Kisah Sekolah Putri Katolik Pertama di Malang

Malang, IDN Times - Masyarakat Kota Malang pasti sudah tidak asing dengan TK, SD, SMP, dan SMA/SMK Cor Jesu. Maklum, sekolah yang terletak di Jalan Jaksa Agung Suprapto Nomor 55, Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang ini sudah berdiri lebih dari satu abad. Apalagi, sekolah yang juga dilengkapi dengan asrama putri ini merupakan salah satu sekolah Katolik pertama dan terbesar di Malang Raya. Sekolah ini mengalami pasang surut sejak masa kolonial.
1. Sejarah pendirian Sekolah Katolik Cor Jesu Malang

Suster di Sekolah Katolik Cor Jesu Malang, Lucia Anggraini (60) menceritakan jika sekolah ini pertama kali didirikan pada 1 Maret 1900. Ia mengatakan jika pendirian sekolah ini didasarkan perkembangan perkebunan Kopi Afdeling di Malang. Orang-orang Belanda yang awalnya bermukim di Surabaya akhirnya bermigrasi ke Malang untuk menjadi tuan tanah.
Sebanyak 187 orang pastor yang berada di Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria Kota Surabaya pun dipanggil ke Gereja Kayutangan Malang. Mereka diminta untuk mendirikan sekolah Katolik putri pertama di Malang.
Saat itu, sekolah pertama yang didirikan adalah Taman Kanak-Kanak (TK). Kemudian pada 1 mei 1900 dilanjutkan dengan mendirikan Sekolah Dasar (SD), lalu 20 tahun kemudian didirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat itu, Cor Jesu menjadi sekolah Katolik khusus putri pertama di Malang Raya yang memberi pendidikan umum pada murid-muridnya.
"Berdirilah sekolah TK pada tahun 1900 itu. Sekolah ini dibangun pelan-pelan dalam tiga tahap dengan 300 sampai 400 orang pekerja. Dana pembangunannya nyicil hingga ngutang, lalu para suster awalnya ditempatkan di bangunan kecil karena biara baru dibangun pada 1933," terangnya saat dikonfirmasi pada Kamis (21/12/2023).
Perempuan yang akrab disapa Suster Usi ini mengatakan jika pada tahun pertama pendirian, murid mereka hanya 9 orang saja yang merupakan siswi TK. Baru pada tahun 1920 jumlah siswa mereka bertambah banyak karena sekolah SD dan SMP sudah berdiri. Ini juga yang membuat keuangan Sekolah Katolik Cor Jesu mulai stabil dan mampu membangun biara, kapel, asrama, Gereja, hingga bunker di dalam sekolah.
2. Sempat dilarang menerima siswi Pribumi oleh Pemerintah Hindia-Belanda

Tapi, Suster Usi menceritakan jika saat itu hanya anak-anak perempuan keturunan Belanda saja yang diterima di sana, sesuai keputusan dari Pemerintah Hindia-Belanda. Sementara anak-anak Pribumi dilarang untuk ikut bersekolah meskipun menginginkan pendidikan. Alasan ras dan mayoritas dari mereka beragama Islam yang dipersoalkan pemerintah.
"Kami berusaha merangkul ketika pemerintah tahu ada anak pribumi ingin bersekolah, mereka yang datang ke sekolah disuruh pulang. Melihat itu kami menangis, karena kami tidak melihat ras atau agama, karena concern kami pada pendidikan," ucapnya.
Para suster akhirnya membuat kursus-kursus untuk para anak-anak Pribumi. Jika siswa resmi bersekolah pada pagi hingga siang hari, para anak-anak pribumi mendapatkan pendidikan pada sore hari seperti bermusik, drama, hingga menyanyi. Namun, para anak Pribumi ini tidak mendapatkan ijazah meskipun sudah lulus di sana, ini akibat pelarangan dari Pemerintah Hindia-Belanda. Kegiatan-kegiatan itulah yang membuat Cor Jesu mulai mendapat tempat di hati masyarakat Malang.
3. Titik terendah Sekolah Katolik Cor Jesu Malang adalah saat penjajahan Jepang

Nyaris setengah abad berdiri, Cor Jesu melewati masa-masa sulit mereka. Momen itu datang kala Jepang ke Indonesia pada awal 1942. Maklum, serdadu Dai Nippon sangat membenci peninggalan-peninggalan barat. Mereka selalu berusaha memusnahkan bangunan dan orang-orang Eropa di Indonesia.
"Saat itu suster kepalanya adalah Suster Inigo Prawirataraoena, berkat perjuangan beliau sekolah ini jadi satu-satunya yang bertahan. Bahkan, gendang telinga beliau pecah karena ancaman Jepang yang menembakkan pistolnya di dekat telinga beliau," bebernya.
Meskipun demikian, tentara Jepang tetap menangkapi para suster yang berkebangsaan Belanda, Inggris, hingga Perancis. Mereka dibawa ke kamp konsentrasi yang ada di Solo pada 1942 hingga 1946.
"Yang tidak dibawa oleh tentara Dai Nippon hanya suster keturunan Pribumi. Sementara suster keturunan Indo (Belanda-Pribumi) ada yang ditangkap dan ada yang lolos, kalau wajahnya terlihat lebih Eropa pasti tidak selamat," bebernya.
4. Sekolah Katolik Cor Jesu sempat dibakar Tentara TRIP Malang saat agresi militer Belanda

