Menteri LH: Surabaya Kota Terbaik Pengolahan Sampah, Tapi Ada Catatan

- Surabaya dinobatkan sebagai kota terbaik nasional dalam pengelolaan sampah dengan nilai 74,92 dan predikat Sertifikat Menuju Kota Bersih oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
- Menteri LH Hanif Faisol memuji kebersihan Surabaya yang sebanding dengan kota Eropa, serta tingkat pengendalian sampah mencapai 95 persen tertinggi di Indonesia.
- Pemerintah berencana menambah fasilitas PSEL untuk menampung sampah daerah sekitar, namun masyarakat diminta tetap memilah sampah dari hulu agar efisien dan tidak membebani APBD.
Surabaya, IDN Times - Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq menyebut Surabaya merupakan kota terbaik pengolahan sampai di Indonesia. Tetapi, masih ada catatan yang perlu dibenahi oleh Pemkot Surabaya.
Hal itu dikatakan Hanif saat kegiatan kerja bakti di Sungai Kalimas Surabaya, Jumat (6/3/2026). Kerja bakti tersebut merupakan bagian dari program Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).
Hanif mengaku bangga dengan kondisi kota Surabaya yang bersih, terutama jalan-jalan protokol yang disebut sebanding dengan kota di Eropa. Ia juga bangga dengan pengolaan sampah di Surabaya yang disebut terbaik di Indonesia.
"Ya, saya bangga, bangga dan bangga ya. Surabaya kota terbaik pengelolaan sampah nasional. Jadi, kota ini secara visual di jalan protokolnya sudah sebanding dengan kota-kota besar, kota-kota Eropa yang memiliki budaya sampah yang cukup sangat tinggi. Ini sudah sangat mewakili. Kemudian pada saat kita masuk ke lebih dalam, Kota Surabaya juga cukup banyak berbenah diri," ujarnya.
Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia tentang Penilaian Kinerja Pengelolaan Sampah Tahun 2025, Surabaya ditetapkan sebagai Kota Terbaik I dalam Pengelolaan Sampah dengan predikat Sertifikat Menuju Kota Bersih, dengan perolehan nilai 74,92.
"Nilainya cukup sangat tinggi dan tertinggi nasional. Untuk itu kami terima kasih," terangnya.
Menurut Hanif, pengendalian sampah di Surabaya saat ini mencapai 95 persen dan tertinggi di Indonesia. Dia menyebut tak ada kota besar di Indonesia yang mampu menyelesaikan masalah sampah sebaik Surabaya.
"Kita tidak pernah menyangka kota yang sebesar ini mampu menyelesaikan sampah. Hampir tidak ada. Hampir tidak ada di Indonesia kota besar yang bisa menyelesaikan sampahnya. Semua terpuruk dan kedaruratannya cukup sangat tinggi, pencemaran dan masalahnya juga sangat besar. Nah, itu Surabaya selesai," jelasnya.
Penanganan sampah di Surabaya juga tak lepas dari adanya Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Kini, pihaknya tengah merencanakan pembangunan PSEL di Surabaya yang nantinya bisa menampung sampah dari Kabupaten lain di sekitar Kota Surabaya. Sehingga di Surabaya nantinya akan ada dua PSEL.
"Dan kemudian 95 persen tadi akan selesai di beberapa tahun ke depan untuk PSEL dengan bergabung dengan Kabupaten Kota yang di sebelah Surabaya," sebut dia.
Namun demikian, pihaknya berharap agar proyek pengolaan sampah tak boleh membebankan APBD dan APBD. Untuk itu, dirinya menekankan masyarakat agar melakukan pemilahan sampah secara mandiri dari hulu.
"Kita tahu persis untuk PSEL ini biayanya cukup sangat mahal ya untuk tahun depan aja untuk program baru 20 sen dolar per KWH ini cukup sangat besar, maka kami tetap tetap meminta Pak Walikota dan sudah mulai ya untuk masyarakatnya tetap pilah. Jadi pilah ini teknologi paling mutahir dalam penanganan sampah," sebutnya.
Menurutnya, tak ada teknologi pengolaan sampah yang lebih baik selain pemilihan dari hulu. Selain memiliki nilai ekonomi, pemilahan diharapkan bisa menurunkan jumlah residu sampah yang masuk di PSEL.
"Jadi PSEL ini penanganan residu saja. Jadi benar-benar tujuan dari Undang-undang nomor 18 2008 menjadikan sampah sebagai sumber daya menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat ini terwakili di Surabaya. Kami juga melihat kualitas udara juga cukup relatif bagus," sebut dia.
Meski Surabaya disebut kota bersih, Hanif pun memberi catatan Khusus bagi Kota Surabaya terkait dengan pengolaan air. Terlebih, aliran sumber air di Surabaya ini berasal dari kabupaten lain.
"Kemudian mungkin yang jadi PR Pak Walikota karena ini sifatnya lintas kota yaitu kualitas air. Kualitas air harus ditingkatkan," pungkas dia.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan, pengolaan sampah di Surabaya dilakukan sejak dari hulu, salah satunya lewat pemihan. Selain Kampung-kampung, restoran dan hotel di wajibkan untuk memilah sampahnya.
"Ketika memilah sampah sendiri, truk pengangkut sampahnya tidak boleh terbuka," ujar Eri. Dengan pengolaan sampah lewat pemilihan, Eri berharap beban APBD bisa berkurang.

















