standart, ibu hamil, ibu menyusui yang kekuragn gizi, kemudian pengasuhan anak," pungkas dia,