Setelah Jepang angkat kaki dan Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, ancaman terhadap eksistensi Cor Jesu bukannya usai. Saat Belanda melancarkan agresi militer, para suster dipaksa membakar gereja mereka sendiri. Bukan tanpa alasan. Hal itu mereka lakukan atas permintaan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Tujuannya agar gereja itu tak digunakan sebagai markas tentara Belanda.
Setelah para suster dan siswa diungsikan, gereja sekolah katolik Cor Jesu pun dibakar pada 30 Juli 1947. "Saya diceritakan bau minyak tanah sangat tercium dan kami melihat pembakaran itu, sementara anak-anak dikosongkan dan suster diungsikan ke kapel. Peninggalan ini mau dihancurkan, antara sedih dan senang karena ini demi merdeka," bebernya.
Setelah dibakar, sekolah ini dibiarkan selama 4 tahun karena tidak memiliki biaya perbaikan. Kementerian Sosial pada tahun 1951 sempat memberikan kompensasi sebesar Rp256 ribu. Tapi, dana tersebut tidak cukup untuk mengembalikan bangunan ke keadaan semula. Oleh karena itu mereka mengumpulkan sumbangan untuk memperbaiki bangunan dan sekolah bisa beraktivitas secara normal.
"Para suster sangat senang karena sekolah kembali bisa dibangun setelah 4 tahun terbakar. Tapi ada kesedihan karena kami hanya mampu membangun satu lantai saja, tidak seperti sebelumnya yang terlihat indah karena memiliki 2 lantai," tuturnya.
5. Setelah kemerdekaan Indonesia, mereka membangun SMA dan menerima siswa laki-laki

Pada 15 Juli 1951, Sekolah Katolik Cor Jesu Malang mendirikan Sekolah Menengah Atas (SMA) khusus putri. Tapi pada 1970-an para orang tua meminta agar Cor Jesu menerima siswa laki-laki juga. Sehingga diterima juga para siswa laki-laki di sekolah ini untuk pertama kalinya. Meskipun demikian, asrama siswa hanya diperkenankan untuk murid-murid perempuan saja.
"Setelah tahun 1978 ada undang-undang untuk membuka sekolah bagi laki-laki. Jadi kami baru menerima siswa laki-laki setelah kemerdekaan, sementara Sekolah Ursula Jakarta masih mempertahankan sekolah khusus perempuan hingga saat ini," ujarnya.
Lalu pada Januari 1976 berdiri Sekolah Menengah Kejuruan Katolik (SMKK) yang dulunya merupakan Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) pada 1950 dan berubah menjadi Kesejahteraan Keluarga Atas (SKKA) pada 1965. Ini dilakukan demi mengikuti perkembangan pendidikan di Indonesia.
6. Sekolah Katolik Cor Jesu Malang ditetapkan sebagai cagar budaya pada 2018

Pemerintah kemudian menetapkan Sekolah Katolik menetapkan Sekolah Katolik Cor Jesu sebagai cagar budaya pada 2018. Hingga saat ini bangunan sekolah ini masih asli peninggalan abad 19. Jendela-jendela dan kusen jendela pintu juga masih asli. Bahkan, ada satu koleksi piano produksi Jerman tahun 1875 yang masih tersimpan.
Tidak hanya itu, mereka juga masih memiliki peralatan makanan peninggalan suster mereka pada abad 19. Peralatan makan itu milik suster dari berbagai negara seperti Belanda, Ceko, Jerman, Inggris, hingga Jepang. Peralatan ini kini tertata rapi di Museum Cor Jesu Malang.
"Mereka membawa peralatan makan karena takut karena tidak bisa makan di tempat baru. Para suster berkebangsaan macam-macam dan uniknya ada yang dari negara berkonflik di Perang Dunia 2, tapi ketika di ruang makan tidak boleh membicarakan tentang Perang Dunia 2," paparnya.
Yang unik, hingga saat ini Sekolah Katolik Cor Jesu Malang sering didatangi oleh orang-orang keturunan Belanda. Mereka ternyata merupakan anak hingga cucu dari siswa yang dulu bersekolah di sini. Mereka ingin melakukan napak tilas orang tua dan kakek mereka yang duku bersekolah di sini. "Mereka bicara ingin merasakan seperti saat mamanya berjalan di lorong-lorong ini. Saya juga mencarikan dokumen raport orangtuanya dulu, dan ternyata memang ada," tutupnya.



















