Malang, IDN Times - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Republik Indonesia (RI), Dody Hanggodo pada Jumat (6/11/2026) datang ke Universitas Brawijaya (UB) untuk menghadapi Seminar Nasional Komite Nasional Indonesia untuk Bendungan Besar (KNIBB). Di sana ia menyoroti kondisi Bendungan Sutami yang ada di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang yang mengalami pendangkalan parah.
Menteri PU Soroti Kondisi Bendungan Sutami Malang Kini
Take a Deeper Read
1. Menteri PU sebut Bendungan Sutami sebagai contoh kurangnya perawatan bendungan besar
Dody menyampaikan jika ia sangat menyayangkan pendangkalan dan menurunnya kualitas bendungan di Bendungan Sutami saat ini. Menurutnya, sebenarnya merrka lumayan agak terlambat untuk melakukan revitalisasi pada bendungan seluas 1.5000 hektare ini.
"Tapi enggak ada kata-kata terlambat, walaupun maksudnya sudah terlambat, tapi kita tetap berupaya. Karena kita melihat ke belakang apa yang sudah kita bangun, itu harus wajib kita preserve," terangnya.
Tidak hanya Bendungan Sutami, Dody juga melihat ada beberapa bendungan di Indonesia yang memerlukan revitalisasi, apalagi bendungan-bendungan ini setiap tahun menghadapi berbagai fenomena alam yang bisa menyebabkan pendangkalan dan penurunan kualitas bangunan. Oleh karena itu, perlu adanya revitalisasi untuk mendukung ketahanan pangan, ketahanan energi dan air.
2. Bendungan Sutami sudah berusia sekian 52 tahun, memang perlu revitalisasi
Sementara itu, Direktur Perum Jasa Tirta (PJT) 1 Kota Malang, Fahmi Hidayat mengungkapkan kalau usia Bendungan Sutami kini sudah mencapai sekitar 52 tahun. Sehingga sidah pasti bendungan ini mengalami proses sedimentasi atau pendangkalan karena ada erosi di hulu yang terangkut oleh aliran sungai yang kemudian terendap di waduk.
"Semua bendungan di dunia mengalami sedimentasi, hanya laju dan tingkat kekritisannya ini berbeda-beda, tergantung catchment area dan daerah tangkapan airnya. Kalau lihat Sutami, kondisinya sangat terbuka itu yang memicu erosi permukaan yang tinggi, kemudian membawa (lumpur) di bawah oleh aliran air di sungai, jadilah pengendapan atau sedimentasi," jelasnya.
Oleh karena itu, Fahmi menegaskan jika Bendungan Sutami harus terus berfungsi selamanya, tidak boleh sampai penuh karena prosea sedimentasi. Jika tidak maka banjir akan semakin sulit dikendalikan, kemudian ketersediaan air bersih akan menurun, dan kemudian listrik yang dihasilkan oleh PLTA akan menurun kapasitasnya.
"Kalau Bendungan Sutami penuh, kita akan sulit mencari lokasi untuk bendungan besar sebagai penggantinya Sutami. Pasti dari sisi lokasi tidak ada, pasti dari dampak sosial dan lingkungan besar, finansial juga memerlukan biaya konstruksi yang besar. Jadi kita akan jaga mati-matian Bendungan Sutami," ujarnya.
3. Seminar Nasional KNIBB diadakan untuk mencari solusi dari berbagai permasalahan bendungan besar di Indonesia
Lebih lanjut, Fahmi menjelaskan kalau Seminar Nasional KNIBB ini memang kegiatan rutin tahunan yang digelar di kampus-kampus Indonesia. Di sinilah berkumpul para praktisi, akademisi, dan peneliti yang selama ini bergerak di bidang bendungan. Mereka berkumpul memaparkan berbagai permasalahan yang ada di bendungan besar Indonesia, salah satunya masalah di Bendungan Sutami.
Fahmi juga mengatakan jika tidak hanya Menteri PU yang hadir, Kepala BMKG juga akan hadir dalam acara ini. Pasalnya tema yang dibawa tahun ini adalah tentang perubahan iklim yang mempengaruhi sumber daya air dan pengelolaan bendungan.
"Pengelolaan bendungan harus andal, dengan adanya dampak perubahan iklim kita bisa melakukan mitigasi dan adaptasi, sehingga bendungan itu bisa berlanjut manfaatnya. Kemudian memanfaatkan semua yang selama ini telah mendapat manfaat mulai menggalang banjir, kemudian penyediaan air baku, PLTA, pariwisata, dan lain sebagainya. Sehingga itu bisa terjaga sampai generasi ke depan," pungkasnya.
Curated For You
- Bendungan Sengguruh Flushing, Masyarakat Sekitar Brantas Harap Waspada05 Oct 2026, 17:59 WIB