Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kiai Sepuh Pertemuan di Lirboyo, Minta Muktamar ke-35 NU Tanpa Intervensi

Kab. Kediri
Kiai Sepuh Pertemuan di Lirboyo, Minta Muktamar ke-35 NU Tanpa Intervensi
Pertemuan para kiai sepuh di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026). Dok. Istimewa.
  • Kiai sepuh NU di Lirboyo menerbitkan tujuh poin tausiah menjelang Muktamar ke-35, meminta muktamirin menjaga marwah organisasi dan memakai hak pilih secara bertanggung jawab.
  • Muktamirin diminta memilih pemimpin terbaik bagi kemaslahatan NU, mengutamakan musyawarah, persatuan, adab, serta menolak provokasi, tekanan, transaksi, dan konflik.
  • Kiai sepuh meminta pemerintah serta pihak politik menghormati kemandirian NU, mendesak Presiden Prabowo menindak pejabat yang mengintervensi, dan siap menyampaikan keprihatinan langsung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kediri, IDN Times - Sejumlah kiai sepuh mengeluarkan tujuh poin tausiah menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Mereka meminta seluruh muktamirin menjaga marwah jam’iyyah, menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab, serta menolak segala bentuk tekanan, provokasi, transaksi dan intervensi dalam proses muktamar.

Tausiah tersebut disampaikan seusai pertemuan para kiai sepuh di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026).

Pertemuan berlangsung sekitar satu jam dan dihadiri sejumlah tokoh senior NU, di antaranya Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur dan KH Abdullah Kafabihi Mahrus dari Lirboyo, KH ‘Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Mu’adz Thohir dari Kajen, KH Abdullah Ubab Maimoen dari Rembang, serta KH Muhibbul Aman Aly dari Pasuruan.

KH Ma’ruf Amin mengatakan, tausiah tersebut terutama ditujukan kepada para muktamirin sebagai pemegang hak utama dalam menentukan arah kepemimpinan NU. Mereka diminta tidak mudah dipengaruhi dan menggunakan haknya untuk memilih sosok yang dinilai paling baik bagi kepentingan jam’iyyah.

“Tausiah ini artinya untuk mengingatkan, pertama, kepada para muktamirin sebagai pemegang hak utama supaya dia menggunakan haknya dengan baik, jangan terintimidasi dengan terkena provokasi, memilih yang terbaik, baik AHWA maupun juga pengurus NU yang akan datang,” tegas Kiai Ma’ruf.

Ia menekankan, pilihan dalam muktamar bukan semata-mata menyangkut kepentingan pribadi maupun kelompok. Muktamirin harus mempertimbangkan kemaslahatan NU dan memilih kepemimpinan yang mampu membawa organisasi ke arah yang lebih baik.

Kiai Ma’ruf bahkan mengingatkan adanya konsekuensi moral bagi pihak yang sengaja memilih pemimpin yang dinilai tidak baik ketika mengetahui terdapat pilihan yang lebih baik. “Jadi khianat kepada Nabi, khianat kepada pendiri (NU). Apalagi kalau memilihnya itu ada sesuatu, maka dosanya menjadi bertambah,” ujarnya.

Sementara itu, tujuh poin tausiah kiai sepuh tersebut dibacakan KH Muhibbul Aman Aly. Salah satu pesan utama adalah agar Muktamar ke-35 NU dijalankan dengan adab dan akhlakul karimah serta dijauhkan dari tindakan yang dapat memicu pertikaian.

Para muktamirin juga diminta menjalankan musyawarah dengan akal sehat, hati yang jernih dan akhlak yang mulia. Dalam menentukan pemimpin, mereka diminta mengutamakan kemaslahatan jam’iyyah, memperkuat persatuan dan menghindari konflik.

Perhatian khusus juga diberikan terhadap proses penentuan Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA). Para kiai meminta kehormatan dan martabat ulama yang terlibat dalam mekanisme tersebut dijaga. Prosesnya harus bebas dari transaksi, tekanan, rekayasa maupun tindakan lain yang dinilai dapat mencederai kemuliaan ulama.

Para kiai juga menegaskan posisi muktamirin sebagai pemegang kedaulatan dalam forum Muktamar. Maka, kebebasan mereka dalam menyampaikan pendapat dan menentukan pilihan harus dihormati.

Seruan juga diarahkan kepada pemerintah, kekuatan politik dan seluruh pihak di luar jam’iyyah. Mereka diminta menghormati kemandirian NU serta kedaulatan Muktamar dan tidak melakukan tindakan yang dapat dipersepsikan sebagai pengondisian atau intervensi terhadap proses maupun keputusan Muktamar.

Dalam tausiah tersebut, para kiai juga menyampaikan kepercayaan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan pemerintah menghormati kemandirian NU. Presiden diminta mengambil tindakan tegas apabila terdapat pejabat yang melakukan tindakan tidak patut dan dapat dinilai sebagai intervensi terhadap proses Muktamar.

Para kiai sepuh menyatakan siap menghadap Presiden untuk menyampaikan informasi sekaligus sejumlah hal yang menjadi keprihatinan terkait penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU.

Mereka juga menyerukan kepada pihak-pihak yang dinilai mengacaukan proses Muktamar agar menghentikan tindakan tersebut dan mengembalikan seluruh proses pada prinsip musyawarah, persatuan dan kehormatan jam’iyyah.

“Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa menjaga, melindungi dan membimbing Nahdlatul Ulama,” pungkas Kiai Aly.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More