Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Korban Meninggal Karhutla Bromo Bertambah Jadi Enam Orang

Kota Surabaya
2 min read
Korban Meninggal Karhutla Bromo Bertambah Jadi Enam Orang
ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Matt Palmer)
  • Korban meninggal akibat karhutla di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru bertambah menjadi enam orang setelah Suraji, 44 tahun, meninggal di RSUD dr Soetomo Surabaya.

  • Suraji mengalami luka bakar 49 persen, trauma inhalasi, serta komplikasi infeksi berat hingga syok sepsis meski telah menjalani perawatan intensif dengan ventilator.

  • Kebakaran terjadi di kawasan konservasi TNBTS pada 15 Oktober 2026; penyebab kebakaran dan faktor kematian korban masih diselidiki polisi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Korban meninggal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali bertambah satu Jumat (23/10/2026). Korban adalah Suraji (44) yang sempat dirawat di RSUD dr Soetomo Surabaya.

Total korban meninggal Karhutla TNBTS kini menjadi enam orang. Sebelumnya, Munawi yang juga sempat dirawat di RSUD dr Soetomo meninggal dunia pada Senin (19/10/2026).

Staf Instalasi Hukum, Humas, dan Pemasaran di RSUD Dr. Soetomo Surabaya membenarkan kabar meninggalnya Suraji. Suraji meninggal hari ini Pukul 12.00 WIB.

"Korban kedua kebakaran Bromo,Tuan S (44), yang menjalani perawatan intensif di ruang ROI, dinyatakan meninggal dunia pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 12.00 WIB," ungkap Niken kepada IDN Times.

Niken menyebut, Suraji tersebut mengalami luka bakar berat sekitar 49 persen luas permukaan tubuh, terutama pada area wajah hingga dada. Pasien juga disertai cedera saluran pernapasan akibat menghirup udara panas dan asap atu trauma inhalasi.

" Selama perawatan, pasien memerlukan bantuan mesin pernapasan (ventilator)," terang Niken.

Dalam perkembangannya, pasien mengalami sejumlah komplikasi, terutama infeksi berat, infeksi paru, anemia, penurunan kadar protein darah, dan gangguan keseimbangan elektrolit. Tim medis telah memberikan penanganan intensif meliputi pemberian cairan, antibiotik, transfusi darah, pemberian protein, koreksi elektrolit, serta penanganan luka bakar.

"Sejak pagi hari (23/10/2026), kondisi pasien mengalami perburukan akibat syok sepsis, yaitu komplikasi infeksi berat yang menyebabkan gangguan sirkulasi darah dan fungsi organ vital. Tim medis telah melakukan berbagai upaya penanganan intensif, namun kondisi pasien terus menurun hingga dinyatakan meninggal dunia pada pukul 12.00 WIB," pungkas dia.

Sebelumnya, kebakaran terjadi di kawasan konservasi TNBTS Probolinggo pada Kamis (15/10/2026) malam. Sejumlah petugas dan relawan berupaya membantu pemadaman kebakaran di kawasan konservasi TNBTS. Polisi menyebut sekitar 12 orang, terdiri dari petugas TNBTS, anggota Masyarakat Peduli Api, dan karyawan hotel, bergerak menuju lokasi setelah menerima informasi kebakaran.

Sekitar pukul 13.30 WIB, sejumlah petugas menerima kabar bahwa rekan-rekan mereka meminta pertolongan karena terjebak kobaran api dan asap pekat. Saat tim lain tiba, tiga orang ditemukan meninggal dunia dan sejumlah korban lainnya mengalami luka bakar.

Tim Inafis dan penyidik Reskrim Polres Probolinggo sebelumnya telah diterjunkan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa sejumlah saksi. Hingga kini, penyebab awal kebakaran maupun faktor yang menyebabkan para korban meninggal dunia masih dalam penyelidikan. Atas peristiwa ini, enam orang meninggal dunia.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More